Selasa, 19 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Genteng
icon featured
Genteng

Becak Motor Bisa Angkut Orang dan Ikan

14 Januari 2021, 20: 20: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

LEBIH RINGKAS: Bentor dibuat mengantar ikan dari Pelabuhan Muncar menuju pabrik pengalengan di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, kemarin (13/1).

LEBIH RINGKAS: Bentor dibuat mengantar ikan dari Pelabuhan Muncar menuju pabrik pengalengan di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, kemarin (13/1). (KRIDA HERBAYU/JPRG)

Share this          

JawaPos.com – Meski sudah sering dirazia polisi karena dianggap tidak layak dan illegal, becak motor (betor) masih cukup marak di wilayah Kecamatan Muncar, terutama di sekitar pelabuhan. Angkutan modifikasi itu, kini menjadi angkutan favorit bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai.

Selain untuk mengantarkan penumpang, betor juga digunakan untuk mengangkut hasil tangkapan ikan nelayan. Ikan yang baru ditangkap nelayan, dibawa ke pabrik pengalengan ikan menggunakan betor. “Saya setiap hari naik betor,” terang Hartini, 47, warga Dusun Sampangan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar.

Perempuan paro baya yang setiap harinya jualan buah dan sayuran di Pasar Muncar, itu mengaku menggunakan jasa bettor setiap ke pasar atau mengantarkan barang dagangannya. “Selain praktis, biayanya juga murah,” dalihnya.

Di wilayah Kecamatan Muncar, betor ini biasa digunakan mengangkut penumpang atau orang, untuk mengangkut barang, dan mengangkut ikan hasil tangkapan nelayan. “Warga itu lebih suka naik betor,” cetus Imam Safii, 48, pengemudi betor asal Dusun Muncar Lama, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar.

Menurut Imam, betor dianggap lebih mudah mengangkut barang dan  penumpang, ketimbang becak kayuh. Selain lebih cepat, juga tidak membuat capek. “Banyak pemilik becak kayuh menjadi betor,” terangnya.

Merubah becak kayuh menjadi betor, jelas dia, itu sangat mudah. Saat ini, di wilayah Kecamatan Muncar itu hampir 70 persen becak kayuh telah dimodifikasi menjadi betor. Dan itu, untuk memudahkan dalam mengantar penumpang dan barang. “Sehari penghasilan antara Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu,” jelasnya.

Untuk memodifikasi betor, terang dia, hanya memerlukan mesin sepeda motor dan digabungkan dengan rangka becak. Untuk memodifikasi betor, membutuhkan biaya sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. “Tapi pemilik becak kayuh juga masih banyak yang enggan memodifikasi becaknya,” sebutnya.

Bagaimana hubungan pemilik betor dengan pemilik becak kayuh, Imam menyebut selama ini tidak ada masalah. Tidak pernah berebut penumpang, dan saling berbagi. “Selama ini bisa rukun,” katanya.

Penegasan itu juga disampaikan Rahmad, 52. Pemilik becak kayuh asal Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, itu mengatakan penghasilannya dengan pemilik betor jauh berbeda. Jam terbang pengemudi becak kayuh, tidak sepadat pengemudi betor. Dalam sehari, betor bisa mengangkut lima  hingga enam kali penumpang atau barang. Sedangkan becak kayuh, sehari hanya sanggup membawa tiga hingga empat kali angkutan. “Penghasilan antara Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu dalam sehari,” cetusnya.

Rahmad mengaku ingin mengubah becak kayuhnya menjadi betor. Tapi karena terkendala biaya, ia tidak dapat memodifikasi becaknya. “Masih menabung dulu, nanti kalau banyak bisa dibuat memodifikasi becak,” ujarnya.

Meski penghasilannya masih kalau dengan pemilik betor, ia tidak pernah iri dengan pengemudi betor. Sebab, sesama penyedia jasa angkutan saling berbagi satu sama lain. “Di sini sangat rukun, tidak pernah berebut penumpang,” ungkapnya.(kri/abi)

(bw/kri/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia