Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Seorang Progeria, Pengubah Impossible Menjadi I’m Possible

Oleh: Teguh Prasetio*

13 Januari 2021, 15: 15: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Seorang Progeria, Pengubah Impossible Menjadi I’m Possible

Share this          

SAM Berns, pada usia 2 tahun, didiagnosis mengidap progeria. Penyakit langka yang diderita 350 anak di seluruh dunia saat ini, akibat dari protein yang abnormal yang melemahkan struktur sel yang membuat seseorang menua dengan cepat. Rambut tidak tumbuh, kulit keriput, ukuran tubuh lebih kecil. Bobot menjadi kurang/tidak normal, penumpukan plak di arteri, stroke, katarak, radang sendi, dan dislokasi pada tulang panggul. Juga menimbulkan penyakit jantung, menyebabkan stres, dan kematian dini (tidak dapat berumur panjang). Kengerian progeria membuat kematian seolah berada di depan mata.

Tepat sebelum kematiannya pada 10 Januari, Sam Berns adalah seorang siswa di sekolah menengah di Foxboro, Massachusetts, di mana dia meraih penghargaan nilai tertinggi dan menjadi pemimpin bagian perkusi di marching band sekolah menengah. Dia juga mencapai peringkat Eagle Scout di Boy Scouts of America (Pramuka), menjadi mentor marching band.

Dia tampil dalam film dokumenter pemenang penghargaan Emmy dengan judul Life According to Sam, yang ditayangkan perdana di HBO pada 21 Oktober 2013. Ibu Sam, rekan tim ilmuwan, dan Sam, berhasil menerbitkan jurnal penelitian tentang perawatan progeria yang pertama. Karena hal ini, Sam diwawancarai di acara TV nasional NPR dan John Hamilton bertanya kepada Sam ”Apa hal terpenting yang harus diketahui orang lain mengenai kamu?”

Kematian adalah hal yang pasti, tapi bagaimana kita akan menjalani hidup ini adalah pilihan bebas buat kita. Sam menjawab, dia ingin memiliki hidup yang bahagia. Jadi, meski menemui banyak hambatan dalam hidupnya, yang banyak di antaranya disebabkan oleh progeria, Sam tidak ingin orang lain menjadi sedih. Dia berhasil mengatasi sebagian besar dari hambatan yang datang. Paragraf sebelumnya adalah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang progeria, tapi Sam berhasil membuatnya menjadi mungkin.

Saya ingin berbagi, bagaimana seorang Sam menghadapi putus asa, hambatan, kesulitan, kemustahilan yang datang dalam hidupnya, dan mengubahnya menjadi peluang dan kesempatan yang dapat membuatnya memiliki hidup yang bahagia.

Tiga aspek filosofi dan yang pertama dari Ferris Bueller: ”Hidup bergerak dengan cepat. Jika kamu tidak berhenti dan melihat sekitarmu sesekali, maka kamu bisa melewatkannya”. Filosofi pertama Sam adalah: saya OK saja dengan apa yang tidak bisa saya lakukan. Karena masih banyak hal yang masih bisa saya lakukan.

Progeria telah banyak membatasi hidup Sam. Mulai dari olahraga yang bisa dia mainkan, hobi yang bisa dipilih, kegiatan yang bisa dilakukan karena progeria membuat fisik menjadi lemah, penampilan yang berbeda, dan masih banyak lainnya.

Banyak orang yang bertanya, ”Apakah sulit hidup dengan progeria?” atau ”Tantangan apa yang kamu hadapi karena kamu mengalami progeria?” dan meskipun Sam sakit progeria, kebanyakan waktunya digunakan untuk memikirkan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan progeria sama sekali.

Ketika Sam tidak bisa melakukan sesuatu yang disuka seperti lari jarak jauh, atau naik roller coaster, dia tahu apa yang terlewati, meskipun begitu dia memilih fokus pada kegiatan-kegiatan yang bisa dia lakukan yang masih disukai, seperti Pramuka, musik, atau buku komik, atau melihat tim favoritnya bertanding, dan marching band.

Umumnya, seorang progeria tidak bisa ikut marching band. Apalagi bagian drum. Karena berat drum yang mencapai 20 kg. Sedangkan berat seorang progeria sekitar 25 kg. Sehingga tidak mungkin membawa drum yang begitu berat bagi dia. Meski begitu, dia melakukan penyesuaian dengan mengundang teknisi untuk membuat snare drumnya sendiri. Sehingga jadi snare drum dengan berat hanya 3 kg saja. Dia berhasil memainkan marching band dengan judul Spider-Man di Foxboro High School Marching Band pada waktu jeda permainan saat itu.

Filosofi berikutnya adalah lingkari dirimu dengan orang-orang yang Anda inginkan. Orang-orang yang berkualitas tinggi. Sam beruntung, karena memiliki keluarga yang luar biasa. Yang selalu mendukung sepanjang hidupnya. Juga sangat beruntung karena memiliki teman main yang akrab dan baik. Mereka menikmati kebersamaan mereka. Saling membantu ketika ada yang mengalami kesulitan. Melihat satu sama lain atas pribadi ketimbang fisik, karena penampilan seorang progeria berbeda.

Meskipun berhasil membuat dokumenter, masuk TV beberapa kali, namun titik terbahagia Sam adalah ketika dikelilingi oleh orang-orang yang hadir dalam kesehariannya. Karena mereka memberikan pengaruh positif yang sesungguhnya dalam hidup.

Oleh karena itu, saya berharap Anda dapat menghargai dan mencintai keluargamu, mencintai temanmu, mencintai saudaramu, dan menghargai mentor/ guru-gurumu, dan komunitasmu. Karena mereka adalah aspek yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari Anda yang dapat memberikan dampak positif yang sangat signifikan.

Filosofi ketiga adalah terus maju ke depan. Walt Disney: di sini, kami sudah lama tidak melihat ke belakang. Kami terus bergerak maju, membuka pintu baru, dan melakukan hal-hal baru. Menghadapi penyakitnya, Sam selalu mencoba melakukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang membuatnya berjuang untuk membuat hidupnya menjadi lebih kaya, tidak perlu sesuatu yang besar. Bisa apa saja mulai dari buku komik terbitan berikutnya, atau pergi liburan bersama keluarga besar. Atau jalan-jalan dengan teman-teman untuk pergi ke pertandingan sepak bola SMA yang berikutnya.

Semua ini membuat Sam tetap terfokus dan tahu bahwa ada masa depan yang cerah di depan sana. Meskipun mengalami beberapa waktu sulit. Sikap mental seperti ini, termasuk tetap berpikir maju secara pola pikir. Jangan mencoba untuk membuang energi dengan merasa sedih dengan kondisi saat ini. Karena jika melakukan hal itu, maka akan terjebak dalam paradoks di mana tidak ada ruang sama sekali untuk kebahagiaan atau emosi lainnya.

Ketika merasa sangat buruk, Sam tidak mengabaikannya, bahkan menerimanya. Sam membiarkan perasaan itu datang kemudian mengakuinya, dan melakukan apa yang perlu dilakukan untuk melaluinya. Ketika seorang progeria berhasil mengubah hal yang mustahil menjadi hal yang mungkin, maka tidak ada alasan bagi kita untuk mewujudkan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. (*)

*) Guru MAN 1 Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia