Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom
(Bagian 1)

Suka Duka Seorang Survivor Covid-19

Oleh: Endang Wangi*

13 Januari 2021, 13: 15: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Suka Duka Seorang Survivor Covid-19

Share this          

SETIAP manusia pasti mengalami siklus kehidupan. Ada sehat, sakit, sedih, sampai dengan tertawa bahagia. Saya berbagi kisah melalui tulisan ini, berdasarkan kisah nyata yang saya alami sendiri. Sebagai pasien dan sekaligus korban dari keganasan virus Covid-19. Agar kita semua selalu menjaga diri, keluarga, dan lingkungan. Agar semua terhindar dari paparan virus ini.

Saudaraku, virus ini benar-benar ada. Bermula pada Selasa, 3 November 2020. Saya merasakan tenggorokan terasa sakit untuk menelan. Disertai dengan batuk-batuk ringan dan badan serasa panas. Pada saat itu, saya berupaya dengan meminum air teh hangat dan paracetamol.

Tiga hari berselang setelah itu, kondisi tubuh semakin melemah. Seperti orang kecapaian. Lemas, semua sendi serasa sakit. Kepala terasa pusing. Batuk semakin parah dan tiba-tiba indra penciuman hilang. Juga dengan lidah yang terasa kebas, tidak bisa merasakan apa-apa.

Sekilas, pikiran sudah mengarah kepada hal-hal yang negatif. Apakah saya terserang Covid-19? Namun, pikiran itu segera ditepis oleh keluarga. Terutama suami dan anak-anak yang mengatakan, ”Mama sehat, tidak ada penyakit Covid-10”.

Saya pun dengan sekuat hati melawan rasa sakit ini. Karena dibayangi, andai benar saya sakit Covid-19, bagaimana rasa malu kami. Keluargaku pasti akan dikucilkan. Teman dan sahabat pasti akan menjauh. Bayangan di rumah sakit saya akan sendirian. Tidak ada yang boleh menjenguk atau menemani.

Dari sini, saya penuh semangat berjuang untuk sembuh, dengan jalan memakan makanan semampunya mesti lidah terasa kebas. Kepala pusing tetap saya buat aktivitas dengan berjalan pagi dan berjemur. Minum jahe panas dan obat batuk shinshe. Apabila malam datang, itulah malam-malam kelam yang sangat menyiksa. Semua harus saya lalui yaitu kesulitan bernapas. Dada serasa sesak. Jantung berdebar keras. Kepala pusing sekali disertai dengan diare hebat. Bahkan, saya berpikir apakah saya bisa selamat?

Pikiran negatif ini terus saya lawan dengan jalan meminum minyak kayu putih dengan teh panas. Minum Antangin, mengoleskan Plossa ke hidung dan sekujur tubuh. Dengan sekuat tenaga, saya berupaya agar bisa bertahan untuk bisa bernapas dan keinginan kuat untuk terus bertahan.

Sementara itu, anak-anak dan suami semua menuntunku dari luar kamar dengan terus mengajakku untuk membaca istigfar dan ikhlas menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Allah sang pemilik hidup. ”Ayo Mama pasti kuat”. ”Mama bisa bernapas”. ”Tarik napas pelan dan buang napas pelan”. Begitu berulang sampai akhirnya saya bisa tertidur sebentar dengan posisi duduk bersandar.

Setiap malam selalu terjadi serangan penyiksaan seperti itu. Menangis perih hati ini. Namun, tetap harus bisa bertahan.

Alasan Sosial
Keesokan paginya, asisten rumah tangga yang sangat setia menemani keluarga kami membonceng naik motor. Saya dibawa ke bidan dengan kondisi memakai masker dan jaket tetap menerapkan protokol kesehatan. Agar badan saya disuntik vitamin dan beberapa obat. Hasilnya lumayan, badan terasa agak kuat.

Namun setiap malam kembali datang, akhirnya saya menyerah dan meminta agar saya dibawa ke salah satu dokter dengan menyembunyikan semua gejala yang mengarah pada Covid-19. Seperti keluhan kehilangan indra penciuman maupun rasa di lidah. Saya hanya fokus kepada batuk dan pusing.

Demikian hari-hari berlalu saya lalui dengan kesakitan di area dada dan kesulitan bernapas. Bayangan negatif selalu muncul tentang dampak psikis dan sosial yang akan ditanggung keluarga. Bayang-bayang akan dijauhi teman, sahabat, dan orang-orang sekitar selalu datang. Terutama anak-anak, pasti akan merasa kesepian karena tidak bisa lagi aktivitas bersama teman-temannya.

Merasa tertekan dan ketakutan akan dampak negatif, yang meskipun semua itu belum terjadi, masa-masa kelam seperti ini terus menghantui keluarga kami.

Dari keluhan demi keluhan yang setiap hari tidak kunjung mereda, yaitu nyeri di bagian dada, rasa berat atau kesulitan bernapas, batuk kering, sakit di area perut maupun pusing. Serta timbulnya ruam kulit di sekitar dada, bentuknya menyerupai lingkaran uang logam Rp 500 dengan warna merah. Akan tetapi tidak ada rasa gatal atau perih.

Akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa ke salah satu rumah sakit. Dari hasil deteksi awal, cek darah dinyatakan saya sakit typhus (demam typhoid). Lega hati kami rasanya. Karena saya ternyata tidak sakit Covid-19. Karena dari rapid test hasilnya nonreaktif.

Selanjutnya dilanjutkan dengan foto rontgen dada. Inilah yang mengkhawatirkan. Karena ada kelainan yang menyebabkan rasa kurang nyaman di dalam dada. Hasil foto rontgen paru-paru diliputi warna putih di bagian dada sebelah kiri. Juga timbul bercak bercak ruam di kulit yang membentuk lingkaran.

Sampai akhirnya, dokter memutuskan untuk swab test. Hasilnya ternyata positif Covid-19.  Saya menangis. Demikian juga keluarga, sangat sedih dan terpukul. Bayang-bayang dengan hal-hal yang buruk ternyata benar-benar terjadi dan menimpa keluarga kami.

Apa boleh buat, hidup harus terus dijalani dan pasrah kepada apa yang sudah ditakdirkan Tuhan kepada kami. Terutama saya sebagai pribadi, yang harus tetap hidup dan berjuang untuk melanjutkan roda kehidupan ini. Kesadaran positif mulai tumbuh seiring dengan waktu berjalan. Mau bagaimana lagi, saya sudah ikhlas dan menyerahkan sepenuhnya kebijakan dokter dan rumah sakit.

Saya harus dirawat penuh dan ditempatkan khusus di salah satu kamar bersama dengan sesama para penderita Covid-19. Keputusan untuk mau menerima dan dirawat di rumah sakit adalah keputusan yang paling tepat. Agar semuanya lebih aman. Terutama keluarga, suami dan anak-anak, akan dijauhkan dari sumber penularan penyakit. Agar keluarga tetap nyaman dan sehat. Meskipun dalam hati mereka merasa sedih, karena harus berpisah sementara dengan istri dan ibunya. Serta harus mematuhi aturan tidak menjenguk pasien Covid-19. (bersambung)

*) Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia