Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Sembako
icon featured
Sembako

Kedelai Mahal, Ukuran Tempe Makin Mungil

13 Januari 2021, 17: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

DAMPAK KEDELAI MAHAL: Mahmud Basuni menunjukkan tempe yang ukurannya semakin mungil.

DAMPAK KEDELAI MAHAL: Mahmud Basuni menunjukkan tempe yang ukurannya semakin mungil. (DEDY JUMHARDIYANTO/RABA)

Share this          

JawaPos.com – Sejumlah perajin tempe terpaksa mengurangi ukuran untuk menyiasati melambungnya harga kedelai. Mereka mengambil langkah tersebut agar sumber penghasilannya tetap bertahan di tengah mahalnya harga bahan baku tempe.

Sejumlah perajin tempe di Desa/Kecamatan Rogojampi masih tetap rutin memproduksi tempe. Mereka mengaku tidak mengalami kesulitan mendapatkan kedelai di pasaran, hanya saja beberapa perajin mengeluhkan tingginya harga kedelai. ”Kedelai banyak di pasaran, hanya saja harganya lebih mahal dibanding sebulan lalu,” ungkap Mahmud Basuni, salah seorang perajin tempe.

Menurut Basuni, sejak pandemi Covid 19 penjualan tempe lesu. Sebelum pandemi dia bisa memproduksi hingga 30 kilogram, kini hanya tinggal 20 kilogram saja. Parahnya, di tengah penjualan yang belum membaik, kini harga kedelai justru tambah menggila. ”Kini produksi sehari hanya 15 kilogram saja, lebih baik produksi dikurangi daripada tidak laku sama sekali,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Dedy Arif, 42, perajin tempe lainnya asal Desa/Kecamatan Rogojampi. Menurutnya dalam kondisi normal harga kedelai masih Rp 6.500/kg. Biasanya dia bisa memproduksi 40 kilogram kedelai untuk diolah menjadi tempe. Akan tetapi saat ini harga kedelai mencapai Rp 9.300/kg maka otomatis produksinya dikurangi menjadi 20 kilogram. ”Saya pemodal kecil, yang penting hasil sedikit tapi terus. Kalau harganya terus naik, maka produksi otomatis turun,” ungkapnya.

Untuk mendapatkan kedelai, Dedy mengaku tidak terlalu kesulitan. Dia biasa membeli di Pasar Rogojampi. Hanya saja harganya terus meroket. ”Stok kedelai di pasar masih banyak, tinggal beli sesuai kebutuhan saja. Tetapi saya juga harus punya stok karena proses membuat tempe juga butuh waktu tiga sampai empat hari,” katanya.

Guna meraup keuntungan, Dedy tak mungkin menaikkan harga tempe produksinya karena khawatir ditinggal pelanggan. Oleh karena itu, dia memperkecil ukuran tempe produksinya. ”Kami tidak mungkin bertahan, jika tidak mengurangi ukuran. Semoga saja harga kedelai tidak terus naik, sehingga dapat berjualan terus. Kalau bisa segera ada subsidi dari pemerintah khusus bagi kami perajin tempe dan tahu,” pungkasnya. (ddy/afi/c1)

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia