Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Kesehatan
icon featured
Kesehatan

Ingin Sehat? Harus Tetap Aktif Meski Masa Pandemi

12 Januari 2021, 16: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

KONTROL: Dokter dan paramedis melayani konsultasi pasien di RS Islam Fatimah Banyuwangi.

KONTROL: Dokter dan paramedis melayani konsultasi pasien di RS Islam Fatimah Banyuwangi. (RSIF FOR RABA)

Share this          

JawaPos.com - Terhitung hampir setahun, kita melewati pandemi Covid-19. Sejak pertama diumumkan dua warga Indonesia terkonfirmasi covid-19 pada Maret 2020 lalu, banyak hal yang berubah dalam kehidupan kita.

Kebijakan demi kebijakan dibuat untuk menekan persebaran virus ini. Seperti mewajibkan keluar rumah dengan masker bila terpaksa keluar rumah dan penerapan social distancing. Salah satu akibat yang dirasakan adalah kebijakan lockdown di sejumlah pusat perbelanjaan, perkantoran, sekolah, dan tempat-tempat umum lainnya.

Selain itu, banyak orang yang kehilangan lapangan pekerjaan. Anak sekolah terpaksa belajar secara daring di rumah. Para pekerja juga banyak yang melakukan aktivitas kerja dari rumah (work from home). Semuanya ini memiliki maksud, agar semua orang tetap di rumah saja. Sehingga tidak menularkan atau tertular virus ini.

Namun, ada hal lain yang tidak boleh dilupakan ketika kita hanya di rumah. Dokter Umum Rumah Sakit Islam Fatimah (RSIF) Banyuwangi, dr. Juwita Raudlatul Salsabil menyampaikan, istilah imobilisasi adalah kondisi relatif di mana seseorang mengalami penurunan aktivitas. Bisa karena suatu penyakit, sehingga orang tersebut hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Pada kasus saat ini, kata Juwita, pandemi covid-19 yang mengharuskan orang-orang untuk tetap di rumah, menjadi tidak lebih produktif dan aktif. Bahkan sebagian besar dari mereka tidak melakukan aktivitas apa pun kecuali untuk kebutuhan hidup saja. Seperti makan, minum, buang hajat, mandi, dan lainnya. Akibat imobilisasi ini pun bermacam-macam. Meski saat ini kita hanya sebatas pengurangan aktivitas fisik.

Pertama, kondisi imobilisasi berpengaruh pada sistem muskuloskeletal atau sistem yang terdiri dari tulang dan otot. Pembatasan mobilisasi menyebabkan kehilangan daya tahan, kekuatan dan massa otot. Pada kasus ekstrem, otot yang jarang digunakan tersebut dalam jangka waktu lama akan menjadi atrofi atau bahasa awam nya adalah ukuran otot mengecil dari ukuran normalnya. Oleh karena itu, kita harus tetap beraktivitas fisik dengan exercise secara berkala dan rutin meskipun di rumah saja untuk mempertahankan sistem muskuloskeletal kita berfungsi secara baik.

Kedua, kondisi imbolisisasi berpengaruh pada sistem kardiovaskuler. Seseorang yang cenderung hanya berbaring saja, beresiko terkena hipotensi ortostatik. Ini adalah kondisi adanya peningkatan denyut jantung dan penurunan tekanan darah saat seseorang tersebut berubah posisi. Perubahan posisi itu bisa dari posisi tidur ke duduk, atau dari posisi duduk ke berdiri. Gejala lain yang dirasakan adalah pusing, berputar-putar, pandangan kabur, atau bahkan berdebar saat kita melakukan perubahan posisi tersebut. Untuk mencegah hal itu, kita harus terus bergerak aktif yang tujuannya adalah melancarkan peredaran darah dalam tubuh.

Ketiga, perubahan yang paling sering dialami saat kita imobilisasi atau berkurang aktivitasnya adalah perubahan metabolisme tubuh. Saat istirahat berkepanjangan, maka metabolisme tubuh akan menurun terutama metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak karena kebutuhan energi berkurang. Akibatnya, terjadi penumpukan zat-zat tersebut dalam tubuh yang mengakibatkan badan menjadi lebih gemuk.

Karena penyimpanan lemak yang berlebihan dan kadar gula dalam darah yang meningkat. Seseorang yang menyimpan lemak dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang lama akan meningkatkan risiko penumpukan kolesterol dalam pembuluh darah juga. Jika kolesterol tersebut menumpuk di pembuluh darah otak, maka akan menjadi stroke. Bila menumpuk di pembuluh darah jantung, akan menjadi serangan jantung koroner, dan masih banyak lagi.

Perubahan-perubahan akibat berkurangnya aktivitas fisik membawa dampak negatif bagi tubuh kita. Oleh karena itu, kita tetap harus aktif produktif meskipun di rumah saja. Banyak yang bisa kita kerjakan dengan sederhana seperti olahraga ringan atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang melibatkan tenaga dan kekuatan otot. Mencegah penularan covid-19 dengan di rumah saja jangan sampai menimbulkan penyakit lain di kemudian hari. Jadi, mari beraktivitas fisik dan tetap produktif meski terbatas karena pandemi.(*/bay)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia