Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Man Nahnu
icon featured
Man Nahnu

Tamansari Kearifan Lokal

Oleh: Samsudin Adlawi *

12 Januari 2021, 15: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Tamansari Kearifan Lokal

Share this          

JUDUL di atas sangat indah. Terdengar puitis.

Saya mengutipnya salah satu tokoh Banyuwangi: I Made Cahyana Negara. Ketua DPC PDIP Banyuwangi. Yang juga ketua DPRD Banyuwangi.

Pernyataan lengkapnya, ”Kebudayaan bersumber di desa. Sebab, desa merupakan tamansari kearifan lokal.” Diucapkan dalam momentum spesial. Peringatan HUT PDIP. Di kantor DPC PDIP, Jalan Jaksa Agus Suprapto, Banyuwangi (Jawa Pos Radar Banyuwangi, 11/01/2021).

Rupa-rupanya, itu bukan pernyataan basa-basi. Seperti sering diucapkan pejabat. Untuk menyenangkan undangan. Dalam acara-acara khusus.

Made bertekad, akan segera mengambil langkah-langkah konkret. Yakni, bagaimana mewujudkan kepribadian dalam kebudayaan dimulai dari desa. ”Sikap politik PDIP, khususnya PDIP Banyuwangi dalam merawat kebudayaan yang ada di desa-desa akan kita rumuskan bareng-bareng,” tekadnya.

Pernyataan Made itu cukup melegakan. Khususnya, bagi pengurus DKB (Dewan Kesenian Blambangan). Jarang-jarang ada parpol yang serius memikirkan nasib kebudayaan. Apalagi, di saat pemilu masih lama: 2024.

Kalaupun ada, biasanya, pernyataan peduli terhadap budaya baru muncul menjelang hajatan demokrasi. Makanya, sering ada guyonan: ah, itu kepedulian yang seolah-olah. Seolah-olah peduli. Padahal, begitu selesai pemilunya, saat itu pula yang mengucapkan lupa.

Nah, kepedulian PDIP itu terasa aneh. Sebab, pernyataan ketua DPC-nya diucapkan ketika pilkada baru saja selesai. Bahkan, belum benar-benar selesai. Karena, masih menunggu berita dari MK (Mahkamah Konstitusi): apakah gugatan paslon 01 layak disidangkan atau sebaliknya. Itu menandakan kepedulian Made dan PDIP terhadap masa depan budaya kota the Sunrise of Java tidak main-main. Lebih kuat semangat kebudayaannya daripada syahwat politiknya.

Meski tak bisa dimungkiri, dengan peduli terhadap pengembangan budaya, PDIP ingin makin mendapat simpati dari masyarakat. Terutama dari kalangan aktivis budaya. Itu lumrah. Bukankah ”siapa menanam pasti bakal menuai”.

Bahkan, akan lebih bagus lagi bila parpol-parpol yang lain punya kebijakan seperti PDIP. Memberi perhatian khusus kepada pengembangan budaya lokal Banyuwangi. Bila itu terjadi, dijamin posisi kebudayaan Kota Gandrung akan makin kokoh.

Bahwa, kemajuan pariwisata Banyuwangi sangat pesat. Kunjungan wisatawan terus meningkat. Dari tahun ke tahun. Itu membanggakan. Sekaligus mengerikan. Mereka datang, tentu saja, membawa uang banyak. Menginap di hotel atau homestay. Beli makan. Belanja jajan dan suvenir. Memutarkan uang mereka di Banyuwangi. Menggerakkan ekonomi masyarakat.

Tapi tidak bijak hanya memikirkan aspek positifnya. Dampak negatifnya juga harus menjadi perhatian. Sangat mungkin, meski tidak semua, wisatawan yang datang juga membawa limbah budaya. Mereka muter-muter ke destinasi dengan budayanya sendiri. Contoh kecil saja, soal pakaian. Masyarakat Banyuwangi, terutama yang tinggal di desa-desa, masih menjunjung tinggi tata krama berbusana. Menutup rapat-rapat auratnya. Budaya seperti itu jangan sampai tergerus. Oleh budaya pakaian para wisatawan. Yang nyaman memakai pakaian dengan kain kurang setengah meter. Alias, terbuka sana-sininya.

Jangan sampai budaya pakaian serbamini itu menulari masyarakat Banyuwangi. Kita, tentu, tidak ingin melihat ada sebagian warga desa mulai latah. Yang biasa pakai longdress dan berjarit, tiba-tiba memakai rok mini atau celana super pendek dan kaus sesehan.

Kita tunggu keseriusan dari Pak Made. Sambil menunggu saya selipkan usul: ada baiknya Pak Made dan tim di PDIP undang pengurus DKB. Atau datangi kantor sekretariat DKB. Lebih bagus lagi ajak pengurus DKB diskusi di tempat yang nyaman. Di mini hall hotel atau restoran!

Tim Pak Made butuh masukan-masukan dari DKB. Sebab, DKB adalah pengampu denyut kebudayaan Banyuwangi. Selama ini, DKB telah merawat banyak potensi budaya di Banyuwangi. Bahkan, selain nguri-nguri, DKB bersama Dinas Pariwisata juga terus menggali adat, seni, dan tradisi yang ada di tengah masyarakat. Lalu, menghidupkannya kembali menjadi atraksi. Yang layak disuguhkan kepada wisatawan.

Jadi klop. Rencana PDIP ternyata nyambung dengan program DKB dan Dispar. Ketua DKB Hasan Basri dan timnya kini sedang getol kampanye: menghidupkan kembali semua potensi kesenian dan tradisi di daerah pinggiran. Sekaligus meningkatkan sumber penghidupan senimannya.   

Andai kedua rencana besar itu berjalan seiring dan sependampingan, kita akan menjadi saksi kebangkitan budaya di seluruh jengkal tanah Banyuwangi. Dan itu tidak butuh waktu lama. Asal sinergisitas antara PDIP dan DKB benar-benar terwujud.

Berjalan sendiri-sendiri juga tidak apa-apa. PDIP menggelar kegiatan budaya sendiri. DKB juga. Menjalankan seabrek program pengembangan budaya di Banyuwangi.

Yang tidak boleh adalah, Pak Made dan timnya di PDIP punya tafsir sendiri soal budaya Banyuwangi. Tafsir budaya Banyuwangi harus tunggal. Jangan ada yang membuat tafsir sesuai dengan kemauannya sendiri. Dan, penjaga tafsir budaya Banyuwangi adalah DKB. Sesuai amanat yang diberikan oleh bupati. Yang tertuang dalam SK pengangkatan pengurus DKB. Bahwa, segenap pengurus DKB siap merawat dan memajukan kebudayaan Banyuwangi.

Wa ba’du. Semua stakeholder punya hak yang sama. Ikut membangun dan mengembangkan potensi budaya di Bumi Blambangan. Namun, seyogianya ada dialog dengan DKB. Agar program yang dibuat tidak kehilangan rasa kebudayaan Banyuwanginya. Bagaimanapun gandeng renteng lebih baik daripada munfaridan. Alias berjalan sendiri. Apalagi, akan mengembangkan tamansari kearifan lokal. (*)

*) Budayawan, Penyair Banyuwangi

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia