Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Banyuwangi
icon featured
Banyuwangi
Kasus Covid-19 masih Fluktuatif

Tunggu Keputusan Gubernur, Pembelajaran Tatap Muka Ditunda Lagi

11 Januari 2021, 18: 20: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

CEK KESIAPAN TATAP MUKA: Pembelajaran tatap muka yang sedianya bakal dimulai tanggal 11 Januari belum bisa dilaksanakan karena angka Covid tak kunjung turun.

CEK KESIAPAN TATAP MUKA: Pembelajaran tatap muka yang sedianya bakal dimulai tanggal 11 Januari belum bisa dilaksanakan karena angka Covid tak kunjung turun. (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Share this          

JawaPos.com - Satgas Covid-19 Banyuwangi menyatakan kasus positif Covid masih fluktuatif. Setelah sempat menurun, kemarin (10/1) jumlah warga yang terkonfirmasi Covid kembali melejit. Sehari kemarin ada tambahan 66 kasus baru. Angka ini tampaknya menjadi yang tertinggi sejak awal tahun 2021.

Meski terjadi peningkatan, sebanyak 22 pasien Covid dinyatakan sembuh kemarin. Kondisi ini  belum bisa menahan Banyuwangi dari ancaman terdegradasi ke zona merah. Apalagi skor akumulasi Banyuwangi kembali turun dari sebelumnya di angka 2 kini menjadi 1,85.

Jumlah kematian kemarin menurun menjadi 3 orang per hari. Sayangnya dari angka persentase kematian, Banyuwangi masih berada di angka 9.69 persen. Sedangkan untuk jumlah pasien konfirmasi Covid yang menjalani perawatan 80 orang. Sebanyak 63 orang dirawat di rumah sakit,  sisanya 217 orang dirawat secara mandiri di rumah dan di Balai Diklat Licin.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Banyuwangi dr Widji Lestariono membenarkan angka kasus positif Covid terus naik dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan itu menjadi perhatian satgas untuk mencari solusi menekan angka penularan.

Di sisi lain, tingkat keterisian ruang isolasi di enam rumah sakit rujukan mencapai 53 persen. Angka itu masih ada di ambang batas aman. Sebab, masih ada 46 persen bed yang kosong. Begitu juga di ruang isolasi 0TG di Balai Diklat Licin, masih memiliki banyak bed kosong dari total 85 tempat tidur yang tersedia. "Angka ini masih fluktuatif, besok bisa jadi lebih banyak," kata Rio.

Lebih jauh Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi itu menjelaskan, satgas masih berupaya merumuskan aturan yang selaras dengan program pusat. Rencananya hari ini (11/1) aturan yang dituangkan dalam SE Satgas itu akan diterbitkan. Garis besarnya berisi aturan bagi penataan kehidupan masyarakat selama pandemi.

"Jika di pusat ada aturan PSBB, di Banyuwangi kita sesuaikan dengan SE Satgas. Terus kita godok agar tetap selaras denga program pusat. Misalnya di pusat toko wajib tutup pukul 19.00, di Banyuwangi kita sesuaikan," kata Rio.

Terkait pembelajaran tatap muka yang seharusnya dimulai, ada tiga syarat yang harus dipenuhi sebelum sekolah dibuka. Yaitu surat keterangan kesediaan wali murid, kesiapan protokol kesehatan sekolah yang ditetapkan oleh satgas wilayah, dan surat persetujuan dari Bupati. Dua syarat awal rata-rata sudah dimiliki semua sekolah di Banyuwangi.   

Namun, satu syarat yaitu surat persetujuan atau izin dari bupati belum juga ditanda tangani hingga kemarin. Alasnanya, kata Rio, kasus penularan dan kematian akibat Covid masih cukup tinggi. Sehingga Banyuwangi belum bisa dikatakan aman dari korona.  “Yang dilakukan teman-teman (validasi sekolah) hanya langkah persiapan saja. Jadi sewaktu-waktu sekolah dibuka, kita siap. Sementara belum ada keputusan,” tegasnya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno menambahkan, ada instruksi dari Kemendagri yang menyatakan bahwa gubernur bisa mengevaluasi lagi kota atau kabupaten selain yang sudah ditetapkan untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Banyuwangi, kata Suratno,  meski awalnya tak termasuk bagian dari PSBB seperti Malang Raya dan Surabaya, dikhawatirkan akan masuk ke dalam kategori kabupaten yang menerapkan PSBB.

Suratno mengaku masih menunggu keluarnya surat dari Gubernur Jawa Timur dan Satgas Covid- 19 Banyuwangi untuk memastikan apakah Banyuwangi masuk kategori PSBB atau tidak. Pihaknya tidak ingin mengabil risiko yang nantinya justru berbenturan dengan aturan pusat. “Gubernur bisa menambahkan kota atau kabupaten sasaran PSBB. Karena itu kita menunggu dulu keputusan baru dari Gubernur Jatim. Belum pembelajaran ttaap muka kita buka tanggal 11 Januari,” pungkas mantan Kepala SMAN 1 Srono itu. (fre/aif)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia