Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Sembako
icon featured
Sembako

Pedagang Sebut Wajar Harga Kedelai Mahal

11 Januari 2021, 15: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

MAHAL: Pedagang menunjukkan kedelai impor yang dijual di lapaknya di Pasar Induk Genteng, kemarin (10/1).

MAHAL: Pedagang menunjukkan kedelai impor yang dijual di lapaknya di Pasar Induk Genteng, kemarin (10/1). (SHULHAN HADI/RaBa)

Share this          

JawaPos.com – Harga kedelai yang terus naik hingga membuat perajin tahu dan tempe, sampai kelimpungan, ternyata dinilai wajar oleh para pedagang kedelai. Sebab, harga ini memang di luar ambang batas.

Salah satu karyawan di toko sembako Genteng, Yoga Pratama, 24, mengungkapkan bila harga kedelai masih naik lagi para perajin tahu dan tempe bisa berhenti beroperasi. Tapi, mereka masih setia membuat tahu dan tempe, meski keuntungannya menurun. “Itu umum, masih untung tapi berkurang,” jelasnya.

Saat ini harga kedelai, terang dia, Rp. 8.000 per kilogram dan ini dianggap wajar. Harga itu mengalami kenaikan dari sebelumnya yang hanya Rp. 7.500 per kilogram. Jika melihat jumlah pembelanjaan kedelai di tempatnya, nyaris tidak ada yang berubah. Rata-rata para perajin olahan itu belanjanya tetap. “Pembuat tempe, tahu, danasari kedelai belinya mulai 20 kilogram, ini tidak beda dengan sebelumnya,” jelasnya.

Kedelai yang bisa digunakan bahan olahan, jelas dia, memang jenis impor. Sehingga, keluhan itu kadang tidak berarti apa-apa. Naik dan turunnya harga kedelai, dipengaruhi kondisi secara global, tidak hanya lokal di Banyuwangi. “Ini katanya kan pengalihn dari Amerika ke China, jadi ada perubahan harga,” terangnya.

Hraga kedelai yang terus naik itu, jelas dia, memang merepotkan dan dilema bagi perajin tahu dan tempe. Di satu sisi, mereka keberatan dengan harga kedelai impor, tapi juga tidak bisa mengganti bahan baku dengan kedelai lokal karena kualitasnya kurang baik. “Kalau kedelai lokal itu disimpan sebentar sudah busuk, kebersihannya juga kalah,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu perajin tempe M Zuhdi, 33, warga Desa Wringrinrejo, Kecamatan Gambiran, mengatakan saat ini harga pasaran kedelai terbilang mahal. “Saya beli kedelai itu harganya Rp. 9.300 per kilogram,” jelasnya.

Meski harga kedelain tinggi dan mahal, ia tidak mengurangi pembelanjaan untuk bahan baku tempenya.  Setiap hari, kedelai yang digunakan masih sama dalam dengan sebelumnya. “Sehari rata-rata masak kedelain 1,5 kuintal,” terangnya.

Zuhdi menyebut, sampai saat ini tidak menaikkan harga tempenya. Ia juga tidak mengurangi ukuran tempe yang dijual. “Masih untung, tapi berkurang banyak,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.(sli/abi)

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia