Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Lifestyle
icon featured
Lifestyle
Prangko & Surat

Mengenang Sejarah dengan Filateli

10 Januari 2021, 15: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TELATEN: Setyo Raharjo menunjukkan sebagian koleksi prangko yang dikumpulkan sejak 35 tahun lalu.

TELATEN: Setyo Raharjo menunjukkan sebagian koleksi prangko yang dikumpulkan sejak 35 tahun lalu. (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Share this          

JawaPos.com - Prangko ternyata tidak hanya berfungsi sebagai bukti bayar jasa pengiriman surat. Berbagai terbitan prangko, rupanya dicetak sesuai momentum pada zamannya. Kini, membuka koleksi prangko (filateli) pun dirasakan sama seperti mengenang sejarah.

Saat mengirim surat lewat Kantor Pos, prangko adalah salah satu hal yang tak dapat ditinggalkan. Prangko berupa kertas berperekat yang merupakan tanda bukti bahwa seseorang telah melakukan pembayaran jasa layanan pos.

Seperti halnya mengirim surat, prangko ditempelkan pada amplop, kartu pos, atau benda pos lainnya sebelum dikirim. Seiring berjalannya waktu, prangko dengan keunikan yang ditampilkan setiap penerbitannya menjadi sebuah benda kegemaran yang diburu kolektor. Adapun aktivitas atau hobi mengumpulkan prangko dan benda-benda pos lainnya disebut filateli.

Salah satu filatelis di Banyuwangi adalah Setyo Raharjo, 56, warga Jalan Nias, Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi. Aktivitas mengoleksi prangko sudah dilakukan Setyo sejak 35 tahun silam. Dari hasil perburuannya sejak 35 tahun itu, ratusan prangko berhasil dikumpulkannya. ”Sebenarnya saya senang barang antik dan kuno, termasuk di antaranya prangko, kartu pos, warkat pos, dan meterai,” ujar Setyo.

Koleksi prangko Setyo disimpan dalam satu album yang berisi ratusan buah prangko. Tidak hanya prangko dalam negeri, cukup banyak pula koleksi prangko dari luar negeri. Sebut saja prangko kiriman dari Singapura, Jerman, dan Belanda. Bahkan, masih lengkap dengan cap pos dan kartu posnya. ”Kebetulan saya biarkan masih utuh dengan post card, hanya warnanya sudah pudar karena di makan zaman,” tutur bapak empat anak ini.

Setyo mengaku mengumpulkan prangko tersebut dengan cara berburu dari teman-teman yang biasa berkirim surat dan prangkonya sudah tak terpakai. ”Daripada dibuang sayang, lalu saya minta untuk saya kumpulkan,” jelas kakek satu cucu ini.

Di antara koleksinya juga ada prangko lama tahun 1952. Ketika itu harga prangko masih 10 sen, 15 sen, dan 25 sen. Bagi Setyo, pada setiap penerbitannya prangko selalu merepresentasikan hal atau peristiwa yang terjadi di dunia, baik dalam skala daerah, nasional, bahkan internasional. Maka, prangko juga menjadi alat perekam sejarah peradaban manusia.

Setiap prangko hadir sesuai momennya, seperti prangko seri Piala Dunia yang diterbitkan saat Piala Dunia diselenggarakan. ”Setahu saya dalam setiap penerbitan prangko dilatarbelakangi peristiwa. Oleh karena itu, prangko bisa menjadi pengingat catatan sejarah bangsa ini,” terang Setyo.

Seiring perkembangan zaman, kini prangko dan filateli juga mulai ditinggalkan. Mungkin, anak-anak milenial zaman sekarang tidak bisa merasakan asyiknya surat-menyurat. Bagaimana rasanya menunggu Pak Pos datang dengan harap-harap cemas hingga merasa bahagia ketika kiriman surat tiba. Surat yang diterima juga biasanya dibaca sampai berulang kali. ”Setidaknya melalui prangko ini, saya bisa menceritakan kepada anak cucu mengenai sejarah dan perjalanan perangkat komunikasi sebelum era digital seperti saat ini. Melihat koleksi prangko ini saya juga bisa mengenang masa 35 tahun lampau,” pungkas Setyo. (ddy/bay/c1)

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia