Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Pendidikan Karakter untuk Generasi Muda Antikorupsi

Oleh: Amin Khoirul Fatwa*

08 Januari 2021, 16: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Pendidikan Karakter untuk Generasi Muda Antikorupsi

Share this          

DATA dari KPK tahun 2020, uang yang dikorupsi oleh para oknum sebesar Rp 168 triliun. Seandainya uang yang dikorupsi digunakan untuk pembangunan, setidaknya bisa untuk mendirikan 195 gedung sekolah dasar (SD) baru dengan  fasilitas lumayan lengkap. Selain itu, juga bisa membiayai sekolah 3,36 juta orang hingga menjadi sarjana.

Setiap tahun selalu ada kasus korupsi di tanah air. Hampir di semua bidang terjadi korupsi. Hal ini membuat resah masyarakat Indonesia. Karena itu, perlu strategi untuk menumpas korupsi mulai dari kaum muda yang akan menjadi generasi berikutnya dan melalui pendidikan.

Budaya korupsi di Indonesia yang saat ini masih tinggi, perlu diperhatikan kaum muda. Perlunya penanaman antikorupsi sejak masa muda, karena mereka yang akan menjadi generasi pemimpin dan pengelola negeri selanjutnya.

Salah satu peran generasi muda adalah sebagai agent of development yaitu sebagai agen pembangunan. Generasi muda haruslah mampu menanamkan nilai-nilai anti korupsi sejak masa muda. Selain itu, pemuda merupakan agent of change (agen perubahan). Diharapkan, generasi pemuda saat ini akan mengubah Indonesia yang lebih baik. Terutama terkait masalah antikorupsi.

Salah satu usaha menanamkan rasa antikorupsi adalah melalui pendidikan. Karena pendidikan ini merupakan suatu fondasi dari peran pemuda. Tanpa adanya pendidikan yang kuat, maka para pemuda pasti merasakan kesusahan dalam menjalankan peran mereka.

Salah satu cara untuk menjadikan generasi pemuda Indonesia antikorupsi yaitu dengan empat strategi pendidikan karakter berikut:

Pertama, pendidikan antikorupsi terintegrasi di semua mata pelajaran. Ini bertujuan untuk menanamkan karakter kejujuran yang dikembangkan guru masing-masing mata pelajaran. Melalui pengembangan desain rencana pelaksanaan pembelajaran dengan cara menyisipkan nilai-nilai antikorupsi dalam materi pembelajaran.

Nilai-nilai antikorupsi dapat ditanamkan melalui beberapa pokok atau subbab pokok bahasan materi yang berhubungan dengan nilai-nilai hidup. Kegiatannya berupa menyisipkan kata-kata atau motivasi pada bab yang bisa berkaitan dengan korupsi. Dari sisipan kata-kata tersebut, guru akan menjelaskan tentang keterkaitan pelajaran sejarah dengan kasus korupsi sehingga para siswa tertarik untuk mendengarkan dan mencari solusi dari kata-kata tersebut.

Contoh lainnya yaitu pelajaran Matematika, untuk memahami konsep integral seorang siswa harus memiliki kesungguhan untuk memahami dan hasil yang bisa dipertanggungjawabkan. Sama halnya ketika menjadi pemimpin harus sungguh-sungguh dan adil. Dengan model ini dipastikan semua guru adalah pengajar antikorupsi tanpa terkecuali. Kelemahan dari metode ini adalah guru harus beradaptasi dan perlu mencari literatur yang lebih, mengenai hubungan keterkaitan materi pembelajarannya dengan pendidikan antikorupsi.

Kedua, pemberian materi antikorupsi (MAK) pada pembelajaran PPKN. Materi untuk pendidikan antikorupsi terdiri dari pengenalan korupsi, dampak korupsi, upaya perlawanan terhadap korupsi, dan lain-lain. Materi ini bertujuan menumbuhkan kepekaan dan membangun kerangka  berpikir  (framework of thinking) kegiatannya berupa penyampaian dan mendiskusikan konsep korupsi oleh guru PPKN kepada siswanya.

Ketiga, pembiasaan perilaku antikorupsi. Yaitu terdapat tujuh nilai karakter antara lain nilai kejujuran, kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, dan kesederhanaan. Nilai kejujuran di sekolah dapat diimplementasikan siswa dalam bentuk tidak melakukan kecurangan seperti menyontek saat ujian, tidak melakukan plagiat, membayar uang jajan sesuai harga, dan lain-lain. Namun bukan hanya penyadaran dari siswa, guru pun apabila memberikan tugas harus meminimalkan kegiatan seperti kegiatan menyontek pada siswa. Caranya dengan memberikan tugas yang beda setiap kelompok maupun individu, atau mengacak tugas yang berbeda yang akan diberikan untuk semua siswa.

Nilai kepedulian dapat diimplementasikan siswa dalam bentuk menjaga lingkungan sekolah agar terlihat lestari dan menjaga fasilitas sekolah dengan baik. Nilai kemandirian dapat diimplementasikan dalam bentuk mengerjakan soal ujian secara mandiri, mengerjakan tugas mandiri, dan mampu menjadi siswa yang aktif. Nilai kedisiplinan dapat diimplementasikan dalam bentuk tidak terlambat di sekolah, patuh terhadap aturan sekolah, dan mengatur waktu dengan baik.

Selain itu, guru atau ketertiban sekolah harus membuat undang-undang (UU) aturan tentang larangan dan kewajiban ketika di sekolah baik itu secara tertulis maupun kebiasaan, serta menambahkan pula sanksi apabila tidak melaksanakan atau malah melanggar larangan dalam aturan tersebut. Tujuan sanksi adalah untuk memberi efek jera terhadap hal yang dilanggar oleh siswa.

Nilai tanggung jawab, merupakan nilai penting yang harus dihayati oleh siswa, diimplementasikan dalam hal kesungguhan belajar dan percaya diri. Dalam nilai ini siswa harus mampu bertanggung jawab atas hal yang dilakukannya, apabila siswa melakukan kesalahan ia harus menanggung risiko dan sanksi, apabila siswa berprestasi ia harus mengembangkan prestasinya agar selalu berkembang dan tumbuh. Jadi, nilai tanggung jawab itu tidak hanya tentang masalah negatif saja tetapi juga terkait pengembangan diri seorang siswa.

Nilai kerja keras dapat diimplementasikan siswa dalam kehidupan sehari- hari, misalnya mengerjakan tugas dengan tekun, menghargai proses bukan hasil semata. Nilai kesederhanaan dapat diterapkan siswa dalam bentuk pemenuhan kebutuhan hidup yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan seorang siswa. Siswa harus dihilangkan dari sifat hedonisme, karena itu merupakan perilaku yang tidak baik dan berdampak buruk terhadap diri siswa.

Keempat, metode education tools. Metode ini bertujuan menciptakan media pembelajaran yang kreatif untuk segmen formal maupun publik untuk menumbuhkan gerakan antikorupsi. Implementasinya berupa siswa mewujudkan kreativitasnya dalam mendesain berbagai macam produk yang bisa menjadi media pembelajaran antikorupsi. Contoh kegiatannya lomba seni drama bertema korupsi, lomba puisi tema korupsi, pemberian tugas seni budaya mengenai seni rupa tentang slogan antikorupsi, pemberian tugas mapel prakarya dengan menyisipkan kata-kata antikorupsi. Dengan metode inilah siswa lebih bergairah untuk penanaman rasa antikorupsi.

Peran guru sangatlah besar guna mendidik siswa terutama kaum muda. Namun tidak hanya guru, siswa pun harus partisipasi dalam strategi pendidikan karakter ini. Melalui strategi ini diharapkan, pemuda tertanam nilai antikorupsi. Sehingga dapat memperbaiki kualitas pemerintahan di masa mendatang. (*)

*) Siswa Kelas XII IPS 5, MAN 2 Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia