Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Suyatmadi, 9 Tahun Jadi THL Kebersihan

Berangkat Pukul 04.30, Tak Masalah Dianggap Pekerjaan Paling Kotor

08 Januari 2021, 13: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TAK LANGSUNG PULANG: Suyatmadi usai mencuci truk pengangkut sampah di kawasan Rumah Kompos yang berada tak jauh dari kantor DLH Banyuwangi.

TAK LANGSUNG PULANG: Suyatmadi usai mencuci truk pengangkut sampah di kawasan Rumah Kompos yang berada tak jauh dari kantor DLH Banyuwangi. (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Share this          

Hujan, sampah, Suyatmadi, dan ratusan tenaga kebersihan. Saling berkaitan. Tanpa petugas kebersihan tersebut, maka dampak negatif sampah akan semakin besar. Tidak hanya berakibat buruk pada kesehatan, tetapi juga dapat memicu banjir.

SIGIT HARIYADI, Banyuwangi

HUJAN turun nyaris setiap hari. Setidaknya dalam sepekan terakhir. Di saat bersamaan, produksi sampah terus terjadi. Baik sampah rumah tangga, sampah yang berasal dari alam, dan lain sebagainya.

Sudah bukan rahasia jika sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif bagi masyarakat. Lingkungan jadi kumuh dan bisa berimbas pada kesehatan warga. Tidak hanya itu, jika sampah menyumbat drainase atau aliran sungai, hal itu bisa memicu banjir.

Nah, di Bumi Blambangan ada ratusan petugas yang secara konsisten menjaga kebersihan di kawasan Kota Banyuwangi dan sekitarnya. Ada pesapon atau tenaga yang bertugas menyapu sampah di jalan, sopir truk pengangkut sampah dari tempat pembuangan sementara (TPS) ke tempat pembuangan akhir (TPA). Ada pula tenaga pemicuk alias personel yang bertugas menaikkan sampah dari TPS ke armada truk pengangkut sampah dan menurunkan sampah dari truk ke TPA.

Salah satunya Suyatmadi, 50, warga Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi. Sudah sekitar sembilan tahun terakhir dia bekerja sebagai tenaga harian lepas (THL) kebersihan di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi. Tepatnya sebagai sopir armada truk pengangkut sampah.

Setiap hari Suyatmadi bekerja mengangkut sampah dari tiga TPS di wilayah perkotaan menuju TPA yang berlokasi di Kecamatan Blimbingsari, yakni TPS di wilayah Kelurahan Kebalenan, Karangrejo, dan di kawasan Terminal Brawijaya. ”Setiap pagi saya bekerja pukul 04.30. Pulangnya tidak menentu. Tergantung volume sampah yang saya angkut hari itu,” ujarnya ketika ditemui usai mencuci truk pengangkut sampah di sekitar Rumah Kompos yang berada tidak jauh dari kantor DLH Banyuwangi Kamis siang (7/1).

Suyatmadi menuturkan, tim yang dia gawangi berjumlah lima orang. Selain dirinya yang bertugas sebagai sopir, ada empat personel lain yang bertugas sebagai tenaga pemicuk sampah.

Bukan hanya mengangkut sampah dari TPS menuju TPA, bagi Suyatmadi, sebagai sopir truk pengangkut sampah, dirinya punya tanggung jawab untuk merawat armada milik Pemkab Banyuwangi tersebut. Karena itu, setelah digunakan mengangkut sampah, dia tidak langsung pulang, tetapi mencuci truk tersebut terlebih dahulu. ”Truk harus dirawat dan dibersihkan agar nyaman, awet, dan tidak terlalu kumuh. Kerja kami memang bergelut dengan sampah, tetapi kami berupaya armada truk pengangkut sampah ini tidak terkesan kumuh,” kata dia.

Menurut Suyatmadi, ada banyak suka duka yang sulit diungkapkan selama dirinya bekerja sebagai sopir truk pengangkut sampah. ”Mau bilang suka, mungkin banyak orang yang tidak suka. Mau bilang tidak suka, tetapi mungkin ada yang menilai pekerjaan kita ini asyik, agak santai. Tetapi bisa jadi, di mata orang lain, pekerjaan kita ini paling kotor atau hina. Bagi kami, itu bukan masalah. Yang penting kami bekerja dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala DLH Banyuwangi Chusnul Hotimah mengatakan, peran tenaga kebersihan sangat besar untuk Banyuwangi selama ini. ”Secara konsisten mereka menjaga kebersihan kota Banyuwangi,” kata dia.

Chusnul menambahkan, total tenaga kebersihan yang bertugas di wilayah Kota Banyuwangi saat ini mencapai 488 orang. Termasuk sopir armada, pemicuk, dan pesapon. ”Yang kami garap wilayah perkotaan. Jumlah ini cukup ideal. Sedangkan di wilayah pedesaan, diharapkan desa bisa melakukan pengelolaan sampah secara mandiri melalui TPS 3R (reduce, reuse, dan recycle),” pungkasnya. (aif/c1)

(bw/sgt/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia