Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Suryanto Buka Jasa Perbaikan ID Card

Terdampak Pandemi Covid, Sehari Hanya Dapat Uang Rp 30 Ribu

07 Januari 2021, 14: 40: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PAKAI ALAT MANUAL: Suryanto membenahi kartu ID milik pelanggan di halaman parkir Samsat Banyuwangi kemarin (6/1).

PAKAI ALAT MANUAL: Suryanto membenahi kartu ID milik pelanggan di halaman parkir Samsat Banyuwangi kemarin (6/1). (BAGUS RIO/RABA)

Share this          

Jasa servis kartu identitas diri (ID Card) memang cukup langka di Banyuwangi. Suryanto, warga Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri  memanfaatkan keahliannya untuk membenahi ID Card. Sehari-harinya, pria berusia 45 tahun itu mangkal di depan kantor Samsat Banyuwangi.

BAGUS RIO, Banyuwangi

Siang itu aktivitas di lingkungan Samsat Banyuwangi cukup ramai. Warga keluar-masuk dari Samsat usai mengurusi perpanjangan surat-surat kendaraan. Namun, ada yang sedikit menarik perhatian saat berada di sekitar parkiran kendaraan sepeda motor.

Tepat di pojok sebelah kiri, ada seseorang yang membuka jasa laminating. Pria tersebut juga bisa membenahi sejumlah kartu identitas diri (ID Card). Dengan bekal hanya kotak bentuk persegi dengan ukuran setengah meter, pria bernama Suryanto tersebut sigap menawarkan jasa perbaikan kartu kepada sejumlah warga yang baru datang. ”Monggo KTP, ATM, dan lain-lain, yang rusak bisa dibenahi,” teriak Suryanto sembari mengarahkan warga ke tempat duduknya.

Cukup menarik sebenarnya jasa yang ditawarkan Suryanto. Bapak dua anak tersebut menjelaskan, jasa pembenahan kartunya hanya sesuai kriteria yang ia bisa saja. ”Kalau foto yang hilang atau usang, saya tidak bisa, Mas. Saya benahi kartu yang kotor dan rusak plastiknya saja,” terangnya.

Lelaki kelahiran tahun 1975 itu mengatakan, jasa laminating ID Card, mulai KTP, ATM, dan lainnya sudah dijalani tujuh tahun lamanya. ”Sudah tujuh tahun berjalan, sampai saat ini saya tetap melakoni apa yang saya bisa untuk menyambung hidup,” ungkapnya.

Selama tujuh tahun itu, Suryanto sudah keliling ke sejumlah tempat. Tidak hanya di lingkungan Samsat, tapi juga tempat-tempat umum lainnya. ”Kadang di mal pelayanan publik dan tempat perkantoran,” katanya.

Jasa laminating ID Card memang cukup berbeda dengan yang ada di tempat lainnya. Di tempat lain laminating menggunakan mesin pengepres, sementara Suryanto hanya menggunakan alat manual. ”Kalau laminating ID Card pakai mesin pengepres bisa rusak, bahkan terkadang bisa tidak lurus,” tuturnya.

Selain melakukan laminating ID Card, ia juga menerima jasa perbaikan kartu. Namun, tidak dibuat ulang. Ia hanya membenahi kartu yang rusak menjadi bagus lagi. ”Tidak semua kerusakan bisa dibenahi langsung,” jelasnya.

Yanto –panggilan akrab Suryanto— menjelaskan kriteria kartu yang bisa ditanganinya. Di antaranya kartu patah, kartu usang, dan kartu kotor. Namun, untuk kartu yang usang sendiri tidak bisa dikembalikan seperti semula. ”Biasanya kerusakan kartu wajar, karena sering ditaruh di dompet,” paparnya.

Untuk kartu yang usang, tulisan maupun fotonya yang sudah tidak kelihatan ia tidak bisa memperbaikinya. Ia malah mengarahkan masyarakat untuk membuat ulang ke instansi terkait. ”Saya tidak berani membenahinya, karena takut dipidana atas pemalsuan,” terangnya.

Untuk biaya perbaikan, Suryanto mematok harga Rp 10 ribu per kartu. Namun, selama pandemi Covid-19, hampir 70 persen penghasilannya menurun. ”Biasanya sehari bisa dapat Rp 100 ribu lebih, tapi kini hanya Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu saja,” akunya.

Selama tujuh tahun menggeluti jasa tersebut, Yanto mengaku bisa menyekolahkan kedua anaknya. Untuk anak pertama sudah menempuh sekolah di jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sedangkan si bungsu masih di bangku SMP. ”Yang penting bekerja cari uang halal dan bisa mencukupi keluarga,” pungkasnya. (aif/c1)

(bw/rio/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia