Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Ekonomi Bisnis
icon featured
Ekonomi Bisnis

Harga Kedelai Selangit, Perajin Tahu Rumahan Terancam Bangkrut

07 Januari 2021, 19: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PROSES PRODUKSI: Mulyadi dengan tahu asal produksinya di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, kemarin (6/1).

PROSES PRODUKSI: Mulyadi dengan tahu asal produksinya di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, kemarin (6/1). (KRIDA HERBAYU/JPRG)

Share this          

JawaPos.com – Harga kedelai yang terus mengalami kenaikan, membuat perajin tahu skala rumah tangga terancam bangkrut. Harga kedelai yang kini mencapai Rp 9.400 per kilogram, dianggap terlalu mahal, kemarin (6/1).

Jika harga kedelain terus naik hingga tembus Rp 10 ribu per kilogram, maka para perajin tahu dipastikan akan gulung tikar karena biaya oprasional yang membengkak. “Kalau harga kedelai mencapai Rp 10 ribu per kilogram, tempat produksi tahu milik saya ini akan saya tutup,” ujar Mulyadi, 32, warga Dusun Krajan, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran.

Menurut Mulyadi, dengan adanya kenaikan harga kedelai ini, para perajin tahu dan tempe kebingungan. Tak hanya itu, banyak perajin tempe di Banyuwangi selatan sudah tidak memproduksi lantaran tidak mencukupi biaya untuk operasional. “Banyak pengusaha tempe yang tutup sementara, harga kedelai mahal,” katanya.

Untuk kenaikan harga kedelai ini, terang dia, para perajin tahu dan tempe hanya bisa pasrah. Mereka tidak bisa berbuat banyak selain menunggu campur tangan pemerintah dengan ikut menurunkan harga kedelai ini. “Mau tidak mau pembelian bahan baku dikurangi, agar bisa menutupi biaya oprasional,” katanya.

Mulyadi mengaku tidak berani menaikkan harga tahu. Bila dinaikan, ia khawatir akan berdampak pada daya beli masyarakat. Banyak masyarakat yang enggan membeli tahu karena harganya sedikit mahal. “Saya tidak mau kehilangan pelanggan, lebih baik saya yang merugi,” cetusnya.

Harga normal untuk kedelai, terang dia, itu hanya Rp 7.000 per kilogram. Dengan harga bahan baku yang terjangkau, para perajin tahu dan tempe masih mendapat keuntungan. Tapi jika harganya di atas Rp 8.000 per kilogram, maka dipastikan perajin tahu dan tempe merugi. “Kami berharap harga kedelai normal lagi, agar kami dapat bekerja seperti semula,” cetusnya.(kri/abi)

(bw/kri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia