Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Ekonomi Pulih, Pariwisata Indonesia Bangkit

Oleh: Alna Syefira Zalzabilla *

07 Januari 2021, 12: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Ekonomi Pulih, Pariwisata Indonesia Bangkit

Share this          

PANDEMI Covid-19 yang kita hadapi selama 10 bulan ini telah mengubah tatanan kehidupan. Kita harus menerapkan new normal. Tidak hanya merugikan sisi kesehatan saja, virus yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, ini juga memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian global, tak terkecuali Indonesia.

Dalam rangka proses pemulihan ekonomi akibat Covid-19, Indonesia masih memiliki sejumlah tantangan yang dihadapi dan menjadi pekerjaan berat pemerintah dalam menyikapinya.

Di balik kiprah Covid-19 tidak melulu soal masalah perekonomian. Pandemi Covid-19 justru mendorong terjadinya reorientasi beberapa hal. Di antaranya jalur perjalanan wisatawan jarak jauh (long haul) ke jarak menengah dan pendek (medium and short haul trip). Kemudian, menurunnya tingkat pengeluaran serta jumlah wisatawan yang melakukan perjalanan ke luar negeri karena mereka lebih memilih berwisata di dalam negeri.

Karena itu, terdapat sejumlah poin penting bagi pemerintah khususnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk mengakselerasi sumber daya yang dimiliki guna mengatasi tantangan yang ada dan mempercepat pencapaian target yang dicanangkan.

Meskipun pariwisata sebagai sektor strategis serta memiliki peran penting bagi perekonomian nasional dan bisa menjadi salah satu instrumen dalam menyongsong pemulihan ekonomi. Tentu, sama halnya dengan target kepariwisataan negara-negara lain, target kepariwisataan Indonesia saat ini sulit tercapai. Karena menghadapi sedikitnya tiga tantangan utama, yakni adanya perubahan perilaku dan keinginan wisatawan dalam menghadapi wabah global, serta pencitraan Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang aman, teliti, dan tepat dalam mengelola Covid-19. Juga ketersediaan kapasitas dan kualitas produk wisata.

Dalam hal ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dapat menjadi sosok pemersatu. Sebagaimana diketahui, stakeholder kepariwisataan terdiri atas sektor privat, pemerintah, asosiasi, akademisi, dan masyarakat umum. Justru lewat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang baru, diharapkan muncul teamwork antara swasta-pemerintah untuk mengatasi kendala aturan dan ritme kerja birokrasi.

Terlebih, mengatasi situasi sulit di masa pandemi Covid-19 yang menekan pelaku usaha pariwisata dan perhotelan. Untuk itu, diperlukan juga kecepatan dalam mengambil keputusan yang cermat dan tepat, mengawasi serta mengevaluasi sektor pariwisata.

Pertama, tetap harus mengawasi, mengevaluasi, serta meningkatkan kualitas layanan berbasis CHSE (cleanliness, healthy, safety, environment sustainability) sampai ke lorong-lorong yang tak terlihat di permukaan. Jadi, berwisata bukan hanya tentang urusan bersenang-senang semata. Namun di era pandemi dan nanti seusai vaksinasi, berwisata tetap harus berorientasi pada kesehatan. Berwisata yang baik adalah wisata yang bisa memperbaiki kesehatan fisik dan mental.

Kedua, kiprah ke depan juga harus semakin memperkuat jaringan di tingkat internasional. Baik dari kalangan buyer, government, investor, maupun pelaku bisnis pariwisata. Di antaranya memacu outdoor tourism dengan konsep penginapan glamping di tengah alam seperti pantai atau pun hutan. Outdoor tourism sendiri semakin memperkuat penerapan CHSE. Memang saat ini sudah ada beberapa pengelola destinasi yang menawarkan penginapan di alam terbuka. Namun belum terlalu banyak. Karena itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif harus mampu memperkuat jaringannya agar konsep penginapan di alam terbuka semakin banyak bermunculan.

Nantinya, operator tur pun bisa membuat paket outdoor tourism yang menyehatkan, seperti menggabungkan terapi psikis dengan konsumsi minuman sehat, misalnya bisa membuat aktivitas yoga dan bersantai minum ramuan rempah-rempah di tengah panorama alam sekitar. Tentu, pengembangan pariwisata ke depan juga harus berorientasi pada komunitas lokal, yakni pelaku dan tenaga kerjanya harus lokal, juga harus bersinergi dengan seni budaya lokal. Artinya, outdoor tourism bisa dipadukan dengan seni budaya lokal yang dikemas secara epik.

Ketiga, diharapkan semakin memahami peta bisnis (pasar) wisatawan domestik yang diperlukan pada jangka pendek maupun wisatawan global di jangka panjang. Menteri Sandiaga Salahuddin Uno dalam sambutannya setelah diperkenalkan presiden, menyatakan strategi kementerian yang akan dia pimpin tidak hanya survive tetapi juga thrive. Artinya, tidak hanya bertahan tetapi juga menangkap peluang pasar wisatawan. Karena itu, sekalipun diprediksikan bahwa market wisatawan asing di Indonesia bergeser ke segmen medium dan short haul seperti negara-negara Asia Pasifik dan ASEAN, dengan inovasi, tentu itu memungkinkan untuk membuka pasar-pasar wisatawan global yang selama ini tertutup dan tidak optimal.

Kiranya, pariwisata baru bisa menjadi harapan para pelaku usaha dan pekerja di bidang pariwisata serta siapa pun yang bergantung pada sektor pariwisata. Tentu, untuk memimpin sektor pariwisata di masa-masa sulit saat ini sangat terasa. Untuk itu, siapa pun yang menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat ini haruslah didukung seluruh pihak, tidak dituntut berlebihan dan tidak dibebankan seluruh harapan pemulihan. Sebab, sebagaimana kepariwisataan itu sendiri adalah lintas sektoral, maka kinerja kementeriannya pun multisektor. (*)

*) Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia