Sabtu, 16 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Ekonomi Bisnis
icon featured
Ekonomi Bisnis

Banyuwangi Catat Inflasi Desember 0,43 Persen

06 Januari 2021, 16: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PICU INFLASI: Pedagang menjajakan daging ayam di Pasar Banyuwangi kemarin (5/1).

PICU INFLASI: Pedagang menjajakan daging ayam di Pasar Banyuwangi kemarin (5/1). (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Share this          

JawaPos.com – Perekonomian Banyuwangi terus bangkit dan bergerak. Setidaknya itu terbukti dari inflasi yang terjadi di Bumi Blambangan pada penutup tahun lalu.

Ya, setelah sempat mengalami deflasi pada periode Agustus dan September lalu, Banyuwangi kembali mengalami inflasi pada Desember 2020. Inflasi tersebut terjadi lantaran kenaikan harga yang ditunjukkan oleh meningkatnya indeks harga sejumlah kelompok pengeluaran. Antara lain kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok transportasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi melansir, pada Desember 2020 Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,43 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 104,04. Sedangkan tingkat inflasi tahun kalender 2020, yakni mulai Januari hingga Desember mencapai 1,74 persen. Sementara tingkat inflasi tahun ke tahun, dari Desember 2019 dan Desember 2020 sebesar 1,74 persen.

Kepala BPS Banyuwangi Tri Erwandi mengatakan, beberapa komoditas mengalami kenaikan harga pada Desember. Di antaranya cabai rawit, daging ayam ras, tomat, cabai merah, dan jeruk. Selain itu, tarif kendaraan travel juga naik. ”Meskipun masih dalam situasi pandemi, ternyata moda angkutan darat dan udara masih terkerek inflasinya,” ujarnya.

Sebaliknya, pada periode yang sama beberapa komoditas turun harga, yaitu emas perhiasan, udang basah, pepaya, ayam hidup, dan buah naga. ”Inflasi Desember 2020 tertahan turunnya beberapa komoditas, di antaranya emas perhiasan sebesar 3,65 persen dengan andil deflasi sebesar 0,12 persen,” kata dia.

Sekadar diketahui, pada Agustus dan September Banyuwangi mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,01 persen dan 0,17 persen. Namun, pada Oktober 2020 Banyuwangi mencatat inflasi sebesar 0,07 persen. Pun demikian dengan November lalu. Kala itu Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,2 persen.

Kepala Bank Indonesia Jember Hestu Wibowo menjelaskan, inflasi sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus selalu dikhawatirkan dan ditakutkan. Sebab, inflasi juga menjadi penanda adanya pergerakan dan pertumbuhan ekonomi di suatu daerah, apalagi di masa pandemi sekarang ini. ”Inflasi menunjukkan adanya kegiatan supply dan demand yang berjalan. Namun yang harus diperhatikan adalah angka inflasi harus terjaga pada tingkat yang diharapkan, caranya dengan pengendalian. Karena jika di suatu daerah angka inflasinya terlalu tinggi atau terlalu rendah berarti ada masalah pada perekonomian daerah tersebut,” ujarnya saat mengikuti High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Banyuwangi di Pendapa Sabha Swagata Blambangan November 2020 lalu.

Di masa pandemi saat ini, kata Hestu, sejumlah daerah di Jawa Timur mengalami deflasi masuk ke angka minus (rendah). Provinsi Jatim juga mengalami deflasi hingga Oktober, termasuk Banyuwangi juga mengalami deflasi di bulan Agustus dan September. ”Nah pada Oktober, Banyuwangi sudah keluar dari deflasi dengan mengalami inflasi sebesar 0,07 persen. Ini menunjukkan perekonomian daerah mulai bangkit dan bergerak. Hal ini sesuai dengan laporan BPS di mana sektor pariwisata daerah mulai bergeliat dan berangsur pulih. Bidang akomodasi, makanan, dan minuman juga terus mengalami kenaikan,” terangnya. (sgt/afi/c1)

(bw/sgt/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia