Rabu, 02 Dec 2020
radarbanyuwangi
Home > Situbondo
icon featured
Situbondo

Jumlah Masyarakat Tertular Demam Berdarah Menurun

11 November 2020, 16: 47: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TETAP WASPADA: Selokan berpotensi menjadi tempat berkembangnya nyamuk Aedes Aegypti. Karena itu, kebersihannya tetap terjaga. Seperti jangan dibiarkan tersumbat

TETAP WASPADA: Selokan berpotensi menjadi tempat berkembangnya nyamuk Aedes Aegypti. Karena itu, kebersihannya tetap terjaga. Seperti jangan dibiarkan tersumbat (HABIBUL ADNAN/JPRS)

Share this          

JawaPos.com - Dinas Kesehatan mencatat, masyarakat yang tertular demam berdarah mengalami penurunan. Akan tetapi, jumlah kematian justru meningkat. Kasus Demam Berdarah Dengeu (DBD) di Situbondo pada tahun 2020 sampai bulan ini, tercatat ada 224 kasus dengan tiga kematain. Jika dibandingkan dengan kejadian di tahun sebelumnya, terjadi penurunan kasus.

Kasie Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes), Heriyawan menjelaskan, di tahun 2019 lalu, sampai Bulan November 2019, sudah mencapai 250 lebih warga Situbondo tertular demam berdarah. Tetapi, kasus kematian meningkat. “Karena tahun sebelumnya ada satu kasus,” jelasnya.

Meski jumlah kematian lebih banyak, tapi masih belum bisa dikatakan kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus DBD. Sebab, di satu sisi terjadi penurunan kasus penularan. “Ada banyak faktor klasifikasi kejadian luar biasa,” terang Heriyawan.

Sementara itu, dari tiga kasus DBD yang meninggal dunia itu, satu orang dewasa dan dua anak-anak. Heriyawan mengatakan, setelah dikroscek, ternyata disebabkan karena faktor lingkungan kurang bersih. “Kita selediki ke bawah, ternyata lingkungannya banyak sarang nyamuk,” imbuhnya.

Karena itu, untuk mencegah berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti, yang paling utama adalah menjaga kebersihan lingkungan. Jangan sampai membuat lingkungan menjadi tempat perindukan atau pertumbuhan nyamuk. “Perkembangan nyamuk itu dari jentik,” jelasnya.

Makanya, yang perlu dilakukan, tidak membiarkan munculnya jentik. Ada beberapa tempat yang berpotensi terjadinya perkembangbiakan jentik. Seperti air menggenang. “Makanya disarankan, agar bak mandi di rumah dikuras sekali seminggu,” saran Heriyawan.

Untuk mencegah berkembangbiaknya jentik di air, sudah ada gerakan untuk tidak menggunakan bak mandi di jeding. Seperti di sekolah-sekolah yang sudah mulai menggunakan ember di kamar mandi. “Tidak boleh ada bak mandi, dan diganti ember. Dengan cara ini, tidak ada perindukan nyamuk dari jentik itu,” katanya.

Untuk langkah antisipatif itu, ada gerakan, satu rumah satu jumantik. Yaitu ada satu orang yang menjadi motor penggerak menjaga kebersihan di dalam rumah tangganya. “Dialah yang punya kesadaran mengecek dan mengawasi rumahnya agar tidak muncul jentik,” pungkas Heriyawan.

(bw/bib/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia