Rabu, 25 Nov 2020
radarbanyuwangi
Home > Events
icon featured
Events

Dulu Malu, Kini Bangga Jadi Warga Banyuwangi

07 November 2020, 09: 23: 20 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

DISKUSI: Dinda (kiri) memandu talk show Vemale Program dengan narasumber Dewan Pengarah DKB H Samsudin Adlawi, Ketua DKB Hasan Basri, dan GM JP-RaBa Bayu Saksono pagi kemarin.

DISKUSI: Dinda (kiri) memandu talk show Vemale Program dengan narasumber Dewan Pengarah DKB H Samsudin Adlawi, Ketua DKB Hasan Basri, dan GM JP-RaBa Bayu Saksono pagi kemarin. (BLAMBANGAN FM For RaBa)

Share this          

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Sepuluh tahun Kabupaten Banyuwangi bangun dari tidurnya. Tidak hanya bersolek tapi menyulap diri dari sebuah kota yang terkesampingkan menjadi kota favorit yang penuh prestasi.

Kondisi ini membuat masyarakat Bumi Blambangan bangga menjadi warga Kabupaten Banyuwangi. Inilah yang terungkap dalam talk show Vemale Program siaran langsung Radio Blambangan FM pagi kemarin (6/11). Acara yang dipandu Dinda ini menghadirkan tiga narasumber. Mereka adalah Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri, Dewan Pengarah DKB H Samsudin Adlawi, dan General Manager JP-Radar Banyuwangi Bayu Saksono.

Samsudin Adlawi mengatakan, DKB bersama Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi dan Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) menggelar lomba cipta lagu dan menulis esai. Tema lomba tersebut adalah 10 Tahun Banyuwangi Penuh Inovasi. ”Kondisi penuh inovasi ini menghasilkan lebih 300 prestasi Banyuwangi, mulai level nasional hingga penghargaan juara internasional,” tuturnya.

Sementara itu, Hasan Basri mengakui ada perubahan yang mendasar yang dialami masyarakat Banyuwangi. Zaman dulu, kata dia, masyarakat termasuk dirinya sempat malu kalau mengaku sebagai warga Banyuwangi. Karena waktu itu Banyuwangi hanya dikenal sebagai daerah dengan hal-hal yang negatif. ”Tapi sekarang sudah berubah. Kita bangga menjadi warga Banyuwangi,” tegasnya.

 Hasan menambahkan, sebagai rasa syukur terhadap keberhasilan yang telah diraih Banyuwangi, pihaknya ingin memberikan sebuah tetenger berupa karya lagu dan karya tulis. Kedua lomba ini diperuntukkan untuk masyarakat Banyuwangi yang berdomisili di Banyuwangi. Lomba cipta lagu kali ini dengan syair atau lirik bebas, namun diutamakan menggunakan bahasa Indonesia dan atau bahasa Osing. ”Bahasanya boleh campur antara bahasa Indonesia dan bahasa Osing. Kalau mau diimbuhi bahasa Inggris juga diperkenankan,” jelasnya.

Hasan menambahkan, jenis lagu yang bisa diikutkan dalam lomba bebas. Bisa himne, mars, pop, atau yang lainnya. Alat musik yang dipergunakan juga tidak terbatas. Bisa akustik, elektrik, dan boleh menggunakan alat musik modern maupun alat musik tradisional. Peserta cukup mengumpulkan karya lagu berbentuk file dengan format .MP3 atau .MP4. Langsung diserahkan di Grha Pena Banyuwangi Jalan Brawijaya 77 Banyuwangi. Pendaftaran dan pengumpulan karya dimulai Senin mendatang (9/11) hingga 4 Desember mendatang. ”Semangatnya melanjutkan Umbul-umbul Belambangan,” ujarnya.

Bayu Saksono menambahkan, untuk lomba menulis esai itu pada dasarnya sama seperti lomba cipta lagu 10 Tahun Banyuwangi Penuh Inovasi. Namun, ada kategori khusus yakni untuk pelajar serta kategori Aparat Sipil Negara dan kategori Umum. Panjang tulisan esai antara 700 kata sampai 900 kata. Isi opini tidak mengandung unsur SARA dan bukan politik. ”Karya dikirim melalui email panitia,” pungkasnya.

(bw/rbs/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia