Minggu, 24 Jan 2021
radarbanyuwangi
Home > Banyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Hasnan Singodimayan, Terus Berkarya di Usia Senja

05 November 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Syaifuddin Mahmud

PENGAKUAN: Hasnan Singodimayan menunjukkan piagam Anugerah Sutasoma di rumahnya Kelurahan Singonegaran kemarin.

PENGAKUAN: Hasnan Singodimayan menunjukkan piagam Anugerah Sutasoma di rumahnya Kelurahan Singonegaran kemarin. (RAMADA KUSUMA/RABA)

Share this          

Berita Terkait

JawaPos.com -  Singodimayan bukan sosok asing di jagat penulisan dan seni budaya Banyuwangi. NHasnanamanya selalu muncul setiap tahun dalam berbagai kesempatan. Baru-baru ini, dia menerima Anugerah Sutasoma, sebuah penghargaan cukup bergengsi dalam pengembangan sastra di Jawa Timur.

Dari tempat tinggalnya yang sederhana tidak jauh dari bibir Sungai Kalilo, Hasnan banyak melakukan proses kerja kebudayaan hingga menuai berbagai pengakuan. Terakhir, jelang perayaan bertambahnya usianya ke-89 pada 17 Oktober lalu, dia menjadi salah satu penerima Anugerah Sutasoma Balai Bahasa Jawa Timur 2020.

Kini piagam tersebut terpampang tepat di dinding ruang tamu rumahnya, menghadap ke arah kursi tamu. Piagam itu dibingkai dalam pigura warna keemasan. Terlihat masih baru dan cukup mengkilap. 

Bagi Hasnan, penghargaan itu bukanlah tujuan. Sembari berseloroh, dia menegaskan penganugerahan itu tidak serta-merta membuatnya berbangga. ”Ini (Anugerah Sutasoma) kasep, Menteri Pendidikan dan Provinsi Bali sudah memberi penghargaan lebih dulu, Jawa Timur baru kemarin,” ucapnya dengan nada tinggi disertai gelak tawa renyah.

Anugerah Sutasoma memang bukan penghargaan atau pengakuan pertama yang dia terima. Di ruang tamu yang dipenuhi tumpukan buku dan beberapa perkakas lawas, setidaknya terpampang beberapa plakat penghargaan. 

Salah satu dan yang paling dia banggakan, sebuah tanda anugerah kebudayaan Maestro Seni Tradisi 2017. Lembar penghargaan bertarikh 12 September 2017 itu ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Muhadjir Effendy MAP. Penghargaan itu dipasang berjejer dengan penghargaan lainnya. ”Kalau ini kemarin saya datang dan saya ambil bersama Bonang (anaknya),” jelasnya.

Berbeda dengan beberapa penghargaan, piagam Anugerah Sutasoma memang diantar petugas ke rumahnya. Saat penganugerahan Sutasoma berlangsung, Hasnan justru berada di Pendapa Sabha Swagata Blambangan mengikuti pelantikan pengurus Dewan Kesenian Blambangan (DKB). Namun, bukan itu semata yang membuat dirinya tidak menghadiri acara di Surabaya tersebut. Dia juga menyebut ketidakhadirannya juga demi mengurangi risiko di tengah pandemi. ”Saya tidak bisa hadir antara lain karena pandemi,” ungkapnya.

Tidak berlebihan jika kakek empat cucu ini menjadi salah satu penerima anugerah. Karirnya di dunia kepenulisan, khususnya yang mengangkat unsur Banyuwangi memang sudah berlangsung sejak lama. Bahkan, hingga saat ini setidaknya tujuh karya novel dengan setting Banyuwangi sudah dia terbitkan. ”Saya ini menulis sejak tahun 1955, di berbagai media,” ungkapnya. 

Sejumlah karya sastra yang dia bidani memang bermuatan Banyuwangi. Di antara yang cukup dikenal dari Badai Selat Bali (1994), Kerudung Santet Gandrung (2003), Suluk Mutazilah (2011), dan Niti Negari Bala Abangan (2015). Karya-karya itu selain laris dibaca juga menjadi bahan kajian para akademisi di perguruan tinggi. ”Saya ini sudah ada tujuh novel, Banyuwangi semua,” terangnya.

Tidak sekadar menulis, Hasnan juga rajin berburu dan mengumpulkan informasi dari kliping-kliping surat kabar dan majalah. Kebiasaan ini dirinya kaya akan perbendaharaan sosial dan budaya Banyuwangi. Selain itu, kekayaan pustaka telah menjadikan karyanya cukup kuat menyajikan Banyuwangi dari sudut pandang berbeda. Tradisi ini pula yang dia tularkan kepada para penulis muda Banyuwangi. ”Baca yang banyak baru menulis, ada film baru tonton,” ungkapnya.

Dalam setiap prosesnya, Hasnan juga memadukan pengalaman dan catatan yang terserak dalam arsip-arsip catatan sejarah. Termasuk cerita mengenai Kalilo yang menjadi saksi lahir dan tumbuh kembangnya sebagai lare Banyuwangi. Di sela obrolan terkait pencapaiannya dalam berkarya sore itu, Hasnan mengajak untuk menguak penyebutan Kalilo. ”Kalilo ini, kenapa disebut Kali Lo?” ujarnya menantang.

Dari penelusuran yang dia pelajari, Kalilo berasal dari zaman Puputan Bayu. Saat itu, tercatat ada sekitar 300 laskar dari Bali yang datang membantu perjuangan laskar Bayu. Dalam perjalanannya ke Banyuwangi, para laskar ini ternyata juga menyertakan istri mereka. Dan mereka ditempatkan di kawasan yang kini bernama Kalilo ini. ”Lo itu awalnya Niluh, mereka ada di sini,” ungkapnya.

Saat para Laskar Bali ini gugur di palagan, para istri mereka ini tetap setia (kanti) berada di tempat semula mereka diturunkan. Kondisi ini lambat laun disebut lohkanti. ”Jadi, (penamaan) kali ini bukan karena pohon lo,” terangnya.

(bw/sli/aif/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia