Rabu, 25 Nov 2020
radarbanyuwangi
Home > Kesehatan
icon featured
Kesehatan

Sudah Ditekel RSUD dan RS Swasta, Gedung Wanita Tak Difungsikan

04 November 2020, 17: 07: 51 WIB | editor : Ali Sodiqin

TAK SAMPAI DIFUNGSIKAN: Perbaikan Gedung Wanita Paramita Kencana  disiapkan sebagai rumah sakit darurat pasien Covid-19 Banyuwangi.

TAK SAMPAI DIFUNGSIKAN: Perbaikan Gedung Wanita Paramita Kencana disiapkan sebagai rumah sakit darurat pasien Covid-19 Banyuwangi. (RAMADA KUSUMA/ RABA)

Share this          

JawaPos.com – Pemeliharaan Gedung Wanita Paramitha Kencana untuk fasilitas kesehatan penunjang penanganan Covid-19 selesai dikerjakan. Sayangnya, gedung yang menghabiskan anggaran pemeliharaan hampir Rp 1 miliar tersebut belum maksimal penggunaannya.

Perbaikan gedung wanita dilakukan di bagian luar dan dalam gedung. Seluruh atap plafon semuanya masih tampak baru, termasuk lampu-lampunya. Begitu pula dengan dinding gedung, semuanya tampak baru dicat.

Dinding kaca dan pintu gerbang pada sebelah utara dan selatan juga terlihat gres. Di dalam gedung juga  terlihat sekat mirip kamar (bilik) tempat perawatan, termasuk sejumlah perlengkapan seperti kasur dan peralatan kesehatan lainnya. Semua masih tampak baru dan belum dipergunakan.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Banyuwangi dr Widji Lestariono mengatakan, perbaikan gedung wanita tersebut dilakukan untuk disiapkan sebagai rumah sakit darurat pasien Covid-19 Banyuwangi. Di awal pandemi korona telah dilakukan sejumlah perencanaan dan rumusan. Termasuk di antaranya penyiapan rumah sakit darurat yang berada di Pendapa Sabha Swagata Blambangan dan Gedung Wanita Paramitha Kencana yang berada di depan Taman Blambangan.

Dalam perjalanannya, rumah sakit swasta juga diminta meningkatkan ruang isolasi. Ternyata RSUD dan RS swasta sanggup dan mampu menampung pasien terkonfirmasi positif Covid-19. ”Alhamdulillah RS darurat di gedung wanita tidak sampai kita fungsikan karena RSUD dan RS swasta sudah bisa menampung pasien terkonfirmasi positif Covid-19,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk penggunaan Balai Diklat PNS di Desa Tamansari, Kecamatan Licin saat ini hanya untuk isolasi pasien OTG yang tidak memerlukan intervensi secara khusus. Melainkan lebih untuk menekan kasus penularan virus korona.   

Salah satunya dilandasi bahwa di Banyuwangi klaster keluarga cukup tinggi. Anggota keluarga justru tertular dari anggota keluarga lainnya di dalam rumah.

Dasar kedua, kata dokter Rio, dari hasil pemantauan ternyata para OTG tidak melakukan proses isolasi mandiri dengan baik. Indikasinya masih banyak yang keluar rumah dan berinteraksi dengan keluarga lainnya.

”Maka untuk menekan klaster keluarga tersebut, para OTG yang sudah terdeteksi kita isolasi di Balai Diklat Licin agar mereka tidak bisa berinteraksi dengan keluarga dengan warga yang lain sebelum benar-benar sembuh,” terang dokter Rio.

Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Penataan Ruang (PUCKPP) Danang Hartanto membenarkan pemeliharaan gedung wanita tersebut bertujuan untuk mempersiapkan RS darurat bagi pasien Covid-19. Anggarannya berasal dari dana darurat Covid-19. Di antaranya untuk pekerjaan bilik disinfeksi, rehab plafon, lantai, dan kamar mandi. Danang menyebutkan nilai proyek mencapai Rp 900 juta lebih. ”Jadi ada pekerjaan bilik isolasi, rehab plafon, lantai, dan kamar mandi,” jelas Danang.

Pelaksanaan pengerjaan proyek tersebut, jelas Danang, dilakukan tanpa lelang alias penunjukan langsung kepada CV Elang Perkasa Banyuwangi. Selain gedung wanita, pemeliharaan lain yang disiapkan untuk penunjang penanganan Covid-19 adalah dormitory atlet yang rencananya disiapkan dan difungsikan untuk tempat tinggal sementara para tenaga medis yang menangani pasien Covid-19.

(bw/ddy/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia