Rabu, 25 Nov 2020
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
MAHBUB JUNAIDI

Komandan Banser yang Juga Bos Jaringan SadarDiri

03 November 2020, 16: 16: 18 WIB | editor : Ali Sodiqin

RAMAH: Owner Jaringan Kafe Sadardiri Mahbub Junaidi (kiri) melayani pelanggan yang datang ke kafe miliknya di Simpang lima Regency, Petahunan Desa Jajag, Kecamatan Gambiran.

RAMAH: Owner Jaringan Kafe Sadardiri Mahbub Junaidi (kiri) melayani pelanggan yang datang ke kafe miliknya di Simpang lima Regency, Petahunan Desa Jajag, Kecamatan Gambiran. (SHULHAN HADI/RABA)

Share this          

JawaPos.com – Entrepreneur dan aktivis sering ditempatkan pada kutub yang berbeda. Namun, di tangan Mahbub Junaidi, dunia aktivis bisa berjalan beriringan dengan usaha yang dia geluti.

Di tempat tinggalnya, yang berada Simpang Lima Regency, Dusun Petahunan, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Sahabat Mahbub –begitu panggilan akrabnya— mengelola sebuah kafe dengan nuansa rustik. Kafe yang dinamainya Sadardiri ini merupakan satu dari sembilan kafe serupa yang tersebar di beberapa kota di Jawa Timur. ”Jumlahnya itu ada sembilan, beberapa di Surabaya, Gresik, dan Lamongan,” jelasnya.

Tidak sekadar kafe yang dijadikan jujugan tempat ngopi, lokasi punya nilai plus tersendiri bagi para penikmat kopi. Kafe yang mudah dijangkau dari kawasan Simpang Lima Jajag ini menawarkan nuansa lebih tenang dan jauh dari kebisingan kendaraan. Namun, sangat dekat dengan jalur utama kota Jajag.

 Mahbub mendesain lokasi usahanya tersebut ramah untuk kalangan pelajar atau mahasiswa.  Di samping berbagai menu andalan, fasilitas penunjang baik dari sisi keamanan maupun kenyamanan dia utamakan. Jaringan internet dengan kecamatan tinggi sengaja dia sediakan untuk memudahkan aktivitas ngopi bisa berpadu dengan kerja. ”Satu inovasi, beri nuansa tempat yang berbeda. Berikan yang nyaman untuk mengerjakan tugas,” terangnya.

Selain itu, menjadi pemilik kafe harus memiliki jiwa yang bernuansa kopi. Mahbub memilih membuka kafenya lebih awal dibanding kafe yang lain. Bahkan, jika hari Minggu, sebelum pukul 07.00 kafenya sudah siap melayani konsumen. Dan inovasi pemilihan waktu ini mendapat sambutan hangat dari para penggemar gowes setiap akhir pekan. ”Kita buka lebih awal, kita budayakan sebelum kerja harus ngopi Sadardiri,” ungkapnya.

Aktivitas Mahbub di dunia organisasi terbilang serius, sejalan dengan keseirusannya mengelola sejumlah lini usaha di bidang peternakan dan agrobisnis. Selama di Banyuwangi dia meniti karir di pengurusan gerakan Pemuda Ansor NU, mulai dari tingkat ranting hingga di pimpinan Cabang. Bahkan, saat ini dirinya diamanahi menjadi komandan Banser Cabang Banyuwangi. ”Ya Alhamdulillah saat ini berjuang bersama sahabat-sahabat Banser,” jelasnya.

Bagi Mahbub, tanggung jawab ini pula yang sejak lama dia aplikasikan ke dalam tempat usahanya. Sebagai anak muda, Mahbub tergerak melibatkan sesama anak muda menjadi mitra usahanya. Dari sejumlah aturan, kriteria umur menjadi patokan yang tidak bisa ditawar. Selanjutnya setelah menginjak usia 30 tahun, para pemuda yang menjadi karyawan di tempat usahanya harus sudah memiliki usaha sendiri. ”Karyawan saya tidak ada yang 30 tahun, Setelah itu, ikut saya karyawan harus punya bisnis,” jelasnya.

Dunia kafe bagi pria yang hobi menunggang kuda ini bukan sekadar bisnis asal-asalan. Mahbub memiliki komitmen memberdayakan pemuda terutama lulusan SMK yang tidak kunjung kerja, sedangkan untuk manajer dia memilih harus S-1. Komposisi ini agar terjadi iklim timbal balik yang menyenangkan antara karyawan. ”S-1 itu kalau memanajerial minimal ada ilmunya. Anak SMK itu ada etosnya,” jelasnya.

Yang menarik, sejak awal Mahbub menanamkan etos kerja dan berbagai baik di internal mereka maupun dengan yang lain. Setiap tiga bulan sekali, secara khusus Sadardiri membuka kelas pelatihan barista untuk remaja. ”Ini sudah empat kali kelas barista bareng Bobsaso Foundation,” terangnya.

Selain itu, pada kurun waktu itu mereka memproduksi merchandise eksklusif yang hasil penjualannya untuk donasi. ”Hasil merchandise itu kita sisihkan untuk anak yatim, karyawan biar belajar dan tahu,” ungkapnya.

Pernah terlibat dalam sebuah lembaga konsultan politik, tidak serta-merta membuatnya memutar arah. Ketika para pemuda di usianya banyak yang terjun ke dalam dunia politik praktis, Mahbub mengaku lebih asyik menekuni dunia usaha. Namun, konstelasi politik bukan hal yang terlupakan. Menjadi pemerhati politik berbasis keilmuan sembari menguatkan capacity building merupakan cara terbaik menyikapi politik. ”Semakin mandiri semakin bebas berpolitik, berkah politik itu rezeki tak terduga,” ujarnya.

(bw/sli/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia