Rabu, 25 Nov 2020
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

MAN NAHNU: The PoS

27 Oktober 2020, 07: 02: 36 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

MAN NAHNU: The PoS

Share this          

BANYUWANGI juara. Ah, itu sudah biasa. Tidak mengejutkan lagi.

Menjadi juara, bagi Bumi Blambangan, sudah menjadi langganan. Sama seperti ibu-ibu ketika belanja di pasar. Penjualnya tidak akan merasa heran. Lah wong saban hari kecaruk.

Beda kalau yang beli adalah orang baru. Yang benar-benar baru dilihatnya. Yang belum pernah  dikenal sebelumnya. Pasti, pembeli itu akan menjadi ‘’sesuatu’’. Si penjual akan mengobral cerita. Kepada teman-temannya. Sesama penjual. Bahkan keluarga di rumah: ‘’Tadi ada wanita cantik beli di tempat saya. Sudah cantik banyak pula uangnya. Belinya tidak pakai nawar. Langsung dibayar. Sebanyak yang saya sebutkan’’.

Justru, kelak, kalau Banyuwangi tidak pernah juara lagi, akan mengundang rasa penasaran. Bahkan, menjadi pertanyaan besar. Kok bisa ya. Kok tidak pernah juara lagi. Kenapa. Why. Limadza. Dan, banyak lagi pertanyaan yang lainnya.

Tapi, sekali lagi, Banyuwangi adalah kota juara. Punya DNA juara. Dan, juaranya tidak hanya dalam kondisi normal!

Dalam kondisi pandemi, ketika kabupaten dan kota di Indonesia kewalahan menghadapi pandemi Covid-19, Banyuwangi tetap bisa juara. Bukan hanya satu. Tadi ada beberapa piala yang didapat kota The Sunrise of Java.

Yang tergres, Banyuwangi mendapat anugerah TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) Terbaik. TPID Award 2020 itu diserahkan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Ketua Umum Partai Golkar itu menyerahkannya kepada kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Kamis (22/10), lalu.

TPID Award bukan penghargaan ecek-ecek. Apalagi di musim pandemi Covid ini. Penghargaan itu menjadi sangat prestisius. Semua orang tahu. Pandemi Covid selama 10 bulan terakhir mengguncang perekonomian. Dunia usaha limbung. Banyak perusahaan mem-PHK dan merumahkan karyawannya. Sejumlah negara jatuh ke jurang resesi. Indonesia masuk di dalamnya.

Mengendalikan inflasi dalam kondisi pandemi Covid bukan pekerjaan mudah. Daya beli masyarakat rendah. Harga-harga komoditi mengalami tekanan hebat. Dibutuhkan strategi jitu untuk mengatasinya.

Intinya, inflasi harus dikelola dengan cermat. Daya beli harus terus dijaga. Bila perlu malah diperkuat!

Dan, semua itu sukses dilakukan oleh pemkab Banyuwangi. Pemkab melakukan penguatan dan pemerataan ekonomi rakyat. UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) terus ditumbuhkan. Minimal dijaga agar tidak lesuh darah. Upaya itu dicantolkan pada kegiatan pariwisata dan pertanian. Yang, alhamdulillah, kedua bidang itu mulai menggeliat kembali di Banyuwangi. Juga pembukaan usaha-usaha baru. Seperti pabrik sepur terbesar se Asia Tenggara, Jatim Park, dan hotel-hotel baru.

Hebat, bukan!

Penghargaan lebih prestisius juga diterima pemkab Banyuwangi. Di masa pandemi ini juga. Kali ini penghargaan dari kemendagri. Kementerian yang membawahi langsung pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.

Kemendagri menetapkan pemkab Banyuwangi sebagai pemerintahan berkinerja terbaik nasional. Mengalahkan 541 kabupaten/kota di Indonesia. Penilaian kinerja itu meliputi urusan pemerintahan bidang pendidikan, kesehatan, PUPR, pertanian, pariwisata, dan penanganan kemiskinan.

Kenapa Banyuwangi hebat. Di kondisi normal dan abnormal. Sudah menjadi rahasia umum, kinerja sebuah organisasi–apapun nama dan jenisnya, tergantung dari leadership. Seberapa cerdas dan kreatif top leader-nya. Pemimpin yang diam saja, tentu tidak sama dengan pemimpin yang terus umeg. Tidak enak diam. Selalu mencari ide. Belanja ide baru. Demi untuk memajukan organisasinya. Menyejahterakan orang-orang dalam organisasinya.

Biasanya, pemimpin yang ‘’diam saja’’ akan mengurus organisasinya apa adanya. Yang penting jalan dan selamat. Ia menjalankan roda organisasinya secara textbooks. Tidak berani membuat program dan kebijakan yang out of the box. Hasilnya, yo mung gedigu-gedigu baen. Lempeng. Tidak ada bedanya dengan yang lainnya.

Kalau sudah begitu, sampai kiamat tidak akan pernah bisa juara. Apalagi di alam seperti saat ini. Yang membutuhkan kreativitas tingkat dewa. Untuk menggapai sebuah kemajuan. Kemajuan yang menyejahterakan.

Banyuwangi sangat beruntung. Punya Pak Anas. Bupati muda yang banyak ide. Dan, keinginan kuat untuk memajukan daerahnya. Terus membangkitkan  DNA juara yang dimiliki Banyuwangi.

Tapi, meski nyata-nyata telah ‘’menyulap’’ kota kelahirannya dari nothing something, Pak Anas tidak jemawa. Saat pidato di sejumlah acara, ia dengan lantang mengatakan: ‘’Kemajuan Banyuwangi bukan karena Anas seorang. Tapi karena kekompakan semua ASN pemkab Banyuwangi dan para stake holder.’’

Pada kesempatan lain, Pak Anas malah menegaskan, kemajuan yang dicapai Banyuwangi saat ini bukan karena dirinya seorang superman. ‘’Melainkan lebih dikarenakan kerja superteam’’.

Pernyataan itu 100% betul. Pembuktiannya gampang. Cukup memperhatikan setiap event dari 100 lebih event Banyuwangi Festival (B-Fest). Semua ASN di semua dinas dilibatkan. Tujuannya, agar semua ASN merasa ikut punya andil ‘’membesarkan’’ Banyuwangi. Mereka bisa berkiprah optimal karena dinasnya menjadi salah satu penyelenggara event B-Fest.

Mereka menjadi the big superteam. Kekuatan superteam itu sungguh dahsyat. Berkat The Power of sSuperteam (The PoS), Banyuwangi pun dikenal sebagai kota festival. Dan, meraih banyak penghargaan. Lebih penting lagi, angka kunjungan wisatawan ke Kota Gandrung meningkat beratus-ratus lipat. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat. Kesejahteraan mereka ikut terkerek.

Hampir semua ASN sangat bergairah. Baik ketika terlibat event B-Fest, maupun kegiatan yang lain. Mereka berusaha terus umeg. Menjalankan aktivitas kantor sesering-seringnya. Karena apa yang dilakukannya tidak berakhir sia-sia. Setiap aktivitas punya harga. Mereka berhak menerima TPP (Tambahan Penghasilan Pegawai). Konon, nilai TPP Banyuwangi cukup tinggi. Di Jawa Timur hanya kalah oleh kota Surabaya.

Tapi, wa ba’du, seperti umumnya organisasi, tidak semua orang di dalamnya punya visi yang sama. Ada sebagian yang punya sikap dan pikiran berbeda. Pun di Banyuwangi. Rasa-rasanya, ada yang kurang happy terhadap kemajuan Banyuwangi yang diungkit lewat B-Fest. Meski tidak banyak jumlah mereka.

Bisa dimaklumi. Mungkin mereka punya pemikiran sendiri dalam membangun Banyuwangi. Bukan lewat festival, yang menurut mereka, membuat lelah dan menguras waktu. Mereka menutup mata tentang adanya TPP. Lebih baik tidak menerima TPP dan bekerja normal-normal saja. Datang di kantor, selesaikan pekerjaan reguler, lalu pulang kumpul keluarga.

Beda pikiran seperti itu masih bisa dimaklumi. Yang memprihatinkan bila ada yang sampai beda tujuan. Ada tipe orang yang ketika diberi kepercayaan memimpin dinas atau bagian, ia menyusun program untuk memenuhi target pribadinya. Padahal, sebagai bagian dari organisasi besar bernama pemkab, program-program di dinas atau bagian harus senafas dengan program bupati. Bahkan, ketika program si kepala dinas, misalnya, mendapat penghargaan, yang menerimanya tetap harus kepala daerahnya. Sebab, penghargaannya untuk daerahnya. Bukan untuk kepala dinas. Kepala dinas tadi tidak boleh ‘’marah’’. Ngambek. Apalagi, sampai dendam.

Sangat gampang menemukan tipe orang seperti itu. Cukup memperhatikan sikapnya ketika tujuannya tidak tercapai. Cara yang lain, perhatikan tema pembicaraannya. Jika ia merasa selalu tidak puas dengan sikap dan keputusan atasannya (sebut saja bupati, misalnya), berarti ia tidak ikhlas menjalankan tugasnya. Alias punya tujuan dan target tersembunyi dalam memimpin organisasi yang diamanahi oleh pemimpin di atasnya.

Yang terakhir, ada tipe bawahan yang sibuk mencari informasi harta atasannya. Ada semacam bibit-bibit iri atas harta yang dimiliki atasannya. dalam hal ini, harta bisa berarti uang dan juga jaringan.

Kasihan orang seperti itu. Ia tidak mengerti bahwa rejeki tidak akan pernah tertukar. Setiap orang punya jatah rejeki masing-masing. Rejeki pegawai sudah barang tentu tidak sama dengan pejabat. Rejeki kepala bagian/dinas jelas tidak sama dengan rejeki wakil bupati dan bupati. Kalau ada kepala dinas/bagian iri sama rejeki wakil bupati/bupati, itu sangat aneh. Apalagi, yang iri itu staf.

Lebih parah lagi, rasa iri itu dibiarkan membatu dalam hati. Berlumut menjadi dendam kesumat. Kalau sudah begitu, di mana pun ia berada, akan terus kampanye: jangan itu,  jangan dia, jangan pilih dia, jangan pilih orang-orang sekitarnya, jangan mau diajak kerja sama.

Mudah-mudahan kita tidak menjadi orang seperti itu. Aamiin. (Budayawan, Penyair)

(bw/aif/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia