Rabu, 28 Oct 2020
radarbanyuwangi
Home > Edukasi
icon featured
Edukasi
Untag Banyuwangi Bangun Trek Hutan Mangrove

Kembangkan Wisata Minat Khusus di Pantai Cemara

13 Oktober 2020, 14: 41: 15 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

TREK BAMBU: Rombongan wisatawan   melewati menikmati keindahan hutan mangrove di wisata Pantai Cemara Banyuwangi.

TREK BAMBU: Rombongan wisatawan melewati menikmati keindahan hutan mangrove di wisata Pantai Cemara Banyuwangi. (IRWAN FOR JAWAPOS.COM)

Share this          

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi-Ada yang baru di kawasan wisata Pantai Cemara di Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi. Destinasi wisata yang dikelola Kelompok Usaha Bersama (KUB) Pantai Rejo itu kini memiliki wahana baru berupa trek hutan mangrove. Jembatan bambu sepanjang 250 meter dibangun berkelok-kelok untuk menyusuri keindahan hutan mangrove yang lebat.

Melintasi rute trek hutan mangrove itu, wisatawan bisa menikmati wisata hutan mangrove yang lumayan panjang. Bermacam-macam spesies tanaman mangrove dengan habitat satwa di dalamnya menjadi suguhan menarik. Apalagi di bawah titian bambu terdapat sungai yang memberikan nuansa petualangan.

Ervina Wahyu Setyaningrum SPi MSi, dosen Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, yang selama ini mendampingi KUB Pantai Rejo  mengatakan bahwa trek hutan mangrove dari bambu tersebut merupakan hasil pemberdayaan masyarakat melalui KUB Pantai Rejo. Selama ini, Untag Banyuwangi bekerja sama dengan Poliwangi, Bappeda Kabupaten Banyuwangi, dan  Kemendikbud Dikti telah melakukan pendampingan di Pantai Cemara. “Saat ini pendampingan tersebut sudah memasuki tahun ketiga atau tahun terakhir kami mendampingi KUB Pantai Rejo,” tuturnya.

PELESTARIAN:Pengunjung melepas anak penyu di Pantai Cemara Banyuwangi.

PELESTARIAN:Pengunjung melepas anak penyu di Pantai Cemara Banyuwangi.

Menurut Ervina, pada tahun ketiga ini semua yang terbentuk sudah sesuai rencana. Pendampingan yang dilakukan bukan hanya terhadap pelestarian penyu, karena awalnya sudah dibantu oleh BUMN. Jadi, pendampingan juga fokus kepada pengembangan mangrove di Pantai Cemara. “Di tahun pertama, kita mulai dari melakukan  pengenalan pengetahuan tentang mangrove, baik itu fungsi ekologis maupun fungsi ekonomis,” terangnya.

Ditambahkan, dari fungsi ekologis telah berhasil dilakukan pembibitan. Bahkan sudah kontinu, sehingga KUB Pantai Rejo bisa dilepas dalam hal pembibitan mangrove. Nah, secara ekonomis sudah dikenalkan sebelas spesies, yang di antaranya bisa diolah menjadi makanan dan minuman. “Mereka sudah paham dan bisa mengolah menjadi peyek, teh, sirup, dan stik mangrove. Ini juga sudah berjalan,” ungkap Ervina.

Kendalanya adalah pemasaran. Harapannya bukan hanya Untag yang mendampingi. Tetapi pihak pemerintah juga membantu memasarkan. Bahkan membantu peningkatan kualitas. “Kami sudah membantu pengurusan PIRT dan mengajari pemasaran, tetapi mereka masih butuh pendampingan lebih lanjut,” katanya.

Program terakhir yang telah dilakukan adalah membentuk Pantai Cemara menjadi wisata minat khusus. Saat ini telah dibuatkan website untuk sarana media promosi. Bahkan tengah dibuatkan rekaman video profil Pantai Cemara. “Harapannya, video dan website ini bisa menarik wisatawan di mana saja berada untuk berkunjung ke Pantai Cemara,” cetusnya.

Wisatawan akan tertarik untuk datang ke Pantai Cemara, lalu menjajal trek hutan mangrove.  Trek hutan mangrove itu sebagai upaya membentuk wisata minat khusus di Pantai Cemara. Pasalnya, wisatawan akan melintasi hutan mangrove yang lebat dengan berbagai habitat di dalamnya. Kemudian di akhir trek akan melintasi tempat pembibitan mangrove dan pohon cemara. “Di situ, wisatawan akan diberi edukasi tentang bagaimana pembibitan mangrove dan cemara,” jelasnya.

Tidak hanya itu, wisawatan juga bisa melihat proses pengolahan mangrove menjadi makanan dan minuman. Ibu-ibu anggota KUB Pantai Rejo akan mempraktekkan cara pembuatan peyek, teh, sirup, dan kue stik dari bahan dasar mangrove. “Pengunjung bisa langsung menikmati hasil olahan mangrove dalam bentuk peyek, sirup, teh, dan kue stik,” imbuh Ervina.

Tak berhenti di situ. Wisatawan masih disuguhi pemandangan tempat pelestarian dan penangkaran penyu. Bahkan, mereka bisa melakukan pelepasan tukik atau anak penyu di tepi Pantai Cemara. “Dengan menjadi wisata minat khusus, harapannya Pantai Cemara akan memiliki paket wisata yang berbeda, sehingga pendapatannya pun bertambah,” harap Ervina.

Ketua KUB Pantai Rejo Muh Muhyi mengaku senang dan bersyukur kelompoknya bisa membangun  trek hutan mangrove sepanjang 250 meter. Jembatan itu dibuat dari bahan bambu dan batang kayu yang dirakit sangat kuat, sehingga konstruksi mampu menahan beban manusia. Dia berharap wahana baru tersebut bisa menjadi daya tarik wisatawan, sehingga meningkatkan jumlah kunjungan ke Pantai Cemara. “Kami akan terus menyempurnakan trek hutan mangrove ini dan meningkatkan kebersihan sungai dari sampah kiriman supaya semakin indah dan menarik,” janjinya. (*)

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia