Rabu, 28 Oct 2020
radarbanyuwangi
Home > Events
icon featured
Events
Lomba Pentigraf dan Putiba

Sastra Tiga, Solusi Mudah Belajar Sastra

07 Oktober 2020, 09: 24: 44 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

DIIKUTI RATUSAN GURU: Tengsoe Tjahyono berbagi ilmu menulis pentigraf dan putiba dalam dalam webinar yang digelar JP-RaBa bersama Dispendik dan MGMP Bahasa Indonesia kemarin.

DIIKUTI RATUSAN GURU: Tengsoe Tjahyono berbagi ilmu menulis pentigraf dan putiba dalam dalam webinar yang digelar JP-RaBa bersama Dispendik dan MGMP Bahasa Indonesia kemarin. (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Share this          

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Para guru dan siswa yang kemarin (6/10) mengikuti webinar bertajuk ”Cukup Tiga Paragraf” yang digelar Jawa Pos Radar Banyuwangi, Dinas Pendidikan, dan MGMP Bahasa Indonesia memperoleh ilmu baru. Mereka mendapatkan materi tentang Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) langsung dari penemunya, Tengsoe Tjahjono.

Ada ratusan guru bahasa Indonesia dan siswa yang ikut dalam webinar tersebut. Editor Bahasa Jawa Pos Radar BanyuwangiDesy Ariyani menjadi pembuka pertama dengan memperkenalkan gambaran umum tentang puisi serta perkembangan puisi dari masa ke masa yang terjadi di Indonesia. Termasuk, puisi tiga bait (Putiba) yang membuat puisi tak lagi terlihat baku dengan aturan-aturan lama.

Setelah itu, giliran Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Tengsoe Tjahjono yang mengulas tentang Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf).

DAPAT ILMU BARU: Dinas Pendidikan merespons positif kegiatan webinar yang mengusung tema ”Cukup Tiga Paragraf”. Dari materi tersebut siswa bisa mengikuti lomba penulisan pentigraf maupun putiba

DAPAT ILMU BARU: Dinas Pendidikan merespons positif kegiatan webinar yang mengusung tema ”Cukup Tiga Paragraf”. Dari materi tersebut siswa bisa mengikuti lomba penulisan pentigraf maupun putiba (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Kepada peserta webinar, Tengsoe mengatakan, sebenarnya dirinya sudah mulai menggagas Pentigraf sejak tahun 80-an. Namun akhirnya baru mulai tahun 2014-an gagasannya tersebut dikembangkan. ”Saat ini ada 4.000-an anggota komunitas pentigraf. Dari bermacam profesi mulai dokter, guru, dan wartawan,” kata pria kelahiran Jember itu.

Secara lugas, Tengsoe pun menjelaskan apa itu pentigraf. Bagaimana sebuah cerpen yang hanya dibuat dalam tiga paragraf ternyata tetap bisa menjadi sebuah karya sastra yang menarik. Tengsoe juga menunjukkan beberapa contoh pentigraf yang ditampilkan ke layar para peserta.

Mulai dari pentigraf paling sederhana sampai yang memiliki tulisan yang sedikit kompleks. Alumnus SMPN 2 Genteng itu menambahkan, ada empat hakikat yang harus dipegang untuk membuat pentigraf yang menarik. Pertama, meski hanya terdiri dari tiga paragraf, setiap paragrafnya tetap harus dibuat dengan kaidah paragraf yang baik.

Kedua, Tengsoe membatasi maksimal pentigraf terdiri hanya dari 210 kata. Ini dilakukan untuk mempertegas pentigraf agar tetap menjadi karya sastra yang indah, namun efektif dan tetap fokus pada jalan cerita yang dibawa. Ketiga, dalam satu pentigraf maksimal ada dua tokoh yang diceritakan. Kemudian yang terakhir, paragraf ke tiga dalam pentigraf harus memiliki sisi kejutan atau ketakterdugaan. ”Paragraf terakhir menjadi bagian yang memberikan kejutan. Sehingga bisa mengubah horizon para pembaca dalam menikmatinya,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, alumnus doktoral Universitas Negeri Malang (UM) itu juga menjelaskan putiba sebagai bagian dari sastra tiga yang dikembangkannya. Karya sastra yang digolongkannya dalam ”Sastra Tiga”, di antaranya adalah cerpen tiga paragraf, cerita tiga kalimat, puisi tiga bait, dan puisi tiga baris.

Meski terkesan pendek, Tengsoe yakin jika ke depan Sastra Tiga akan menjadi sarana pembelajaran sastra yang menarik terutama bagi siswa sekolah. Mereka yang suka menulis bisa membuat prosa pendek, tak perlu lagi harus membuat puisi dan cerpen yang terlalu panjang. ”Banyak orang yang suka menulis tapi tidak punya waktu panjang. Ada juga pembaca yang tidak punya waktu lama untuk membaca. Pentigraf dan sastra tiga lainnya mengobati kerinduan masyarakat kepada literasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Korwilkersatdik Kecamatan Banyuwangi Purwanto mengatakan, apa yang disampaikan para narasumber di Webinar Cukup Tiga Paragraf itu memberikan gambaran baru tentang bagaimana cara membuat puisi dan cerpen. Dia pun berharap hal itu bisa ditangkap oleh para kepala sekolah untuk memotivasi siswa-siswinya untuk mengikuti lomba penulisan yang dilaksanakan Jawa Pos Radar Banyuwangi berbekal materi saat webinar tersebut. ”Anak-anak sudah mulai bosan dengan pembelajaran di musim pandemi. Dengan cara baru ini, mereka bisa kembali bersemangat,”pungkasnya.

(bw/fre/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia