Rabu, 28 Oct 2020
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Kepedulian Papi Juan dengan Warisan Leluhur

Simpan Ribuan Koleksi Pusaka di Rumah Pribadinya Kumendung

27 September 2020, 21: 02: 46 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

SUMBANG PERALATAN IBADAH: Papi Juan bersama Gus Nur melihat serambi Masjid Al Ijabah di Desa Bagorejo, Kecamatan Srono.

SUMBANG PERALATAN IBADAH: Papi Juan bersama Gus Nur melihat serambi Masjid Al Ijabah di Desa Bagorejo, Kecamatan Srono. (GUS NUR for JAWAPOS.COM)

Share this          

Tidak hanya dikenal dermawan, mendiang Tjipto Sudjarwo Tjoek alias Papi Juan juga peduli dengan benda-benda pusaka warisan leluhur. Ratusan benda pusaka dia koleksi. Penuturan ini muncul dari Ustad Wahyu Nurhafifi alais Gus Nur dari Pondok Pesantren Jagad Sholawat, Bagorejo, Kecamatan Srono.

 SHULHAN HADI, Srono

Papi Juan baru saja berpulang. Dia meninggalkan sanak keluarga dan kerabat untuk selamanya. Kiprahnya banyak dikenang. Kedermawanannya diceritakan hampir semua orang yang mengenal atau pernah terlibat bersamanya. Dunia politik, olahraga, dan sosial tidak lepas dari sentuhan tangannya.

BANTU KARPET: Santri Gus Nur memikul karpet hasil sumbangan Papi Juan untuk keperluan Masjid Al Ijabah.

BANTU KARPET: Santri Gus Nur memikul karpet hasil sumbangan Papi Juan untuk keperluan Masjid Al Ijabah.

Bukan hanya itu, pria berpenampilan nyentrik itu semasa hidupnya menaruh perhatian yang cukup besar terhadap dunia pusaka Nusantara. Koleksi ribuan pusaka itu disimpan dalam rumah joglo milik Papi Juan di Desa Kumendung, Muncar.

Hal ini disampaikan Ustad Wahyu Nurhafifi, pengasuh Pondok Pesantren Jagad Sholawat, Desa Bagorejo, Kecamatan Srono. Meski belum lama saling mengenal, suasana keakraban dan mengayomi dirasakan ustad muda yang akrab disapa Gus Nur itu.

Pertemuan keduanya berlangsung tanpa sengaja. Dari hobinya berkecimpung dalam barang antik, akhirnya Gus Nur diajak temannya untuk menemui Papi Juan. Dari perkenalan singkat itu, ternyata ikatan dia dengan Papi Juan terjalin cukup baik. ”Saya ini kenal mungkin baru setahunan, tapi saya akui beliau ini luar biasa,” ungkapnya.

Gus Nur masih ingat betul bagaimana seorang Papi Juan memperlakukan orang lain, termasuk dirinya. Gus Nur mengaku terkesan awal mula berkenalan dengan Papi Juan. ”Orangnya sangat toleran dan baik kepada yang lebih muda,” kenangnya.

Dari kedekatan itu, Gus Nur melihat sosok Papi Juan memang pribadi yang baik. Tidak melihat orang lain dari latar belakangnya, serta memiliki rasa toleransi yang cukup tinggi. Hal itu dibuktikan dengan kepedulian dia dalam kegiatan pembangunan tempat ibadah. Bukan hanya sekali Gus Nur melihat Papi Juan berdonasi untuk masjid, pura, maupun tempat ibadah lainnya. ”Beliau sangat dermawan jelas, tidak pilih-pilih untuk membantu sesama,”kata Gus Nur.

Selain menyaksikan kedermawanan kepada banyak orang, Gus Nur merupakan salah satu orang yang menyaksikan dan menerima bentuk kedermawanan tersebut. ”Beliau datang ke sini (Pesantren Jagad Sholawat) sudah biasa. Karpet di masjid ini adalah bantuan Papi Juan,” ungkapnya.

Suatu ketika Papi Juan meminta Gus Nur untuk melakukan jamasan pusaka yang dimilikinya. Kala itu Papi menyaksikan Gus Nur melakukan ruqyah masal. Dari situ Papi Juan minta bantuan Gus Nur untuk menjamasi pusakanya. ”Saya cuma ditelepon, katanya urusan jamasan aku serahkan kamu begitu,” kenangnya.

Dari situ, Gus Nur baru tahu kalau Papi Juan memiliki minat dan perhatian serius terhadap pusaka Nusantara. Selain sebagai koleksi pribadi, tentu ribuan pusaka ini bisa menjadi edukasi bagi generasi muda. ”Pusaka, keris, dan berbagai benda lainnya sangat banyak dan terawat dengan baik,” ungkapnya.

Banyak pelajaran dan teladan yang bisa dipetik dari sosok Papi Juan. Toleransi, kepedulian kepada sesama, dan perhatian terhadap pembangunan manusia menjadi hal yang perlu diteladani. ”Banyak teladan yang bisa diambil hikmahnya,” kata Gus Nur.

Pengusaha sekaligus owner PT Sumberyala Samudra, Tjipto Sudjarwo Tjoek alias Papi Juan, meninggal di Rumah Sakit RKZ Surabaya, pukul 09.20 Kamis kemarin (24/9). Papi Juan meninggal di usia 78 tahun. Dia meninggalkan tiga putra. Mereka adalah Eko Waluyo Tjoek, Widjaja Putra Tjoek, dan David Wijaya Tjoek. Atas permintaan keluarga, jenazah Papi Juan akan dimakamkan di Surabaya.

Papi Juan dirujuk ke Rumah Sakit RKZ Surabaya tanggal 20 September. Tanggal 16 September sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Fatimah Banyuwangi. ”Saya menerima kabar duka pukul 09.20. Saya merasa kehilangan sosok Papi Juan. Tiga belas tahun lamanya saya bekerja bersama Papi di Sumberyala. Beliau sudah saya anggap sebagai orang tua sendiri,” ujar Supriyadi, Ketua DPD Nasdem Banyuwangi. 

(bw/aif/sli/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia