Rabu, 28 Oct 2020
radarbanyuwangi
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Penipuan Online Jaringan Nasional Diadili

24 September 2020, 07: 34: 45 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

BERSAKSI: Nuriyatus Sholeha, Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat (Kabid Dikmas) Dinas Pendidikan Banyuwangi jadi saksi perkara penipuan online, kemarin (21/9)

BERSAKSI: Nuriyatus Sholeha, Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat (Kabid Dikmas) Dinas Pendidikan Banyuwangi jadi saksi perkara penipuan online, kemarin (21/9) (TOHA/JPRABA)

Share this          

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pelaku penipuan online jaringan nasional di 14 wilayah di Indonesia mulai diadili. Empat orang saksi dimintai keterangannya dalam persidangan yang digelar secara virtual dalam jaringan (daring), kemarin (21/9).

Empat orang saksi yang didengarkan keterangannya dalam persidangan itu yakni Nuriyatus Sholeha, Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat (Kabid Dikmas) Dinas Pendidikan Banyuwangi, Sidratul Muntaha, Rani Pangestuti dan Alfian.

Sidang yang digelar daring itu, para terdakwa yang diadli Syamsuddin alias Poker dan Abdul Malik tetap berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banyuwangi. Sementara Majelis Hakim yang menangani perkara berada di Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi.

Untuk saksi dan jaksa penuntut umum (JPU) berada di kantor kejaksaan negeri (kejari) Banyuwangi. Hanya saja, untuk ruang JPU berada di ruangan lain, tidak satu ruang dengan JPU.

Hanya tiga orang saksi yang hadir dan didengarkan keterangannya dalam sidang yang digelar dipimpin Majelis Hakim, Agus Pancara tersebut. Satu saksi lainnya Alfian sedang sakit dan keterangannya dibacakan oleh JPU, Rusdianto Hadi Sarosa.

Dalam keterangannya, saksi Sidratul Muntaha mengaku jika pada hari Senin (15/6) sekira pukul 07.38 dia mendapat pesan melalui WhatsApp dari saksi Nuriyatus Sholeha dengan meminta bantuan pinjaman uang sebesar Rp.5 juta dan berjanji akan dikembalikan pukul 13.00 dengan alasan rekening miliknya bermasalah. “Karena nomor dan profil WhatsApp tersebut adalah milik Bu Nuriyatus Sholeha, akhirnya saya pinjami dan langsung saya transfer melalui M-Banking,” katanya.

Tak berselang lama, pada pukul 07.42 pelaku KH yang kini masih masuk dalam Daftar Pencaian Orang (DPO) Polresta Banyuwangi seolah-olah adalah saksi Nuriyatus Sholeha kembali mengirim pesan WhatsApp kepada saksi Mochammad Sidrotul Muntaha dan hendak meminjam uang lagi sebesar Rp.7  juta untuk ditransfer ke rekening Bank Mandiri nomor : 1420018384239 atas nama Nadia Dwi Setyorini.

“ Karena saya curiga, saya menelepon Bu Nuriyatus Sholeha, tapi tidak diangkat kemudian pada pukul 09.00 saya menemui Bu Nuriyatus Sholeha di kantornya dan mendapat kabar bahwa nomor ponsel dan WhatsApp milik Bu Nuri telah diretas dan tidak pernah meminjam uang setelah itu melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Banyuwangi,” terang saksi Toha.

Begitu pula saksi Nuriyatus Sholeha mengaku baru tahu jika nomor ponselnya diretas dan disalahgunakan oleh pelaku penipuan. Namun sayang, pelaku sudah berhasil menipu empat orang yang berhasil dihubungi dan mengirimkan sejumlah uang. “ Begitu tahu, saya langsung laporan ke Polresta Banyuwangi,” ujar perempuan yang akrab disapa Nuri ini.

Mendengarkan keterangan saksi, terdakwa Syamsuddin alias Poker dan Abdul Malik membenarkan keterangan saksi tersebut. Terdakwa Syamsuddin dan Abdul Malik berperan sebagai penyedia rekening. Terdakwa Syamsuddin pula yang menarik uang dari rekening. Dari transaksi itu, Syamsuddin mendapat bagian 40 persen dan sisanya menjadi bagian KH yang saat ini masih DPO.

Sidang ditunda dan kembali dilanjutkan pada (5/10) dengan agenda tuntutan JPU. Pengungkapan kasus penipuan online tersebut boleh dibilang sebagai prestasi nasional yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 74 Bhayangkara.

Pengungkapan kasus penipuan online ini bermula dari laporkan korban Nuriyatus Sholeha, Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat (Kabid Dikmas) Dinas Pendidikan Banyuwangi pada Senin (15/6).

Korban melapor ke Mapolresta Banyuwangi karena nomor ponselnya diretas oleh hacker, hingga akhirnya nomor WhatsApp (WA) digunakan oleh pelaku untuk meminta sejumlah uang pada orang yang ada di nomor ponsel tersebut.

Berdasar laporan korban itulah, anggota Satreskrim Polresta Banyuwangi kemudian melakukan penyelidikan. Hasilnya, para pelaku tersebut sebagian besar tidak berada di Banyuwangi, melainkan berada di luar daerah.  Anggota Polresta Banyuwangi melakukan patroli cyber bekerja sama dengan tim cyber crime melaksanakan penyelidikan dengan berbagai macam nomor rekening.

Dari patroli cyber dan pelacakan berbagai macam nomor rekening itulah, anggota Satreskrim Polresta Banyuwangi akhirnya berhasil mengamankan pelaku Abdul Ajis warga Surabaya yang berperan sebagai pencari rekening di wilayah Surabaya.

Selanjutnya dari pelaku Abdul Ajis tersebut dikembangkan berhasil menangkap Abdul Malik, warga Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan yang bertugas pengepul rekening di wilayah Jawa Timur.

Setelah mengamankan dua orang pencari rekening dan pengepul rekening di wilayah Jawa Timur ini. Anggota terus melakukan upaya pengembangan hingga akhirnya berhasil mengamankan pelaku ketiga atas nama Syamsudin alias Poker warga Surabaya yang berperan sebagai pemodal pembuatan rekening penerima. Dalam kasus ini ada pelaku 17 orang pelaku, dan tiga orang pelaku tertangkap, 14 sisanya masih masuk daftar pencarian orang (DPO).

Dari hasil penangkapan tiga tersangka tersebut, jumlah rekening yang digunakan oleh tersangka Syamsudin alias Poker dan saudara KR yang saat ini masih DPO, dari tahun 2019 sampai bulan Juni 2020 disita sebanyak 250 rekening bank dari berbagai macam bank. Nilai total transaksi dari pertengahan tahun 2019 sampai bulan Juni 2020 ini sebesar Rp 1,2 miliar.

Dari hasil pengungkapan kasus tersebut, polisi juga mengamankan barang bukti berupa 30 lembar kartu ATM berbagai bank, 15 buku rekening lengkap dengan ATM dan tiga unit ponsel. Ketiga tersangka akan dijerat dengan pasal 51 ayat (2) junto pasal 36 junto pasal 30 ayat (1) UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan UU RI  nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan atau pasal 378 KUHP tentang penggelapan dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun. (ddy)

(bw/ddy/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia