Jumat, 25 Sep 2020
radarbanyuwangi
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah
DINAS PENGAIRAN BANYUWANGI

Dulu Lokasi Bencana, Kini Jadi Tempat Istirahat Wisatawan

13 September 2020, 14: 03: 49 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

CANTIK: Kantor Korsda Singojuruh dengan arsitektur khas suku Osing, lengkap dengan gazebo tepi sungai menjadi jujugan pengendara untuk istirahat melepas lelah di Dam Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi

CANTIK: Kantor Korsda Singojuruh dengan arsitektur khas suku Osing, lengkap dengan gazebo tepi sungai menjadi jujugan pengendara untuk istirahat melepas lelah di Dam Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi (RAMADA KUSUMA/RABA)

Share this          

SINGOJURUH, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Warga Dusun Karangasem dan Dusun Wonorekso di sebelah utara jembatan, serta warga Dusun Garit dan Dusun Bangunrejo di selatan jembatan, kini mulai bisa bernapas lega. Trauma akibat banjir bandang yang melanda Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, tahun 2018 silam, sudah mulai terkikis. Ini seiring dengan tuntasnya pembangunan plengsengan di sepanjang aliran bendungan atau Dam Alasmalang.

Ketinggian plengsengan yang sebelumnya hanya berkisar dua meter dari permukaan air laut, kini sudah tuntas dibangun dengan ditambah ketinggian dua meter. Sehingga total ketinggian plengsengan sungai mencapai empat meter dari dasar sungai.

Kepala Desa Alasmalang Hadi Surigo mengatakan, bangunan plengsengan sungai yang dulu rendah kini sudah tinggi. Sehingga jika terjadi limpahan air dari aliran Sungai Badeng, tidak langsung naik ke perkampungan warga. ”Kami bersyukur dan warga sedikit lebih tenang karena plengsengan sudah lebih tinggi dari sebelumnya,” ujar Hadi.

Plt Kadis PU Pengairan: Guntur Priambodo

Plt Kadis PU Pengairan: Guntur Priambodo

Tidak hanya pada saluran air utama pada sisi sebelah utara, pada sisi sebelah selatan dam plengsengan juga ditinggikan. Dengan harapan jika air sungai meluap, juga tidak sampai meluber ke permukiman warga. ”Kalau trauma masih, tapi masyarakat sudah sedikit tenang sejak plengsengan ditinggikan,” katanya.

Yang tak kalah menarik, Kantor Eksploitasi Air Irigasi Daerah (Korsda) yang hancur diterjang banjir bandang, kini juga telah dibangun kembali dengan arsitektur bangunan rumah khas suku Osing. Ditambah dengan penataan tanaman serta gazebo. ”Kalau sore hari, kadang juga jadi jujugan orang yang berhenti sejenak untuk beristirahat. Mereka istirahat sambil menikmati pemandangan aliran Sungai Badeng,” terangnya.

Hal senada diungkapkan Nur Hadi, warga setempat yang rumahnya sempat hancur akibat diterjang banjir bandang tahun 2018 silam. Plengesengan memang sudah selesai dibangun. Namun yang kini masih menghantui yakni perbaikan atau pemugaran jembatan yang dinilai menjadi salah satu biang penyebab banjir. ”Kalau plengsengannya sudah tinggi, tapi jembatannya masih tetap sama dan tidak direnovasi, maka akan sama saja terjadi penyumbatan pada titik jembatan,” katanya.

Jembatan Garit tersebut dibangun sejak zaman Belanda. Sampai kini, belum pernah ada perbaikan jembatan tersebut. Terlebih, lalu-lalang kendaraan hampir tak pernah sepi di atas jembatan yang menghubungkan Kabupaten Banyuwangi dengan Kabupaten Jember tersebut. Kendaraan yang melintas tidak hanya mobil pribadi. Tapi juga mobil besar seperti truk dan bus.

Jembatan Garit di atas aliran Sungai Badeng yang membelah Desa Alasmalang itu, dibangun pada masa penjajahan Belanda. Konstruksi jembatan yang di tengahnya ada penyangga cukup besar itu, hingga kini masih berdiri kukuh. Warga sekitar menyebut jembatan itu mengandung mistis.

Dalam pembangunannya, untuk saluran air di bawah jembatan berupa dua bundaran besar yang dibatasi tiang besar di tengah aliran sungai. Sejak dibangun hingga saat ini, jembatan itu belum pernah berubah. Jembatan itu konstruksinya juga kuat hingga tahan dari banjir. ”Jembatan buatan Belanda itu memang sangat kuat, sudah sering dihantam banjir tetap tidak roboh,” katanya.

Sejak tahun 1955, Desa Alasmalang sering dilanda banjir bandang. Penyebabnya, bangunan jembatan itu. Banyak batang kayu yang terbawa aliran sungai menyangkut di jembatan tersebut.

Sebagai bentuk antisipasi, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Banyuwangi juga menyiapkan alat berat berupa backhoe yang berada di belakang kantor Korsda Singojuruh. Jika sewaktu-waktu terjadi banjir bandang dan batang pohon yang melintang di bawah jembatan, maka akan langsung dipindahkan menggunakan alat berat.

Sementara itu, dari cerita mulut ke mulut, banjir bandang di Desa Alasmalang itu bukan terjadi pada tahun 2018 saja, melainkan sudah berulang kali terjadi sejak tahun 1980-an. Yakni pada tahun 1980, 1982, dan tahun 1985 juga pernah terjadi banjir.

Banjir yang terjadi itu memang faktor alam. Selain curah hujan yang tinggi dan banyak material yang menumpuk di sepanjang aliran Sungai Badeng. Khususnya menumpuk di sekitar Dam Alasmalang. ”Kalau masyarakat di sini (Alasmalang), ingin jembatan dibongkar dan diubah. Sehingga jika ada banjir besar, tak lagi ada batang kayu yang melintang dan bisa menyumbat aliran sungai,” pungkas Nur Hadi. (ddy/bay/c1)

 

Siagakan Ekskavator

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi Guntur Priambodo mengatakan, khusus Sungai Garit yang pernah meluber sehingga menyebabkan banjir bandang di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, pada 2018 lalu, pihaknya menyiagakan satu ekskavator.

Dikatakan, alat berat disiagakan jika sewaktu-waktu ada air dari hulu yang membawa material endapan, sungai bisa segera dikeruk. Sehingga material dari atas yang turut hanyut bersama air bisa langsung diangkat. ”Sebab, pengalaman sebelumnya, material yang menyumbat Jembatan Garit menjadi pemicu banjir,” (sgt/bay/c1)

(bw/ddy/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia