Jumat, 25 Sep 2020
radarbanyuwangi
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah
DINAS PENGAIRAN BANYUWANGI

Menikmati Unagi di Bantaran Dam Limo

13 September 2020, 13: 59: 55 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

MENU OLING: Kawasan bantaran Sungai Dam Limo, Desa/Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Lokasi ini jadi pusat wisata kuliner ikan Oling (Unagi) di tepi sungai.

MENU OLING: Kawasan bantaran Sungai Dam Limo, Desa/Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Lokasi ini jadi pusat wisata kuliner ikan Oling (Unagi) di tepi sungai. (RAMADA KUSUMA/RABA)

Share this          

TEGALDLIMO, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Menikmati sajian kuliner khas unagi (sidat) di bantaran sungai, tentu jadi sensasi baru berwisata. Itu bisa dirasakan di Oling River Food di sepanjang bantaran sungai Dam Limo, Desa/Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi.

Wisatawan diajak menikmati aneka olahan sidat dengan bumbu masak tradisional di sebuah area dam (bendungan air) dengan air sungai yang mengalir jernih. Sidat biasa disebut oling oleh warga setempat.

Warga Dam Limo mengajak wisatawan untuk merasakan sensasi menikmati unagi dengan cita rasa khas Indonesia di sebuah areal dam di pinggir sungai yang bersih. Pasar kuliner ini akan buka dua kali dalam sepekan, yakni setiap Sabtu pukul 15.00 sampai pukul 21.00 dan Minggu pukul 09.00 sampai pukul 16.00.

Wisata kuliner ini berada di jalur menuju Taman Nasional Alas Purwo. Pelancong bisa mampir sebelum atau sesudah berkunjung ke Alas Purwo.

Aneka olahan ikan air tawar menjadi menu andalan menemani nasi putih maupun nasi jagung. Mulai dari ikan wader goreng, bothok wader, pelasan oling, hingga ungkepan oling. Selain itu, kawasan kuliner ini juga menyediakan banyak olahan lainnya. Di antaranya ayam pedas, ikan pari pedas, nasi pecel, sate kerang, dan rujak soto. Aneka jajan tradisional juga ada. Mulai dari cenil, lupis, putu ayu, hingga getuk. Berikut juga minumannya, seperti dawet dan es kelapa muda.

Salah seorang pedagang di stan Oling River Food, Lukman mengatakan, sejak ada kawasan destinasi kuliner di kawasan bantaran sungai Dam Limo, masyarakat setempat kini memiliki penghasilan baru yang dapat menyokong ekonomi keluarga.

Lebih dari itu, kata Lukman, bantaran sungai Dam Limo yang memesona juga menjadi daya tarik tersendiri. ”Dengan begini justru menjadikan sungai sebagai lokasi tujuan wisatawan, dan warga turut tergerak menjaga kebersihan sungai. Tidak mungkin akan buang sampah di sungai karena malu jika sungai tampak kotor dan dilihat banyak orang,” katanya.

Sebagai bentuk kepedulian lingkungan, para pedagang juga tidak menggunakan plastik. Mereka mengganti piring dengan daun pisang, piring lidi, atau anyaman bambu sebagai kemasan makan dan minum. Sehingga semua terkesan alami dan tradisional sekaligus ramah lingkungan. (ddy/bay/c1)

(bw/ddy/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia