Jumat, 25 Sep 2020
radarbanyuwangi
Home > Politik & Pemerintahan
icon featured
Politik & Pemerintahan
DINAS PARIWISATA BANYUWANGI

Museum Purbakala dibuka, Pengunjung diajak Menelusuri Lorong Waktu

04 September 2020, 07: 31: 24 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

BUKTI SEJARAH: Salah satu benda sejarah peninggalan  Bupati ke-7 Banyuwangi  RT. Astrokusumo (1888–1889) berupa penutup kepala dan aksesori yang ikut dipamerkan.

BUKTI SEJARAH: Salah satu benda sejarah peninggalan Bupati ke-7 Banyuwangi RT. Astrokusumo (1888–1889) berupa penutup kepala dan aksesori yang ikut dipamerkan. (RAMADA KUSUMA/RABA)

Share this          

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi  – Pameran purbakala resmi dibuka sore kemarin oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi  M. Yanuarto Bramuda. Pameran yang menghadirkan berbagai koleksi purbakala dan kuno ini diikuti puluhan kolektor. Tidak hanya kolektor benda purbakala dan barang antik. Pameran ini juga diikuti para perupa Banyuwangi.

Pembukaan pameran tersebut juga dihadiri Camat Banyuwangi dan perwakilan. Selain itu, kalangan perhotelan juga tampak hadir. Bersamaan dengan pembukaan, mereka melakukan performing art dengan menggelar lukis on the spot. Setidaknya terdapat empat pelukis yang unjuk kebolehan di lokasi pameran.

Bramuda mengungkapkan, acara ini juga merupakan apresiasi yang diberikan pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan atas upaya Banyuwangi melakukan pemulihan di era pandemi. Apresiasi tersebut berupa dana alokasi khusus untuk pengembangan kebudayaan. ”Kita akan coba memulai dengan pameran kepurbakalaan,” ujar Bramuda

BUKTI PERLAWANAN: Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata M. Yanuarto Bramuda melihat pusaka tangguh Blambangan yang dipamerkan oleh Komunitas Panji Blambangan.

BUKTI PERLAWANAN: Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata M. Yanuarto Bramuda melihat pusaka tangguh Blambangan yang dipamerkan oleh Komunitas Panji Blambangan. (RAMADA KUSUMA/RABA)

Bramuda menambahkan, gelaran pameran purbakala ini tidak sekadar bertujuan untuk memamerkan artefak ataupun arsip kuno yang ada di Banyuwangi semata. Namun lebih dari itu, kegiatan ini sekaligus menunjukkan kepada generasi muda bahwa Banyuwangi memiliki keanekaragaman dan masa lalu yang hebat. Sehingga ke depannya, sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini pihaknya akan membangun satu museum khusus yang membahas Banyuwangi tempo dulu. ”Kita akan membuat khusus museum tempo dulu,” jelasnya.

Bramuda juga mengungkapkan, atas permintaan banyak pihak, venue pameran ini rencananya tidak dibongkar. Tetapi akan dipertahankan sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat untuk memamerkan produk mereka secara bergantian kepada publik. Selain itu, nantinya pihak pendukung seperti perhotelan bisa memanfaatkan kegiatan tersebut kepada tamunya. ”Inilah ruang pamer. Mungkin sebulan sekali kita bisa ekspos,” jelasnya.

Meski dibuka untuk umum dan gratis, namun panitia tetap menerapkan pembatasan pengunjung di dalam area pameran. Selain harus mengikuti protokol kesehatan, pengunjung yang ada di dalam area juga dibatasi hanya 150 orang. ”Umum dan siapa saja bisa masuk, tapi kita batasi, bergantian,” ujarnya.

Acara kemarin juga dimeriahkan dengan performing art dari perupa Banyuwangi. Setidaknya empat pelukis melakukan aksi on the spot. Selain melukis objek yang dipamerkan, mereka juga melukis tanaman yang sudah ada di halaman Disbudpar.

Selain pameran benda purbakala, acara ini tersebut juga dimeriahkan lomba vlog bertema ”Situs Budaya dan Objek Heritage Banyuwangi”. Acara yang dibuka hingga  tanggal 3 September 2020 ini memperebutkan total hadiah 10 juta untuk 6 orang pemenang. Selain itu, digelar pula lomba karya tulis ilmiah bertema Edukasi Peradaban di Balik Benda Bersejarah dengan total hadiah 10 juta untuk 6 orang pemenang. Batas akhir pendaftaran dan pengumpulan karya pada tanggal 3 September 2020. Pengumuman pemenang lomba serta penyerahan hadiah akan dilaksanakan pada 5 September pukul 19.00 di halaman kantor Disbudpar. ”Pelaksanaan lomba vlog dan lomba karya tulis ilmiah tidak dipungut biaya alias gratis,”  jelas Bram.

Penutupan acara dimeriahkan dengan pementasan wayang kulit bersama dalang Ki Mudo Juwito Gendeng. Wayangan yang digeber pada Sabtu malam ini bakal menampilkan lakon Wahyu Husodo Jati. Lakon ini menceritakan tentang orang-orang tanah Jawa yang kehilangan pusaka yang dapat berbicara. Pusaka tersebut akan kembali jika wong-wong tanah Jawa bisa bersatu dan rukun dengan cara mboyong simbol ”Wong tanah Jowo”, yakni Kiai Lurah Semar. (sli/afi/c1)

(bw/sli/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia