Jumat, 25 Sep 2020
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Para Relawan yang ”Memerdekakan” Penyu

Berjuang Selamatkan Telur Penyu dari Incaran Predator

31 Agustus 2020, 17: 55: 27 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

KONSERVASI: Muhyi memberi pakan penyu hijau yang dijadikan edukasi di kawasan wisata Pantai Cemara, Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi, Sabtu lalu (29/8).

KONSERVASI: Muhyi memberi pakan penyu hijau yang dijadikan edukasi di kawasan wisata Pantai Cemara, Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi, Sabtu lalu (29/8). (DEDY/JAWAPOS.COM)

Share this          

Momentum HUT ke-75 Kemerdakaan RI  dimaknai beragam oleh sejumlah kalangan. Kemerdekaan bisa bermakna ikut membantu menjaga, menyelamatkan, serta melestarikan keberlangsungan penyu agar tidak punah. Salah staunya dengan membantu menetaskan telur hingga melepaskan kembali ke alam liar.

 DEDY JUMHARDIYANTO, Banyuwangi

 Sang fajar masih malu-malu menampakkan sinarnya. Merah kekuningan menjemput mesra di antara desir ombak yang mulai berkejaran. Pohon cemara melambai nan-manja seolah menunjukkan keelokan cipta tangan Sang Pencipta.

Jarum jam menunjukkan pukul 06.30. Seorang lelaki berkumis tebal mulai berjalan di tepi pantai. Bola matanya menatap tajam ke pasir pantai, mengawasi jejak bekas kaki penyu yang singgah untuk bertelur.

Langkah kakinya terhenti di gundukan pasir yeng berbekas jemari penyu. Di tempat itulah tanda tersimpan telur penyu. Gundukan pasir dibongkar, butir-butir mungil telur penyu jelas tampak dipermukaan. Satu-persatu telur dihitung untuk dipindahkan.

Sesekali lelaki itu menoleh jarum jam di lengan kanannya. Semuanya dicatat, termasuk kedalaman telur itu tersimpan serta tebal timbunan pasir yang menutup bagian telur. Semua peristiwa saat penemuan dan sebelum pemindahan, penting untuk dicatat dan didokumentasikan. Mengingat, telur-telur penyu mungil itu akan dipindahkan ke tempat semi alami untuk proses penetasan.

Sekelumit aktivitas itu dilakukan Muhyi, warga lingkungan Rowo Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi. Relawan penyelamat penyu telur ini sudah enam tahun ini intens melakukan kegiatan pelestarian penyu di lingkungan pantai rejo, Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi. “Kami ingin penyu  ini tetap lestari di Banyuwangi, termasuk di pantai rejo ini,” ungkap lelaki berusia 55 tahun ini.

Sejak terbentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Pantairejo yang beranggotakan nelayan, Muhyi mulai melakukan sejumlah kegiatan dan aksi kerja nyata. Salah satunya pelestarian lingkungan dan membuat konsep wisata pantai berbasis konservasi di atas lahan pesisir seluas sembilan hektare kini ditanami 18 ribu pohon cemara udang.

Kawasan pesisir yang membentang sepanjang 2,5 meter berdiri tegak nan-rindang pepohonan  cemara udang. Bukan sekadar menjadi jujukan tempat rekreasi, Pantai Cemara kini juga menjadi salah satu pusat konservasi penyu di Banyuwangi. Di bawah pohon-pohon cemara, penyu mendarat untuk bertelur. “Dulu sebelum terbentuk KUB, masyarakat yang menemukan telur penyu dijual ke pasar,” katanya.

Sejak terbentuk KUB pada tahun 2013 itulah, kesadaran masyarakat akan konservasi mulai sedikit demi sedikit muncul. Kini setiap warga setempat yang menemukan jejak di mana terdapat penyu bertelur langsung melaporkan pada pengurus KUB maupun Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) dan Kelompok Masyarakat Sadar Wisata (Pokdarwis).

Bahkan, kini sudah mulai bermunculan relawan yang ikut peduli membantu menyelamatkan proses penyu bertelur, menetas, hingga melepasliarkan tukik-tukik (anak penyu) ke laut. Jika menemukan sarang penyu, masyarakat setempat selalu menginformasikan, selanjutnya baru akan diambil langkah penyelematan yakni dengan memindahkan telur penyu dari sarang ke sarang semi alami.

“Jika telur penyu tidak segera diselamatkan, tentu akan dimangsa oleh predator. Salah satu predatornya juga manusia sendiri. Selain juga ada predator alami seperti biawak dan anjing,” ujar bapak dua anak ini.

Telur dari alam liar dipindahkan ke tempat penangkaran, yakni ke sebuah ruangan semi permanen yang juga masih beralaskan pasir laut. Luas ruangan tersebut memiliki panjang dan lebar tak kurang dari lapangan badminton. Di tempat penangkaran itu mampu menampung sebelas sarang telur penyu. Telur-telur yang telah dipindahkan kembali diletakkan ke dalam tempat penangkaran sesuai dengan kondisi saat kali pertama ditemukan.

Jika telur tersebut ditemukan di kedalaman 30 cm maka saat dipindahkan ke tempat penangkaran, minimal juga harus sama kedalamannya. Termasuk ketebalan urugan pasir yang menutup permukaan telur-telur penyu tersebut saat ditemukan. “Kalau kondisinya saat dipindahkan tidak sama, maka kemungkinan menetasnya kecil, karena terlalu lembab. Jadi harus sesuai dengan kondisi alam saat kali pertama ditemukan,” jelas kakek tiga cucu ini.

Jika jumlah telur yang ditemukan dalam satu sarang jumlahnya lebih dari 50 telur, maka saat dipindahkan ke tempat penangkaran akan dibagi menjadi dua sarang. Hal itu dilakukan untuk memudahkan proses penetasan, termasuk pengawasan.

Semua sarang telur penyu yang telah dipindahkan diberikan tanda register yang ditulis pada papan kayu yang memuat nama penemu sarang, jam dan tanggal sarang dipindahkan berikut jumlahnya. “Jika sudah menetas, maka akan mudah mengidentifikasi tingkat keberhasilan penetasannya,” cetus Muhyi.

Telur yang dipindah ke tempat penangkaran akan menetas dalam waktu selama 46 hari. Jika lebih dari 50 hari belum juga menetas, maka akan dilakukan penetasan secara manual. Dia sangat bersyukur, kali ini tingkat penetasan atau kehidupan telur penyu mencapai 96 persen. Dari 112 butir telur yang ditemukan dan dipindahkan ke tempat penangkaran 108 butir telah menetas menjadi tukik.

Proses pencarian sarang telur penyu sangatlah mudah, karena saat penyu mendarat untuk bertelur bersamaan dengan puncak pasang gelombang air laut. Mengingat kondisi penyu yang hendak bertelur memiliki beban yang juga cukup berat. Praktis, jika saat mendarat mudah dikenali dari jejak kakinya yang masih membekas.

Waktu penyu mendarat untuk bertelur biasanya pada malam hari yakni mulai jam 7 malam sampai subuh jam 4 pagi. Setelah mendarat dan bertelur, maka penyu akan meratakan kembali tanah (sarangnya) dengan menimbun telurnya menggunakan pasir laut, dan selanjutnya kembali pergi ke alam bebas.

Musim bertelurnya penyu akan terjadi mulai bulan Maret hingga Agustus. Pada tahun ini mulai Maret lalu hingga kini  masih ada dua sarang yang ditemukan. Padahal sebelumnya ada sedikitnya 15 sarang disepanjang pantai cemara. “13 sarang hanyut terkena abrasi, yang kami temukan hanya dua sarang dan itupun semuanya telah menetas,” jelas Muhyi.

Pada bulan Juni lalu, ada sedikitnya 150 tukik telah dilepasliarkan ke alam bebas dari hasil penetasan telur yang ditemukan pada bulan April lalu. Telur yang menetas menjadi tukik baru siap dilepas ke alam liar ketika tukik sudah berusia sepuluh hari. Setelah menetas, maka tukik akan dipindahkan ke median kolam berisi air laut. Tukik dibiarkan berenang bebas, dan dirawat dengan diberikan pakan berupa kerang atau kijing dua kali sehari yakni setiap pagi dan sore.

Pakan tukik berupa kerang atau kijing diusahakan yang masih segar. Untuk pakannya setiap 400 ekor tukik sedikitnya menghabiskan satu kilogram kerang remis atau kijing. Tak ayal, jika ada wisatawan atau pengunjung wisata pantai cemara yang hendak melepas tukik juga bisa ikut berpartisipasi dengan berdonasi sebesar Rp 30 ribu setiap asatu ekor tukik.

Donasi tersebut digunakan untuk mengembangkan kegiatan di pantai cemara, termasuk konservasi pantai cemara dan membantu biaya operasional mulai sirkulasi air dan pakan. Di kawasan pantai cemara juga terdapat kawasan edukasi, yakni berupa penyu berusia 1,2 tahun yang berada di kolam. Ada sembilan ekor penyu jenis hijau. “Pasti suatu saat akan kami lepas semua, sementara ini maish kami rawat untuk edukasi kepada pengunjung. Karena  penyu  baru akan bertelur setelah berusia 30 tahun,” terangnya.

Penyu-penyu yang sudah berusia setahun, pakannya tak lagi kerang melainkan ikan segar. Dia berharap konservasi penyu di kawasn pantai cemara ini terus bisa berlangsung dan ditingkatkan. Karena dampak dari adanya konservasi serta kawasan wisata ini, ada kegiatan dan tambahan penghasilan para nelayan yang ada di pantai cemara.

Dampaknya, kini pantai cemara menjadi salah satu pilihan destinasi wisata di tengah kota yang jadi jujugan wisatawan. Dengan daya tarik pepohonan cemara udang yang hijau, asri, rindang dan sejuk. Tidak itu saja, selain bisa menikmati pemandangan pantai di bawah rindangnya pepohonan cemara udang, wisatawan juga dapat melihat klawasan konservasi penyu secara langsung.

Bahkan, sata musim penyu bertelur wisatawan bisa langsung menyaksikan penyu menetas hingga melepaskan tukik ke alam liar.  Selain menjaga lingkungan tetap lestari dan hijau, juga menjaga keberlangsungan telur penyu untuk menetas agar tidak semakin punah. Para nelayan pantai cemara sudah berprinsip bersama-sama melindungi pantai cemara.

Kini, pencurian telur penyu sudah tak lagi ada. Nelayan di Pantai Rejo punya cara untuk bersama-sama ikut berkontribusi membangun negeri yang sudah 75 tahun merdeka, yakni dengan menjaga keberlangsungan ekosistem di bumi melalui konservasi. ”Merdeka itu sejauh mana diri kita bermanfaat bagi sesama mahluk ciptaan Tuhan. Bermanfaat bagi sesama manusia, tumbuhan, hewan dan lingkungan,” ujar Muhyi.

(bw/aif/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia