Jumat, 25 Sep 2020
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom
ARTIKEL

New Normal dari Perspektif Sosial Budaya

04 Agustus 2020, 13: 54: 56 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Oleh: Safrieta Jatu Permatasari*

Oleh: Safrieta Jatu Permatasari* (*) Dosen FISIP Untag 1945 Banyuwangi.)

Share this          

Sudah kurang lebih tiga bulan lamanya pandemi corona virus (Covid-19) menghantui dan menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia. Masyarakat tidak bisa melakukan aktivitas normal seperti sebelumnya, kegiatan di luar rumah dibatasi. Masyarakat diimbau tidak keluar rumah apabila tidak ada keperluan mendesak.

Banyak istilah bermunculan mulai dari stay at home/di rumah saja, work from home/WFH atau bekerja dari rumah, hingga study from home di mana kegiatan pendidikan dari tingkat PAUD sampai perguruan tinggi dilakukan secara daring/online, dsb.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Bahasa merilis arti new normal dalam bahasa Indonesia, yaitu: kenormalan baru. Apa itu kenormalan baru? Kenormalan baru adalah keadaan normal yang baru (belum pernah ada sebelumnya). Dalam hal ini, pandemi korona mengharuskan masyarakat beradaptasi dengan kenormalan baru.

Berbicara dari perspektif sosial budaya berarti membahas aspek perilaku sosial dan kebiasaan masyarakat:

Sebelum pandemi korona, sebagian masyarakat hampir tidak pernah terlihat menggunakan masker. Setiap hari juga bisa kita saksikan anak-anak muda yang berkumpul dan nongkrong di kafe, komunitas ibu-ibu yang berkumpul untuk arisan, komunitas pengajian, jamaah musala atau masjid.

Saat pandemi, tiba-tiba semua harus menghentikan aktivitas yang selama ini sudah menjadi gaya hidup, kebiasaan, dan tradisi. Semua orang harus menggunakan masker dan dituntut untuk menjalankan pola hidup sehat (sesering mungkin cuci tangan, menggunakan hand sanitizer, berolahraga, minum vitamin), tidak keluar rumah jika tidak terpaksa (stay at home). Tempat-tempat fasilitas umum juga harus menyediakan tempat cuci tangan, hand sanitizer, pengecek suhu tubuh, serta memastikan ada social distancing.

 

Kesadaran Kolektif Menuju Tatanan Baru

Kebijakan stay at home tidak mungkin dapat dilakukan dalam jangka panjang. Selain alasan ekonomi, alasan psikososial menyangkut dampak stres yang dialami masyarakat juga harus dipertimbangkan. Perang terhadap Covid-19 adalah perang jangka panjang, jika harus tetap bertahan di rumah bagaimana masyarakat bisa memenuhi pemasukan ekonomi untuk menghidupi keluarga.

Namun demikian, new normal harus dilandasi dengan kesadaran penuh bahwa Covid-19 masih ada di sekitar kita. Untuk itu aktivitas ekonomi dan sosial tetap harus menggunakan protokol kesehatan. Dalam hal ini, dibutuhkan kesadaran kolektif dari masyarakat untuk menjalankannya.

Tantangan Menghadapi New Normal

Kesadaran kolektif dimaknai bahwa setiap anggota masyarakat dengan kesadarannya sendiri rela menjalankan aturan main/protokol kesehatan dalam setiap aktivitas sosial maupun ekonomi. Bagaimana kesadaran kolektif masyarakat kita?

Hampir setiap hari kita masih bisa menyaksikan banyak anggota masyarakat yang tidak mengenakan masker, berkerumun, bahkan menjelang Lebaran banyak toko pakaian yang diserbu oleh pengunjung tanpa mengindahkan imbauan untuk social distancing.

Itu artinya, melembagakan aturan dan perilaku yang baru agar menjadi sebuah kesadaran kolektif bukanlah upaya yang mudah. Untuk memastikan new normal bisa berjalan dengan baik, pemerintah harus melakukan upaya yang sistematis, terkoordinasi, dan konsisten dalam melakukan pengawasan publik dan law enforcement atau penegakan hukum. Hal tersebut untuk menghindari gelombang kedua Covid-19.(*)

(bw/rbs/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia