Kamis, 13 Aug 2020
radarbanyuwangi
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah
DINAS PENDIDIKAN BANYUWANGI

62 Profesi Jadi Pengajar Tembus Rekor Muri

30 Juli 2020, 07: 53: 28 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

CETAK REKOR: Bupati Abdullah Azwar Anas menerima Piagam Penghargaan dari Muri didampingi Plt Kadispendik Suratno di Pendapa Banyuwangi.

CETAK REKOR: Bupati Abdullah Azwar Anas menerima Piagam Penghargaan dari Muri didampingi Plt Kadispendik Suratno di Pendapa Banyuwangi.

Share this          

WONGSOREJO, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Gerakan Banyuwangi Ayo Mengajar (BAM) kemarin (29/7) dilaksanakan secara serentak di Banyuwangi. Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 400 orang relawan pengajar dengan latar belakang 62 profesi yang berbeda.

Para relawan tersebut bertugas memberi materi pengajaran berupa motivasi kepada sekitar 20 ribu siswa dari jenjang PAUD hingga SMP se-Kabupaten Banyuwangi di tengah pandemi korona. Acara tersebut dibuka secara simbolis di SMPN 1 Wongsorejo yang dihadiri puluhan relawan.

INOVASI DIKMAS: Ny Ipuk Fiestandani Azwar Anas bersama Kabid Dikmas Nuriyatus Sholeha saat pembukaan BAM di SMPN 1 Wongsorejo pada Rabu (29/7)

INOVASI DIKMAS: Ny Ipuk Fiestandani Azwar Anas bersama Kabid Dikmas Nuriyatus Sholeha saat pembukaan BAM di SMPN 1 Wongsorejo pada Rabu (29/7)

Mereka tampak antusias menanti kesempatan untuk bisa mengajar para siswa sekolah meskipun hanya satu hari. Ketua Tim Penggerak PKK Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas mengatakan, BAM adalah sebuah inovasi yang dilakukan Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Pendidikan untuk tetap memberikan pendidikan yang baik di tengah pandemi.

Karena situasi yang ada saat ini belum pernah diprediksi sebelumnya, maka diperlukan sebuah gerakan selain layanan daring yang mampu memotivasi siswa untuk tetap semangat belajar. ”Dengan BAM ini, semua pihak bergotong royong untuk memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak. Kita juga membutuhkan sinergi seperti ini terus dilakukan untuk menghadapi pandemi. Semoga ini bisa terus digaungkan,” kata Ipuk.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno menambahkan, BAM dilaksanakan untuk memberikan semangat kepada seluruh siswa dari tingkat PAUD sampai SMP termasuk TKBM. Hal tersebut menurutnya menjadi tantangan tersendiri di masa pandemi Covid-19.

Apalagi sampai bulan ke-5 pasca ditutupnya aktivitas pendidikan, tentu berdampak kepada antusiasme belajar siswa. ”Ini sekaligus menjadi kegiatan untuk mengobati kerinduan bertatap muka. Siswa tetap merasakan pembelajaran langsung dengan bertemu relawan yang menjadi guru mereka,” kata Suratno.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang ikut membuka acara tersebut melalui video conference mengapresiasi munculnya BAM di tengah pandemi korona. Anas menilai proses pembelajaran jarak jauh yang selama ini dilakukan siswa bukanlah hal yang mudah. Proses itu pun menurutnya tidak menjamin siswa mendapatkan substansi pengajaran.

Anas pun berharap, ke depannya setelah status penularan korona di Banyuwangi semakin membaik, proses pembelajaran secara langsung bisa segera disesuaikan. Untuk sementara, pemerintah berharap masyarakat tidak abai dengan protokol kesehatan. Mulai dari pemakaian masker, hand sanitizer, dan jaga jarak. ”Semoga di tengah situasi seperti ini, para relawan dan nantinya para guru bisa tetap mengajar dengan baik,” tuturnya.

Pelaksanaan BAM yang melibatkan cukup banyak relawan, rupanya ikut menarik perhatian Museum Rekor Indonesia (MURI). Senior Manajer MURI Yusuf Ngadri mengatakan, gerakan BAM menjadi gerakan mengajar dengan lintas profesi terbanyak yang pernah digelar di tanah air. Dia pun mengapresiasi gerakan ini. Selain memberikan motivasi kepada para siswa di masa pandemi, gerakan ini dapat memperkaya intelektual siswa dan memberikan warna yang lebih luas terhadap cita-cita anak.

Para siswa, menurut Yusuf, bisa mendapatkan materi yang tidak mereka peroleh dari kurikulum konvensional. Tapi langsung dari pengalaman-pengalaman orang orang yang sudah berkecimpung langsung ke dunia kerja. Mulai dari dokter, penyiar radio, entrepreneur, sampai wartawan televisi. ”Ini role model baru dari sebuah pembelajaran yang dilakukan pengajar lintas profesi, selamat dan terus belajar untuk para siswa,” ungkapnya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno mengatakan, BAM mengingatkan kepada masyarakat jika pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Selama ini, tanggung jawab pendidikan seolah hanya menjadi beban sekolah. Tetapi dengan BAM, semua pihak dan lapisan masyarakat bisa ikut merasakan bagaimana tanggung jawab pendidikan dengan menjadi relawan pengajar selama satu hari.

Hal senada dikatakan oleh Kabid Dikmas Dinas Pendidikan Banyuwangi Nuriyatus Sholeha. Menurutnya, pada awal pembukaan pendaftaran untuk relawan BAM ada 1.600 orang yang mendaftarkan diri. Mereka berasal dari berbagai macam profesi. Mulai dari YouTuber, sastrawan, penulis, dokter, TNI, Polri, ojek online, sampai anggota DPRD. Dia pun mengaku cukup terkejut dengan animo masyarakat tersebut. Mengingat selama ini beban mengajar siswa dianggap sesuatu yang berat bagi sebagian besar orang.

Sampai akhirnya sesuai dengan kebutuhan, hanya ada 400 relawan yang dipilih untuk mengajar sekitar 20 ribu siswa di berbagai sekolah di Banyuwangi. Ada tiga poin yang disampaikan oleh para relawan ini. Mulai dari materi pembelajaran saat pandemi, penanaman nilai pancasila, dan yang terakhir adalah motivasi dan inspirasi belajar sesuai dengan profesi si pemateri. ”Ini yang menarik, karena siswa bisa menyerap hal baru. Sehingga ke depan ribuan calon pemimpin bangsa ini bisa termotivasi untuk mengubah peradaban,” tandasnya. (fre/afi/c1)

(bw/fre/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia