Senin, 10 Aug 2020
radarbanyuwangi
Home > Ekonomi Bisnis
icon featured
Ekonomi Bisnis
BPJS KESEHATAN BANYUWANGI

Kembangkan Sistem Penyederhanaan Prosedur Hemodialisa

23 Juli 2020, 07: 37: 48 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

KEPUASAN KONSUMEN: Peserta JKN-KIS Banyuwangi saat mendapatkan pelayanan inovasi terbaru BPJS Kesehatan berupa  finger print pasien Hemodialisis.

KEPUASAN KONSUMEN: Peserta JKN-KIS Banyuwangi saat mendapatkan pelayanan inovasi terbaru BPJS Kesehatan berupa finger print pasien Hemodialisis.

Share this          

JawaPos.com-Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia. Diawal tahun 2020, prosedur layanan kesehatan khususnya untuk cuci darah di Rumah Sakit atau klinik bagi peserta JKN-KIS dipermudah. Tahun ini diharapkan akan menjadi tahun kepuasan pelayanan kesehatan bagi peserta JKN-KIS. Salah satu bukti inovasi untuk memberikan kemudahan bagi peserta JKN-KIS adalah  pengembangan simplifikasi Hemodialisis melalui penggunaan sistem sidik jari atau finger print pasien Hemodialisis.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menghapus prosedur surat rujukan ulang bagi pasien gagal ginjal kronis untuk mendapatkan layanan hemodialysis atau cuci darah. Sebagai gantinya, pasien cukup mendaftar dan merekam sidik jari mereka di Rumah Sakit atau klinik yang dituju. Sudiro selaku Kepala Perawat Instalasi Hemodialisis Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan (RSUD Blambangan) menyatakan bahwa ketika aturan terbaru ditetapkan, pihak RS sudah menyiapakan sarana dan prasarananya. “Sebenarnya, RSUD Blambangan telah menerapkan sejak pertengahan tahun 2017 lalu” terang Sudiro.

Dengan memanfaatkan teknologi finger print . Sebelumnya pasien Hemodialisis harus mengantri di bagian pendaftaran rumah sakit, kemudian mengantri lagi di poli Hemodialisis, maka kini pasien Hemodialisis cukup langsung menggunakan finger print. Hal tersebut akan lebih menghemat waktu tunggu pasien.

Lebih lanjut Sudiro menjelaskan atau perekaman sidik jari merupakan deteksi penyalahgunaan kartu JKN-KIS yang bertujuan untuk dapat merekam sidik jari peserta JKN-KIS sebagai data pendukung validitas kartu JKN-KIS, sekaligus juga menampilkan foto peserta secara jelas.

Beruntungnya layanan kesehatan cuci darah ditanggung oleh BPJS Kesehatan, sehingga peserta dapat terbantu termasuk masyarakat berpenghasilan rendah atau kurang mampu. Salah satu peserta JKN-KIS yang merasakan kemudahan dari sistem finger print ini adalah Yuli Astuti (46). Dia merupakan pasien Hemodialisis di Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan. Yuli merupakan peserta JKN-KIS dari segmen peserta Bukan penerima Upah (PBPU).

“Sejak adanya finger print, waktu tunggu saya sekarang lebih cepat. Jadi, kita sebagai pasien tidak perlu menunggu lama untuk melakukan cuci darah ini. Dulu saya itu datang kesini harus pagi-pagi sekali sekitar jam 5 sudah harus ada disini. Untuk mendapatkan antrian awal di depan (pendaftaran). Tapi sekarang saya tinggal datang dan tempelin jari bisa langsung dilayani. Jadi, lebih mudah sekarang”, ucap Yuli.

Prosedur pelayanan Hemodialisis peserta JKN-KIS semakin mudah. Peserta JKN-KIS tidak perlu mengulang surat rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama. Selain itu, peserta JKN-KIS dapat menjalani tindakan cuci darah dengan mendaftar atau merekam fingerprint di rumah sakit tempat peserta mendapatkan pelayanan. Kemudahan fingerprint tersebut untuk memangkas prosedur administrasi pasien gagal ginjal kronis yang rutin mendapatkan layanan cuci darah di Rumah Sakit.

“Sebagai peserta mandiri, saya sangat terbantu akan adanya JKN-KIS ini. Saya gak bayangin harus mengeluarkan puluhan juta rupiah buat cuci darah ini”, lanjut Yuli.

Frekuensi cuci darah yang mesti dijalani pasien gagal ginjal adalah minimal dua kali seminggu. Itu artinya dalam sebulan bisa delapan sampai dua belas kali.

“Saran saya untuk masyarakat yang belum mendaftar JKN-KIS jangan selalu beranggapan, karena tidak pernah merasakan manfaat langsung membuat kita enggan daftar. Jadi, pesan saya terhadap masyarakat jangan terlalu perhitungan, hanya karena belum sakit” ucap Yuli.

Perubahan layanan dari rujukan ke fingerprints ini sebenarnya mulai berjalan awal tahun 2020 ini. Total ada sekitar tujuh rumah sakit di Banyuwangi yang melayani cuci darah. Sebagian besar telah menggunakan sistem fingerprints sebagai prosedur administrasi. (*)

(bw/fre/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia