Kamis, 13 Aug 2020
radarbanyuwangi
Home > Edukasi
icon featured
Edukasi

Workshop Tatap Muka Pertama di Banyuwangi

08 Juli 2020, 10: 25: 56 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

PENGUATAN GURU: Workshop tatap muka pertama di Banyuwangi yang diselenggarakan AGPAII Banyuwangi untuk guru agama se-Karisedenan Besuki.

PENGUATAN GURU: Workshop tatap muka pertama di Banyuwangi yang diselenggarakan AGPAII Banyuwangi untuk guru agama se-Karisedenan Besuki. (GERDA FOR JAWAPOS.COM)

Share this          

BANYUWANGI – Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Banyuwangi menyambut langkah kebiyasaan anyar di Banyuwangi dengan langsung melaksanakan kegiatan workshop tatap muka pertama di tengah pandemi.

Workshop yang diselenggarakan selama dua hari terhitung mulai kemarin (7/7) hingga hari ini (8/7) mengangkat tema ”Pengembangan Penguatan Guru Pendidikan Agama”.

Bertempat di Hotel Santika Banyuwangi, workshop yang tetap mengedapankan protokol kesehatan Covid-19 dihadiri oleh para guru pendidikan dari enam agama di Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, dan Jember. Sebanyak 50 orang guru pendidikan agama mengikuti workshop ini.

Tujuan diselenggarakan workshop penguatan pendidikan agama tersebut yakni untuk menyikapi sekaligus mempersiapkan guru dalam tugas mengajar dan mendidik siswa selama masa Covid-19. Tentunya ide kreatif dan pola pengajaran harus menyesuaikan keadaan di era new normal atau kebiyasaan anyar.

Karena proses pembelajaran belum bisa dilaksanakan tatap muka dengan siswa, maka guru dituntut untuk lebih kreatif dalam hal pembelajaran dan pemberian materi. ”Intinya guru harus tetap mengajar dan memberikan materi didik kepada siswa,” terang Imam Najeh selaku Ketua AGPAII Banyuwangi.

Dari workshop ini, diharapkan tidak ada lagi stigma yang berkembang di masyarakat yang menyebut guru hanya memberikan tugas dan pekerjaan rumah kepada siswa saja. Sedangkan literasi atau bahan ajar siswa bisa mencari di dunia maya atau internet.

Ke depannya  guru terutama pendidikan agama, baik mulai Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga sekolah Menengah Atas (SMA), wajib memberikan materi pembelajaran sesuai kurikulum yang ada. Baik melalui dalam jaringan (daring) secara langsung maupun tidak langsung. Tidak langsung yang dimaksud, menurut Imam Najeh, guru wajib memberikan materi melalui video, untuk selanjutnya bisa diunggah di media internet atau disebar kepada siswa didik.

Memang dengan begitu, lanjut Imam Najeh, ketersediaan jaringan internet merupakan hal wajib. Namun itu tidak menghalangi para guru agama untuk berkreasi dan berhenti memberikan pendidikan kepada generasi penerus bangsa.

Kegiatan workshop ini merupakan kolaborasi AGPAII Banyuwangi dengan Pusat Penelitian Pengembangan Pendidikan Agama Kementrian Agama Republik Indonesia, Direktorat Pendidikan Agama Islam Kemenag RI, dan praktisi pendidikan di Jawa Timur. (*)

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia