Rabu, 05 Aug 2020
radarbanyuwangi
Home > Banyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Penipuan Online Satu Setengah Tahun Raup Rp 1,2 M

01 Juli 2020, 17: 45: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

BEBER BUKTI: Kapolresta Kombespol Arman Asmara (dua dari kanan) menunjukkan barang bukti ATM yang dipakai pelaku untuk menarik uang korban.

BEBER BUKTI: Kapolresta Kombespol Arman Asmara (dua dari kanan) menunjukkan barang bukti ATM yang dipakai pelaku untuk menarik uang korban. (RAMADA KUSUMA/JAWAPOS.COM)

Share this          

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi –  Anggota Reskrim Polresta Banyuwangi memberikan kado  istimewa untuk peringatan HUT ke-74 Bhayangkara yang jatuh pada 1 Juli. Anak buah Kombespol Arman Asmara Syarifuddin itu berhasil mengungkap sindikat penipuan lewat media sosial (medsos).

Tiga orang berhasil ditangkap. Mereka bukan warga Banyuwangi. Dua orang dari Surabaya, satunya dari Sulawesi Selatan. Jaringan penipuan ini melibatkan pelaku dari penjuru Indonesia. Dua pekan lalu, tiga warga Banyuwangi menjadi korban penipuan dengan mencatut nama pejabat setempat.

Selain mengamankan tiga pelaku, anggota Reskrim juga menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya 30 kartu ATM berbagai bank, 15 buku rekening bank beserta ATM-nya, dan tiga buah ponsel. Ulah sindikat penipuan melibatkan banyak orang.

BRBAGI PERAN: Tiga pelaku penipuan lewat medsos diamankan di Mapolresta Banyuwangi kemarin. Mereka merupakan sindikat penipuan antarprovinsi.

BRBAGI PERAN: Tiga pelaku penipuan lewat medsos diamankan di Mapolresta Banyuwangi kemarin. Mereka merupakan sindikat penipuan antarprovinsi.

Saat ini, 14 pelaku masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), termasuk aktor utamanya. Sindikat ini beraksi sudah cukup lama. Jika dihitung sejak 2019 hingga pertengahan Juni 2020, mereka berhasil meraup uang Rp 1,2 miliar. ”Aktor utamanya masih kita kejar. Dialah yang meretas nomor ponsel korban. Tiga belas komplotannya yang bertugas mencari rekening dan menarik uang dari bank juga kita kejar,” tegas Kapolresta Kombespol Arman Asmara Syarifuddin saat merilis perkara di hadapan wartawan kemarin.

 Pengungkapan kasus penipuan lewat online ini bermula dari laporkan korban Nuriyatus Sholeha, Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat (Kabid Dikmas) Dinas Pendidikan Banyuwangi pada Senin lalu (15/6). Kala itu, korban melapor ke Mapolresta karena nomor ponselnya diretas oleh hacker, hingga akhirnya nomor WhatsApp (WA) miliknya digunakan oleh pelaku untuk meminta sejumlah uang pada kontak di nomor ponsel tersebut.

Tidak hanya Nuriyatus Sholeha, dua korban lainnya yang melaporkan atas kasus yang sama. Mereka adalah  Janoto dan Kartiningsih, yang semuanya warga Banyuwangi. Berdasar laporan korban itulah, anggota Satreskrim melakukan penyelidikan. Hasilnya, para pelaku tersebut sebagian besar tidak berada di Banyuwangi, melainkan berada di luar daerah. ”Anggota kami melakukan patroli cyber bekerja sama dengan tim cyber crime. Mereka melaksanakan penyelidikan dengan berbagai macam nomor rekening,” ungkap Arman.

Dari patroli cyber dan pelacakan berbagai macam nomor rekening itulah, anggota Reskrim berhasil mengamankan Abdul Ajis, warga Surabaya. Dia berperan sebagai pencari rekening di wilayah Surabaya. Selanjutnya dari pelaku Abdul Ajis tersebut dikembangkan. Tak seberapa lama, polisi menangkap Abdul Malik, warga Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan. Pria tersebut bertugas sebagai pengepul rekening di wilayah Jawa Timur.

Tugas pengepul rekening adalah meminta pencari rekening untuk menyuruh orang lain agar membuka rekening bank dan diberi imbalan uang. Selanjutnya buku rekening beserta kartu anjungan tunai mandiri (ATM) diberikan kepada di pencari rekening. ”Orang yang disuruh membuka rekening diberikan imbalan uang,” jelas Arman.

Setelah mengamankan dua orang pencari dan pengepul rekening di wilayah Jawa Timur, anggota Reskrim terus melakukan pengembangan. Hasilnya, polisi berhasil mengamankan pelaku ketiga atas nama Syamsudin alias Poker, warga Surabaya. Dia berperan sebagai pemodal pembuatan rekening penerima. ”Dalam kasus ini ada pelaku 17 orang pelaku, dan tiga orang pelaku tertangkap, 14 sisanya masih masuk daftar pencarian orang (DPO),” tegasnya.

Dari ketiga pelaku yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka, terungkap satu nama orang yang berperan sebagai eksekutor atau meretas nomor ponsel WA berinisial KR. Perannya selain meretas nomor ponsel, juga menelepon orang yang menjadi sasaran aksi penipuan.

Setelah berhasil meretas nomor ponsel, KR kemudian meminta korban yang ditelepon atau dimintai sejumlah uang. Setelah berhasil mentransfer sejumlah uang, pemilik nomor rekening yang ada di dalam jaringan tersebut langsung menarik semua uang. Bagi hasil keuntungannya 60 persen untuk KR sebagai eksekutor dan 40 persen untuk pemodal pembuatan rekening

”Mereka sudah dalam jaringan nasional, ada 13 orang pelaku sebagai pencari rekening yang tersebar di 13 wilayah di Indonesia,” tegasnya.

Dari hasil penangkapan tiga tersangka tersebut, jumlah rekening yang digunakan oleh tersangka Syamsudin alias Poker dan KR (yang saat ini masih DPO) sebanyak 250 buah. Itu dihitung dari tahun 2019 sampai bulan Juni 2020. ”Nilai total transaksi dari pertengahan tahun 2019 sampai bulan Juni 2020 ini sebesar Rp 1,2 miliar. Kami masih mendalami dan menyelidiki kasus ini untuk mengungkap pelaku utama yakni KR yang sampai saat ini masih buron,” tandasnya.

Ketiga tersangka akan dijerat dengan pasal 51 ayat (2) juncto pasal 36 juncto pasal 30 ayat (1) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan atau pasal 378 KUHP tentang Penggelapan dengan ancaman hukuman maksimal empat tahun. (*)

(bw/ddy/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia