Rabu, 05 Aug 2020
radarbanyuwangi
Home > Politik & Pemerintahan
icon featured
Politik & Pemerintahan

Apes Tangi Datangi Polresta, Desak Hajatan Diizinkan

01 Juli 2020, 17: 00: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

SAMBAT: Perwakilan pekerja seni teroban Banyuwangi menyampaikan keluh kesahnya kepada Kapolresta Banyuwangi, Senin (29/6).

SAMBAT: Perwakilan pekerja seni teroban Banyuwangi menyampaikan keluh kesahnya kepada Kapolresta Banyuwangi, Senin (29/6). (DEDY/JAWAPOS.COM)

Share this          

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Perwakilan pekerja seni yang tergabung dalam Aliansi Pekerja Seni Teroban Banyuwangi (Apes Tangi) melakukan audiensi dengan Kapolresta Banyuwangi Senin (29/6).

Kedatangan perwakilan pekerja seni itu diterima langsung oleh Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifuddin. Para perwakilan pekerja seni ini mendesak agar pihak kepolisian segera memberikan perizinan untuk kegiatan hajatan seperti pernikahan dan khitanan.

Ajojink, salah seorang pekerja seni teroban Banyuwangi mengatakan, kedatangannya ke Mapolresta Banyuwangi untuk audiensi tersebut tak lain hanya untuk menanyakan kejelasan terkait Surat Telegram Nomor STR/364/VI/OPS.2./2020 tanggal 25 Juni 2020 tentang perintah kepada jajaran mengenai pencabutan Maklumat Kapolri dan Upaya Mendukung Kebijakan Adaptasi Baru atau New Normal.

”Kami ini memohon kejelasan terkait pencabutan maklumat Kapolri. Dan kami ingin segera hajatan yang ada hiburan pentas musik di Banyuwangi ini juga bisa mendapatkan izin tentu dengan mematuhi anjuran protokol kesehatan Covid-19,” ungkap lelaki asal Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, ini.

Sejak adanya pandemi wabah virus korona, semua aktivitas kegiatan hajatan berhenti total. Semua pekerja seni yang hidup dari bawah terob (tenda hajatan) semuanya berhenti bekerja dan menganggur.

Akibatnya, selama empat bulan ini semua pekerja seni teroban yang meliputi penyedia jasa sewa tenda, sound system, dekor pengantin, penata rias, fotografer pengantin, shooting video, artis penyanyi, musisi musik, master off ceremony (MC), dan pekerja seni teroban lainnya tidak bisa beraktivitas.

Anggota Banyuwangi Sound Sistem Community, Gigin, juga mengungkapkan keresahan yang sama. Hampir semua pemilik sound system dan penyewaan tenda (terob) di Banyuwangi hingga kini masih belum bekerja lantaran tidak adanya kejelasan terkait izin dibukanya kembali hajatan pernikahan maupun khitanan.

”Semoga kedatangan kami ini, segera ada langkah dan solusi kebijakan dari pemerintah kabupaten termasuk Polresta Banyuwangi. Agar kami masyarakat bawah ini bisa segera beraktivitas,” jelasnya.

Mendengar keluhan dari perwakilan Apestangi tersebut, Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifuddin meminta agar perwakilan Apestangi membuat panduan bagi masyarakat yang hendak melaksanakan kegiatan hajatan pernikahan maupun khitanan dengan tetap mengikuti anjuran protokol kesehatan Covid-19 dalam menyongsong kebiyasaan anyar di Banyuwangi.

”Silakan teman-teman Apestangi membuat panduan hajatan, kalau perlu disimulasikan dengan video new normal hajatan dengan tetap mematuhi anjuran protokol kesehatan Covid-19,” jelasnya.

Setelah ada panduan dan video simulasi new normal hajatan, jelas Kapolresta, selanjutnya panduan itu akan segera dibahas di tingkat Gugus Tugas Covid-19 Banyuwangi, apakah sudah memenuhi standar dan prosedur new normal hajatan atau belum.

”Kami sangat memahami kondisi masyarakat pekerja seni teroban, tapi batas-batas standar protokol kesehatan Covid-19 juga harus diperhatikan. Apalagi, sampai saat ini Banyuwangi juga angka penderita virus korona juga masih terus bertambah,” pungkasnya. (*)

(bw/ddy/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia