Selasa, 07 Jul 2020
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features

Dua Legenda Mozes Misdy dan S. Yadi K. Melukis Bareng

Sama-Sama Peduli Penanganan Korona

29 Juni 2020, 20: 39: 43 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

BERKARAKTER: S. Yadi K. melukis model di Langgar Art, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi, kemarin (27/6).

BERKARAKTER: S. Yadi K. melukis model di Langgar Art, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi, kemarin (27/6). (RAMADA KUSUMA/JAWAPOS.COM)

Share this          

Menyaksikan langsung dua pelukis ternama yang sudah melegenda di Banyuwangi, Mozes Misdy dan S. Yadi K. sedang melukis di satu tempat, boleh dibilang kesempatan langka. Apalagi, usia keduanya yang sudah tak muda lagi. Namun, keduanya masih terus berkarya dan peduli sesama.

DEDY JUMHARDIYANTO, Jawa Pos Radar Banyuwangi

USIANYA sudah tak muda lagi. Semangatnya dalam berkarya patut diteladani. Itulah sosok maestro dua seniman lukis Banyuwangi, Mozes Misdy dan S. Yadi K.  Mereka berdua masih produktif, melahirkan karya-karyanya di usia senja.

SENIOR: Mozes Misdy menggoreskan palet di kain kanvas.

SENIOR: Mozes Misdy menggoreskan palet di kain kanvas.

Jemarinya masih lentik dan lihai menggerakkan palet di tangan kanannya, seolah seperti ada yang menuntun menggerakkan cat yang diguratkan pada bidang kain kanvas. Kedua bola matanya menatap bidang kanvas sesekali menatap model yang duduk dengan anggun di sebelah kirinya.

Campuran warna-warni cat dipadu hingga menghasilkan perpaduan warna yang diinginkan. Tatapan matanya fokus, jemarinya menggerak-gerakkan palet dengan lihainya. Meski duduk dalam waktu yang lumayan lama, Mozes Misdy seolah betul-betul menikmati. Apalagi, dalam kesempatan itu melukis bersama-sama dengan para seniman lukis di Banyuwangi. Melukis on the spot dengan objek yang sama, hanya dari sudut pandang berbeda.

Begitu pula dengan S. Yadi K. Dalam kesempatan kali ini, pria kelahiran Banyuwangi 6 Agustus 1958 silam itu, tampak duduk santai mengenakan kaus warna hitam dan sarung. Tangan kirinya memegang tumpukan lembaran kertas berwarna putih. Sementara tangan kirinya dicelupkan pada cat warna biru.

Tatapannya mengarah pada seorang model perempuan cantik yang duduk di sebelah kanannya. Hanya dalam hitungan menit, Yadi menyelesaikan sketsa ”Lencir Kuning” yang berjarak dua meter di sebelah kanannya. Sketsa gambar itu diserahkan kepada Imam Maskun, pemilik ”Langgar Art”.

Para seniman lukis ini berkumpul menyambut New Normal dan New Spirit dengan menggelar melukis on the spot dengan mengangkat tema ”Lencir Kuning”. Diharapkan para seniman ini berdoa agar pandemi wabah virus korona ini segera sirna, dan masyarakat kembali bekerja dan beraktivitas pada tatanan baru atau new normal.

Hasil lukisan para seniman ini rencana akan di lelang dan didonasikan untuk peduli virus korona. ”Hati saya ini sempat perih apa yang bisa saya perbuat selama korona ini, ternyata teman-teman seniman pelukis muda sudah bergerak. Bahkan sudah empat pertemuan ini. Ini sangat luar biasa,” puji pelukis dengan nama lengkap Supriyadi Kusnun ini.

S. Yadi K. sangat mengapresiasi langkah pelukis muda Banyuwangi yang memiliki kepedulian yang tinggi, dengan ikut mengambil peran-peran gerakan kepedulian sosial. ”Semoga korona ini cepat menghilang, dan kita semua bisa beraktivitas kembali seperti semula,” jelas lelaki yang tinggal di Jalan Widuri 24, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah ini.

Selain pelukis gaek Mozes Misdy dan S. Yadi, juga ada sejumlah seniman lukis lainnya yakni N. Kojin, Windu Pamor, Slamet Sugiono dan S. Yono. Mereka dengan lincah memainkan kuas di masing-masing bidang kanvas. ”Secara umum pelukis belum tentu seniman, seniman belum tentu pelukis,” ujar Mozes Misdy.

Seorang seniman, kata Mozes, harus memiliki peran. Apalagi sebagai seniman muda, harus banyak berbuat, karena seniman adalah sebagai teladan yang berhati mulai, jujur, baik, dan mengerti penderitaan. Karena seniman sering menderita. ”Apa yang sudah kamu lakukan sebagai seorang seniman, jika beragama Islam apa yang sudah kamu perbuat untuk agamamu, begitu juga dalam bermasyarakat apa yang sudah kamu perbuat untuk masyarakatmu,” ujar Mozes.

Di tengah pandemi wabah virus korona ini semuanya terdampak krisis, tapi sebagai seniman sudah terbiasa dengan krisis. Karena hampir 80 persen seniman sudah pernah mengalami krisis ekonomi.

Seorang seniman itu tak hanya mencari sebuah materi. Ambil contoh pemain ludruk, di atas panggung jadi raja, hanya mendapatkan upah Rp 50 ribu. Tapi mereka bangga, karena bisa menghibur orang lain. Itulah seniman sejati yang tidak tergantung hanya sebatas materi. ”Jadi seorang seniman itu tidak dididik, tapi dilahirkan,” katanya.

Tugas seniman juga melahirkan generasi, oleh karena itu butuh kepedulian. Seniman itu individu dalam karya, tapi tidak dalam hidup bermasyarakat. Harus tetap berinteraksi dengan individu lainnya dan jadi contoh yang baik. Sikap peduli terhadap sesama, lingkungan terus digalakkan.

Kalau seseorang sadar sebagai seniman, maka punya kewajiban dengan apa yang sudah telah diperbuat. Maka perlu berlatih di dalam karya dan di dalam jiwa. ”Umumnya seniman hanya mengandalkan akal pikirannya, tapi jiwanya tidak dimainkan, akhirnya karyanya ngunu-ngunu thok ae (gitu-gitu aja),” ucapnya dengan nada lantang

Seniman memiliki peran dan tanggung jawab yang luar biasa dalam lingkungan keluarga, tetangga, dan bermasyarakat. Oleh karena itu seniman juga harus ditopang dengan wawasan agar tidak plonga-plongo pokok bisa menggambar. ”Kalau kita hidup di dunia tak punya peran, maka sama halnya kita kalah dengan pohon pisang. Pohon pisang itu mati, tapi setidaknya sudah berusaha berbuah. Setelah berbuah mau dimakan oleh siapa pun terserah, pohon pisang tidak pamrih. Pohon pisang mati, tapi sudah berbuah, lantas kalian seniman buahnya apa?” sindir Mozes membangkitkan semangat para pelukis muda Banyuwangi yang berkumpul di Langgar Art, Kelurahan Sobo.

Mozes yang saat ini sudah berusia 83 tahun dengan segala hasil karyanya, masih belum berani mengaku sebagai seorang seniman. Karena seorang seniman mempunyai peran, yang sama seperti kiai. ”Seniman tidak bisa diajari, tapi dilahirkan. Jadi kalau sudah berbuat tidak perlu khawatir dan risau akan balasannya. Yakinlah pada sang pencipta,” pungkasnya.

Berbagai macam aliran lukisan dipraktikkan oleh seniman Banyuwangi dalam kesempatan ini. Di antaranya aliran realis spontan, realis ekspresif, dan realis sketsa. Untuk satu lukisan on the spot ini para seniman membutuhkan waktu sekitar dua jam. Rencananya, hasil lukisan Lencir Kuning ini bakal dilelang untuk didonasikan kepada penanganan Covid-19. ”Kita akan lelang dan hasilnya nanti akan kami donasikan ke penanganan Covid-19. Ini salah satu bentuk kepedulian kami seniman lukis di Banyuwangi,” pungkas Imam Maskun, pemilik Langgar Art. (*)

(bw/ddy/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia