Selasa, 07 Jul 2020
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Kisah Teun Ottolander, Warga Belanda

Dijuluki Tuan Pancur, Ikut Menginisiasi Nama Desa Tamansari

22 Juni 2020, 20: 39: 08 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

TAK TERURUS: Abdul Hamid menunjukkan makam T. Ottolander yang berada di Desa Tamansari, Kecamatan Licin.

TAK TERURUS: Abdul Hamid menunjukkan makam T. Ottolander yang berada di Desa Tamansari, Kecamatan Licin. (SYAIFUDDIN MAHMUD/JAWAPOS.COM)

Share this          

Masyarakat sekitar Desa Tamansari, Kecamatan Licin mengenalnya dengan nama Tuan Pancur. Warga Belanda tersebut ikut mengenalkan tari gandrung ke berbagai daerah di Indonesia. Makamnya kini berada di tengah permukiman penduduk di kaki Gunung Ijen.

FREDY RIZKI, Licin

PRIA Belanda itu memiliki nama asli Teun Ottolander. Lahir di kota kecil Boskoop, Belanda 166 tahun silam. Makamnya yang berada di Desa Tamansari, Kecamatan Licin mendadak ramai diperbincangkan dalam sepekan terakhir.

Bukan karena makamnya tak terurus, tapi karena sosoknya yang cukup dekat dengan masyarakat Banyuwangi. Dia juga sangat mencintai tari gandrung. Riwayat Otto – panggilan Teun Ottolander - diungkap oleh Ketua Komunitas Banyuwangi Tempo Doeloe (BTD) Munawir.

Dia menceritakan, Otto adalah satu budayawan Banyuwangi yang memperkenalkan gandrung Banyuwangi hingga ke nusantara pada zaman penjajahan Belanda. Meski datang sebagai bagian dari penjajah, Otto begitu mencintai Banyuwangi, terutama lingkungan sekitar Tamansari, sosok Otto patut  mendapatkan penghormatan. Otto memulai karirnya di tahun 1879 sebagai asisten di Cinchona, perkebunan kopi di Jawa Tengah.

Sempat juga menjadi Manajer Estate di Jawa Timur.

Dari data yang didapat BTD di Museum Leiden Belanda, tahun 1909 Otto babad alas atau mendirikan perkebunan sendiri. Dia menjadi pemilik perkebunan hingga menetap di Desa Tamansari. Otto adalah manajer dari Dutch Indian Syndicate of Agriculture yang memiliki minat besar dalam mempelajari alam dan perlindungan alam.

Otto sering mengumpulkan beraneka tanaman yang sebagian besar berasal dari Jawa Timur. Tahun 1900, dia mengumpulkan bermacam tanaman di seluruh Jawa Timur di Bajoelor (1901), Pantjoer (1901); Besoeki dan G. Raoeng-ldjen (1902); Pradjekan, Sitoebondo  (1908), dan mungkin di tempat lain, Sumatera dan lainya.

Otto juga mengumpulkan dan meneliti  berbagai jenis tumbuhan yang ditanam di perkebunanya. Beberapa tahun kemudian, ia mulai mengembangkan tanaman kopi Jawa Tengah dan meneliti bunga Pantjoer & Anggrek yang terletak di lereng Pegunungan Kendeng.

Karena dedikasinya meneliti bunga Pantjoer itulah, oleh masyarakat setempat Otto dijuluki Tuan Pancur. Dalam perjalanan hidupnya, Otto menikah dengan penduduk pribumi yang bernama Astiyah atau yang akrab disebut Nyonya Mince. “Otto fokus dalam dunia pertanian dan memperbaiki pertanian yang berbasis lahan. Dia mendedikasikan dirinya untuk Desa Tamansari menuju budidaya padi. Otto juga membangun bendungan di Desa Tamansari,” ungkap Munawir.

Di tengah karirnya sebagai peneliti botani itulah Otto ikut membawa nama tari gandrung ke masyarakat luas. Pada Tahun 1921, Otto ikut dalam Kongres Institut Java di Bandung dan menampilkan beberapa penari gandrung hingga ke tingkat nasional. Otto juga dinilai berhasil membawakan beberapa atraksi tarian gandrung di Kongres Bandung tersebut.

Meski memiliki jabatan sebagai pengusaha perkebunan, Otto dikenal memiliki kecintaan terhadap seni tradisional. Rumahnya yang besar di Panataban sering dijadikan arena pentas seni budaya Banyuwangi, termasuk wayang. Otto juga yang memfasilitasi Th Pigeaud ketika melakukan survei dan penelitian tentang seni pertunjukkan di Banyuwangi. “Ada banyak lagi peran Otto dalam seni budaya Banyuwangi. Beliau sangat berjasa bagi Banyuwangi,” imbuh pria 47 tahun itu.

Dari catatan yang diperolehnya, kata Munawir, nama Desa Tamansari tak lepas dari peran Otto. Nama desa tersebut diambil dari sebuah taman, yang dipergunakan sebagai tempat penginapan milik Tuan Pancur. Lokasi taman tersebut berada di Dusun Krajan, dengan jarak tempuh sekitar 200 meter dari kantor Desa Tamansari.

Salah satu bukti keberadaan Tuan Pancur adalah puing bangunan dan makam yang berada di Desa Tamansari. Awalnya, secara administratif Desa Tamansari masuk wilayah Kecamatan Glagah, namun diperbantukan oleh kantor perwakilan Licin yang berlokasi di wilayah Desa Licin. “Dia juga ketua assosiasi para pengusaha perkebunan di Banyuwangi. Ia orang di balik membanjirnya buruh-buruh Jawa dari sekitar Madiun, Kediri, Blitar, dan sekitarnya di Banyuwangi,” ungkap Munawir.

Melihat kondisi makam Otto yang tidak terurus, BTD berniat untuk mengusulkan agar bisa dirawat dan diperbaiki. Otto dianggap sangat berjasa bagi Banyuwangi. “Lokasi kuburan bercampur dengan kandang ayam. tidak terawat. Keturunan Otto adalah Welly. Tahun 1990 sudah kembali ke Belanda. Keberadaan Welly tidak ada yang tahu,” kata Munawir. (*)

(bw/fre/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia