Selasa, 07 Jul 2020
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Agar Dapur Tetap Mengepul, Kreativitas Muncul

Ubah Pekarangan Jadi Kebun, Buah dan Sayur Tinggal Petik

19 Juni 2020, 05: 25: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

WORK FROM HOME: ”Nganggur” karena tidak bisa mengajar di kelas, Imam Baedlowi memanfaatkannya dengan bercocok tenam.

WORK FROM HOME: ”Nganggur” karena tidak bisa mengajar di kelas, Imam Baedlowi memanfaatkannya dengan bercocok tenam. (JAWAPOS.COM)

Share this          

Selama pandemi korona, seluruh kegiatannya sebagai guru dikerjakan dari rumah. Di tengah kesibukan itu pula, aktivis pramuka ini juga sibuk mengubah pekarangan rumahnya menjadi sumber pangan mandiri.

SHULHAN HADI, Srono

Kalaupun pemerintah Banyuwangi menerapkan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB), kemungkinan besar orang seperti Imam Baedlowi tidak terlalu kebingungan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Bagaimana tidak, di rumahnya yang berada di RT 1 RW 2, Dusun Sumberagung, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono ini, berbagai jenis sumber pangan baik nabati maupun hewani tersedia.

Nuansa ijo royo-royo bisa disaksikan di sekeliling kediaman guru MI Al-Maarif Rejoagung, Srono, ini. Bermacam-macam tanaman pangan seperti buah naga, nanas Australia, pisang kladi, manggis, nangka madu, duren, hingga kelengkeng, semua tersedia. Selain itu, untuk kebutuhan dapur harian, beragam sayur-mayur, jeruk nipis, belimbing wuluh, kelapa hibrida, cabai juga ada. Baedlowi juga membudidayakan sejumlah tanaman obat keluarga meliputi jahe merah, jahe gajah, kencur,  kunir kuning dan putih, laos, merica, lidah buaya, dan sejumlah tanaman hias.

Sekilas, jika melihat kondisi rumahnya, orang akan mengira dia merupakan pakar yang menekuni bidang pertanian. Namun siapa sangka, jika pria yang akrab di sapa Kak Bay Bay ini berlatar belakang pendidikan guru. ”Saya ini guru, pendidikan saya juga keguruan,” ujar alumnus IAI ibrahimy dan IAIN Jember ini.

Seperti panggilannya, Imam Baedlowi merupakan orang yang tidak lagi asing di dunia kepanduan Banyuwangi. Dengan modal pengalaman Pramuka itu pula, sejumlah perhelatan nasional juga pernah dia ikuti, termasuk kegiatan regional di tingkat ASEAN. Tidak hanya itu, kepiawaiannya merawat dan membudidayakan berbagai tanaman di pekarangan rumah secara rinci dia dapat dari kepramukaan.

Baedlowi menyebutkan, saat aktif di Pramuka penegak, dia juga aktif di Satuan Karya (Saka) Taruna Bumi dan Saka Wana Bakti. Dari aktivitas itu pula, akhirnya dia berkesempatan mengikuti kegiatan pelatihan di Jember. ”Di acara itu oleh segenap kakak pembina diajari cara pembibitan dan bercocok tanam secara sederhana,” jelasnya.

Tidak semua hasil panen yang dia peroleh itu murni dia serahkan ke pasar. Sebagian justru dialokasikan untuk kegiatan berbagi. ”Selain buah naga, sebagian dijual sebagian dibagikan,” terangnya.

Ketekunan dan rasa cinta suami Lina Fitriani kepada aktivitas bercocok tanam, menurutnya tidak lepas dari latar belakangnya sebagai anak dari keluarga buruh tani. Selain itu, dewasa ini dia banyak melihat ulasan terkait kondisi bumi yang semakin memburuk. Rasa kepedulian bisa dan harus diawali dari hal yang paling sederhana dan dekat.

Bagi Baedlowi, membudidayakan tanaman di rumah bisa menjadi sarana menumbuhkan kepedulian terhadap alam, baik bagi dirinya maupun orang di sekitar. ”Saat ini bumi kita kan sedang sakit, terlalu banyak zat kimia, ini ikhtiar kecil saya,” ujar ayah dari Mohammad Perwira Al-Gholib dan Aisha Syifa Alya Rahma ini.

Untuk memuluskan usaha pertanian organik ini, selain mengandalkan teori dan pengalaman yang Baedlowi peroleh. Untuk menunjang kesuburan tanaman dia mengandalkan pupuk kandang dari para tetangga. Biasanya dia akan mengumpulkan kotoran dari para peternak yang dia kenal. Untuk memenuhi kebutuhan ini, dia mengutamakan tetangga terdekat terlebih dahulu. ”Saya ini dapat pupuk nyicil dari tetangga,” ujarnya. (*)

(bw/sli/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia