Selasa, 07 Jul 2020
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Penunjuk Tata Ruang Kota, Banjarsari ke Barat

Sisa-Sisa Patok Trianggulasi Peninggalan Belanda di Banyuwangi

15 Juni 2020, 09: 05: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

YANG TERSISA: Ilham menunjukkan sisa tonggak trianggulasi di Lingkungan Gunungsari, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah.

YANG TERSISA: Ilham menunjukkan sisa tonggak trianggulasi di Lingkungan Gunungsari, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. (JAWAPOS.COM)

Share this          

Pemerintah kolonial Belanda sangat rinci menyiapkan tatanan kota Banyuwangi. Hal itu terlihat setelah Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banyuwangi meneliti patok triangulatie (trianggulasi) di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. Laporan FREDY RIZKI dari Glagah, Banyuwangi

NOTIFIKASI pesan elektronik di handphone milik Ilham Triyadi berbunyi tepat di hari ketiga hari raya Idul Fitri 1441 Hijriah kemarin. Disangkanya pesan itu berisikan ucapan hari raya seperti biasa. Rupanya pesan yang masuk ke ponsel anggota TACB Banyuwangi itu berasal dari salah seorang arkeolog heritage bernama Fauzi yang tinggal di Jakarta.

Dalam pesanya, Fauzi menanyakan lokasi tempat tinggal Ilham. Ilham pun menjelaskan  tempat tinggalnya berada di Dusun Sukosari atau dikenal dengan nama lain Dusun Derek, Desa Paspan, Kecamatan Glagah. Mendengar hal itu, Fauzi yang berada di ibu kota langsung menceritakan kepada Ilham jika ada peningalan sejarah dari era kolonial di Dusun Derek.

Peninggalan kuno tersebut berupa tonggak trianggulasi yang terkoneksi dengan dua tonggak lainya di wilayah Banyuwangi. Penasaran, Ilham pun mencoba mencari titik tersebut. Apalagi lokasinya berada tak jauh dari rumahnya. Dia tertarik karena dari referensi yang dibaca Fauzi di Museum Leiden, Belanda, tonggak tersebut berada di Dusun Derek, Desa Paspan Glagah, Kelurahan Banjarsari dan Lingkungan Kampung Ujung, Kelurahan Kepatihan.

Sayangnya, saat ditemukan, tonggak yang dimaksud sudah tak berbentuk. Tonggak yang berdiri di dekat sungai itu hanya tersisa pondasinya saja yang menunjukkan jika di atasnya pernah berdiri tonggak trianggulasi. Dari penuturan warga, tonggak tersebut masih berdiri di awal tahun 90-an sebelum kemudian rata dengan tanah. "Tidak ada yang tahu riwayat kenapa bangunan tersebut akhirnya roboh. Saya sudah tanya ke sana kemari," ujar Ilham.

Tak berhenti di situ, Ilham kemudian melanjutkan perjalananya melihat kondisi tonggak yang ada di Lingkungan Gunungsari, Kelurahan Banjarsari. Tonggak yang berada di tengah sawah itu masih utuh. Setidaknya masih 80 persen bangunanya tersisa. Hanya sebagian dindingnya saja tampak terkelupas. Tulisan "triangulatie" masih terbaca dengan jelas.

Kemudian ada penunjuk ketinggian dari permukaan air laut yang juga masih terbaca di salah satu sisi tonggak. Ilham mengatakan, bentuk asli dari tonggak itu sebenarnya dilengkapi dengan tempat untuk menghidupkan lampu. Tempat lampu terbuat dari besi dan kuningan setinggi 60 sentimeter di atas tonggak. "Yang di Banjarsari sudah tidak ada tempat lampunya. Kemungkinan sudah diambil atau dicuri kolektor barang antik. Tapi ada bekasnya, sekarang tonggak itu berdiri di atas tanah milih H. Moch Ali, warga Desa Kemiren," jelas Ilham.

Setelah melihat kondisi tonggak di Kelurahan Banjarsari, Ilham kembali mencoba mencari tonggak ketiga. Menurut catatan yang dibaca Fauzi di Museum Leiden, lokasinya seharusnya berada di sekitar Lingkungan Kampung Ujung, Kelurahan Kepatihan. Kemungkinan berada tak jauh dari pintu masuk Marina Pantai Boom. Tapi, dalam pencarianya, Ilham mengaku kesulitan. Selain sudah banyaknya perubahan bangunan di kawasan tersebut, tak ada yang tahu pasti bagaimana bentuk bangunan tersebut.

"Seharusnya lokasinya di dekat bekas Bank Bumi Daya, tapi sudah tidak ada,’’ kata bapak lima anak itu.

Ilham menuturkan, dari penjelasan literatur di Museum Leiden, tiga patok trianggulasi  dibuat sekitar tahun 1873. Fungsinya untuk pemetaan wilayah Banyuwangi. Bisa dibilang Belanda kala itu sudah memetakan bagaimana penataan wilayah di Kabupaten Banyuwangi untuk pemerintahan mereka ke depan.

Untuk wilayah di sebelah barat tonggak Paspan dan Banjarsari, diperuntukkan sebagai kawasan perkebunan. Sedangkan di timur tonggak sampai Kampung Ujung difungsikan sebagai wilayah permukiman dan perkotaan. Lampu yang dipasang di setiap tonggak  berfungsi sebagai penanda bagi pesawat terbang yang melintas. ”Agar tetap menyala, lampu di atas tonggak dinyalakan setiap malam oleh seorang juru kunci,’’ kata Ilham,

Dengan keberadaan tonggak tersebut, Ilham mengaku cukup kagum dengan bagaimana cara Belanda merinci penataan wilayah di Banyuwangi. Jika disesuaikan dengan kondisi saat itu, penataan wilayah tersebut sudah tidak lagi relevan. Apalagi banyak kawasan yang dulu ditata sebagai perkebunan, kini sudah beralih fungsi sebagai permukiman.

"Di Dusun Derek saja dulu katanya sepi sekali, hanya ada perkebunan. Tapi sekarang sudah ada 15 RT, memang kalau kita buat acuan sudah tidak relevan, tapi ini menarik secara sejarah. bagaimana Belanda begitu lengkap menata wilayah,” tuturnya.

Di luar trianggulasi itu, Banyuwangi juga dipisahkan dengan beberapa tonggak trianggulasi yang lebih luas. Tonggak tersebut berada di Paltuding, Baluran, dan Alas Purwo. “Kalau yang itu untuk menunjukkan batas kabupaten. Jadi lokasinya lebih luas,” tandasnya. (*)

(bw/fre/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia