Kamis, 28 May 2020
radarbanyuwangi
Home > Edukasi
icon featured
Edukasi
DINAS PENDIDIKAN BANYUWANGI

Belajar dari Rumah Butuh Kerja Sama Orang Tua

04 Mei 2020, 07: 40: 41 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

TINGKATKAN KUALITAS: Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno saat menyapa peserta webinar Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Sabtu (2/5) di Dinas Pendidikan

TINGKATKAN KUALITAS: Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno saat menyapa peserta webinar Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Sabtu (2/5) di Dinas Pendidikan

Share this          

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sangat concern dengan penanganan Covid-19 di Indonesia terutama di bidang pendidikan. Hal ini dikatakan oleh Direktur GTK Dikmen dan Diksus Ditjen GTK Dr Praptono, M.Ed dalam seminar online (webinar) dalam rangka Hari Pendidikan Nasional dengan tema belajar dari Covid 19.

Menurut Praptono, guru dan orang tua diharapkan dapat mewujudkan pendidikan yang bermakna di rumah, dan tidak hanya berfokus pada capaian akademik atau kognitif. Oleh sebab itu, Praptono berharap kepada dinas pendidikan agar membuat aturan lebih detail tentang metode pembelajaran di rumah selama masa pandemik Covid-19.

KOMPAK HADIR: Pejabat Dinas Pendidikan Banyuwangi turut menghadiri webinar bersama oleh Direktur GTK Dikmen dan Diksus Ditjen GTK Dr Praptono.

KOMPAK HADIR: Pejabat Dinas Pendidikan Banyuwangi turut menghadiri webinar bersama oleh Direktur GTK Dikmen dan Diksus Ditjen GTK Dr Praptono.

Menurutnya, perlu ada penekanan kembali dari kepala dinas pendidikan agar kalau belajar di rumah jangan hanya akademik dan fokus pada kemampun kognitif saja. Guru dan orang tua harus bersama-sama memberikan pendidikan yang bermakna, termasuk memahami pandemik Covid-19. "Harus disampaikan ke anak sehingga dia paham. Berikan pendidikan yang bermakna. Inilah kesempatan untuk meningkatkan pendidikan karakter anak," terang Praptono ke Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno bersama para peserta Webinar, pada Sabtu (2/5).

Praptono menjelaskan, terkait dampak Covid 19 sebagai guru, kepala sekolah dan pengambil kebijakan, maka dampak langsung dari covid 19 ini memengaruhi proses belajar mengajar kita. Dan inilah yang menjadi isu dampak pendidikan kita saat ini. Kalau melihat lebih jernih dampak pandemik dari sisi pendidikan ada tiga hal yang menjadi concern kita, yaitu pandemik ini memaksa kita untuk memiliki inovasi dan kreativitas dalam menjalankan profesinya, mau tidak mau pembelajaran online harus dilakukan.

“Saya masih ingat betul di minggu pertama pembelajaran online ini diberlakukan, sangat luar biasa kendala yang dihadapi para guru, namun kemudian guru sudah mulai bisa melakukan penyesuaian, keluhan anak yang mendapatkan tugas belajar yang berlebih sudah mulai bisa diantisipasi oleh para guru. Jadi pada intinya terletak pada inovasi, kreativitas dan kerjasama kita memberikan satu  spirit untuk bisa lebih baik lagi,” terang Praptono.

Kedua, pandemik ini jika mengharuskan anak-anak itu belajar dirumah ternyata membuka kesadaran para orang tua, mereka sadar bahwa menjadi guru itu susah, tanggung jawab begitu berat dalam upaya menempa karakter dari anak-anaknya. “Ini menandakan betapa pentingnya kerja sama, kepedulian orang tuanya terhadap pembelajaran anaknya  menjadi tumbuh dengan peristiwa pandemik ini,” urai Praptono.

Ketiga, ternyata keinginan kita untuk terus meningkatkan pendidikan adalah pilihan yang tepat. Minimal pendidikan kita butuh perubahan-perubahan mendasar. Dan apa perubahan mendasar itu? Praptono mencatat ada dua, yaitu peran dari seorang kepala sekolah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak mau lagi bahwa seorang kepala sekolah hanya mengurusi administrasi saja. Tapi sangat miskin dengan kemampuan pedagogik yang tidak mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan-persoalan pembelajaran yang dihadapi para guru sehingga mari kepala sekolah untuk memberikan perhatian yang sangat serius terhadap kemampuan kepala sekolah dalam hal kepemimpinan pembelajaran.

“Jadi jika ada seorang kepala sekolah mampu meng-SPJ kan dana BOS, itu belum apa-apa, tapi yang sangat dibutuhkan adalah kemampuan seorang kepala sekolah untuk bisa mengarahkan para guru untuk bisa melaksanakan pembelajaran yang sesuai akomodatif dan fleksibel dengan karakter dari anak peserta didik.

Perubahan mendasar kedua, adalah isu perubahan kurikulum. Jika para guru kita hebat dan mumpuni dengan kompetensinya, maka perubahan kurikulum seperti apapun tidak akan menyulitkan. Pembelajaran yang dilakukan dengan mendadak dari offline menjadi online tidak menjadi persoalan jika guru-guru kita ini adalah guru yang hebat. “Saya mengajak para guru, ayo terus tingkatkan kompetensi kita. Kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian dan sosial harus ditingkatkan. Bahkan mas menteri Nadiem berharap para guru memiliki kemampuan berpikir kritis dan memiliki semangat belajar, jangan puas dengan hasil capaian hari ini, terus berinovasi  dan berkreativitas agar anak-anak Indonesia menjadi lebih baik lagi,” terang Praptono.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno menjelaskan, webinar ini digelar dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Pesertanya melebihi 500 orang dari beragam profesi, termasuk dari Pusat Kegiatan Pembelajaran Masyarakat (PKBM). Mereka tidak hanya dari Banyuwangi, peserta dari provinsi lain pun turut mengikuti.

Suratno sepakat jika keberhasilan sebuah lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh peran kepemimpinan kepala sekolah. Karena kepala sekolah sebagai pemimpin di lembaganya, maka kepala sekolah harus mampu membawa lembaga ke arah tercapainya tujuan yang telah di tentukan. Kepala sekolah harus mampu melihat adanya perubahan terhadap regulasi pendidikan dan kehidupan globalisasi. Kepala sekolah tidakk hanya seorang manajer namun juga ujung tombak utama dalam mengelola pendidikan yang diharapkan mampu memegang tugas dan bertanggung jawab memegang peran aktif dalam memajukan lembaga pendidikan.

Sementara itu Kabid Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Nuriyatus Sholeha menambahkan, pem­belajaran online di PKBM sebe­nar­nya sudah bukan hal baru di Ba­nyuwangi. Bahkan tahun 2019, pada peluncuran program online PKBM Ba­nyuwangi, Pemkab Banyuwangi mendapatkan peng­hargaan MURI. Program ini bersi­nergi dengan aplikasi daring Kementerian Pendidikan. ”Ba­nyu­wangi sengaja meluncurkan pro­gram ini dengan melibatkan ribuan peserta agar program belajar jarak jauh ini semakin dikenal masya­rakat. Sesuai tagline-nya Dikmas, Belajar Kapan Saja, Belajar di Mana Saja Bisa,” pungkas Nuriyatus. (sgt/*/als)

(bw/sgt/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia