Jumat, 10 Apr 2020
radarbanyuwangi
Home > Kesehatan
icon featured
Kesehatan

Perawat Harus Pakai APD, Ruangan Disertai Filter Udara

Melihat Ruang Isolasi Covid-19 di RSUD

17 Maret 2020, 18: 28: 20 WIB | editor : Syaifuddin Mahmud

EMPAT RANJANG: Koordinator ruang isolasi RSUD Blambangan Inti Wibowo menunjukkan fasilitas di ruang penanganan Covid-19.

EMPAT RANJANG: Koordinator ruang isolasi RSUD Blambangan Inti Wibowo menunjukkan fasilitas di ruang penanganan Covid-19. (fredy /JP RaBa)

Share this          

BANYUWANGI - Pademi virus korona (Covid-19) terus mengalami perkembangan. Pemerintah pun telah menetapkan 100 rumah sakit rujukan untuk penanganan wabah virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok ini. Salah satunya yakni RSUD Blambangan.
Bangunan ruang isolasi untuk pasien Covid-19 diletakkan tepat di ujung utara kompleks bangunan RSUD Blambangan Dulunya, ruangan ini sebagai tempat isolasi saat virus flu burung mewabah tahun 2017 Inti Wibowo, 47, koordinator ruang isolasi mengajak Jawa Pos Radar Banyuwangi untuk melihat-lihat ruangan yang difungsikan menjadi jujukan bagi pasien korona itu. Begitu masuk ke dalam ruang isolasi, ada dua pintu yang menunggu. Satu pintu bertulisakan ruang perawatan dan yang satunya yakni pintu masuk ruang petugas. Pasien dengan pengawasan (PDP) korona, menurut Inti, akan dimasukkan ke dalam ruang perawatan. Mereka yang diperkenankan masuk benar-benar hanya pasien dan petugas saja. Itu pun harus petugas dengan APD (alat pelindung diri) yang lengkap. ”Setelah pasien masuk, pintu akan langsung ditutup. Tidak boleh ada yang keluar masuk dari sini. Petugas juga tidak boleh,” kata Inti. Di dalam ruangan, saat itu ada dua ranjang yang tersedia. Tetapi, rencananya dalam waktu dekat akan segera ditambahi dua ranjang lagi. Total ada empat ranjang nantinya. Di se belah ranjang, dua buah alat ventilator untuk membantu pernapasan pasien tampak ter pasang. Alat tersebut sangat dibutuhkan karena umumnya pasien dengan gejala virus korona akan kesulitan atau mengalami distresi pernapasan. Selain ventilator, alat pacu jantung juga disediakan tak jauh dari ranjang pasien. Di atasnya, sebuah air conditioner (AC)

terpasang untuk menstabilkan suhu ruangan. Lalu ada juga alat hepafilter yang berfungsi mengatur kebersihan sirkulasi udara di ruangan berukuran 6 x 10 meter itu. ”Udara yang masuk ke hepafilter disinari sinar UV (ultraviolet) untuk membunuh virus atau bakteri. Baru setelah itu dikeluarkan lagi,” terangnya. Di sudut ruangan, sebuah alat X-Ray mobile juga ikut disediakan. Alat ini digunakan untuk memotret paru-paru pasien dan peme riksaan laboratorium untuk memastikan apakah pasien memiliki infeksi paru (pneumonia) atau tidak. ”Kalau pasien positif pneumonia, mereka masih harus tetap diisolasi. Tapi kalau negatif, biasanya kita pindah ke ruangan perawatan biasa,” jelas bapak enam anak itu. Tepat di sebelah alat X-Ray, ada ruangan yang diperuntukan bagi dokter dan perawat. Di ruangan tersebut disediakan APD yang di gunakan oleh perawat dan dokter. Termasuk perlengkapan perawatan lainya seperti selang infus dan injeksi. Di ruang sebelahnya ada ruangan yang disediakan khusus untuk perawat memantau kegiatan pasien. Di ruangan tersebut terpampang jelas kondisi ruangan isolasi. Para perawat dan dokter bisa memantau pasien dari ruangan tersebut. Untuk berkomunikasi, perawat menggunakan pengeras suara yang terhubung langsung dengan ruangan isolasi. Hal yang sama juga disediakan di ruang isolasi. Sehingga komunikasi ant ar

pasien dan perawat tidak perlu dilakukan secara langsung tatap muka. ”Ya kita bicara dari sini, terdengar kan (sambil menjajal suara mik). Nah sebaliknya juga begitu, ini untuk meminimalkan kontak dengan pasien” katanya. Sebelum keluar dari ruang isolasi, Inti mengajak ke salah satu ruangan lagi. Di sana, APD yang sudah digunakan dilepas dan dimasukkan ke sebuah tempat khusus. Nantinya APD tersebut  akan dimusnahkan dan dibuang sebagai limbah medis. Kemudian dokter dan perawat harus terlebih dahulu mandi di kamar mandi khusus sebelum diperbolehkan keluar dari ruangan. ”APD dipakai sekali, setelah itu langsung dibuang. Kecuali google, sepatu, dan helm,” terangnya. Selama ruangan tersebut difungsikan, RSUD Blambangan sudah pernah merawat tiga orang warga. Namun ketiganya dinyatakan terdeteksi menderita bronkitis dan tifoid. ”Selama ini belum ada yang positif korona. Memang kita tidak bisa memastikan langsung, tetapi kita cek dari gejala yang mengikuti. Seperti pneumonia,” kata pria asal Desa Dadapan, Kabat itu. Meski ruangan isolasi hanya memiliki empat ranjang, sudah ada skenario yang dipersiapkan jika sewaktu-waktu terjadi persebaran virus korona dalam jumlah besar. Salah satunya dengan memanfaatkan ruang Intensif Cardiologi Care Unit (ICCU) yang ada dengan kapasitas 16 tempat tidur.

(bw/fre/aif/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia