Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom

Peran Stakeholder dalam Membangun Karakter Siswa

Oleh: SAIFUL ANWAR*

22 November 2019, 20: 23: 16 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Peran Stakeholder dalam Membangun Karakter Siswa

Share this          

PENDIDIKAN karakter merupakan suatu hal penting di dalam dunia pendidikan untuk membentuk karakter anak. Pendidikan karakter menurut Linkona (Samani, 2012: 44) adalah sebagai upaya yang dirancang secara sengaja untuk memperbaiki karakter para siswa.

Pendidikan karakter adalah bentuk kegiatan seseorang untuk memberikan pendidikan pada generasi berikutnya. Arahnya mencetak generasi yang baik, santun, dan bermoral. Jika ditinjau dari kurikulum Indonesia, sistem pembelajaran kita tidak hanya terfokus pada kemampuan berpikir dan memiliki ilmu pengetahuan mumpuni dalam berbagai bidang, tetapi penerus bangsa juga harus mempunyai sikap yang baik.

Beberapa hari yang lalu, saat saya dalam perjalanan ke Jember dengan angkutan umum, saya melihat bapak paro baya sedang berbicara dengan temannya yang duduk di sebelahnya. Pelan-pelan saya mencoba mendengarkan obrolan mereka. Ternyata obrolan mereka tidak lain adalah tentang perilaku anak-anak pada zaman ini.

Saya merasa penasaran kenapa orang tersebut kelihatan sangat serius dengan pembahasan ini. Mereka saling adu pendapat dan membenarkan keadaan siswa kurang memiliki adab terhadap guru, orang tua, dan juga teman sebayanya. Saya masih diam tanpa sepatah kata untuk menanggapi obrolan mereka.

Saya merasa sedih karena semakin bertambah tahun dan perkembangan teknologi semakin pesat, perilaku anak-anak tambah kurang terkontrol. Dengan kata lain, anak-anak pada masa ini memerlukan perhatian lebih dari pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Juga, kasus di Sampang, Madura, beberapa tahun lalu. Kita tentu masih ingat dan juga peristiwa tersebut masih melekat pada memori kita. Peristiwa yang melibatkan peserta didik dan guru. Secara kronologis, guru seni ini menegur siswanya karena tidak mau memperhatikan pelajaran dan berulang kali diperingatkan tidak juga memperhatikan pelajaran dan malah mengganggu temannya.

Sebagai seorang guru, wajar saja menegur dan memberi hukuman kepada siswanya. Namun, respons siswa tersebut memberi kesan kurang sopan dengan memukuli gurunya. Dari sini dapat disimpulkan siswa ini sangat kurang sopan dan kurang mengerti adab terhadap guru. Saya merasa sedih dan sangat pilu ketika mengingat kembali pada kejadian ini.

Lalu, siapa yang bertanggung jawab? Siapa yang memiliki peran untuk memberikan pemahaman tentang adab dan kesopanan? Stakeholder. Apa dan siapa itu stakeholder?

Kata ini berasal dari dua kata bahasa Inggris ”stake” dan ”holder”. Stake artinya to give support to (memberikan dukungan) dan holder artinya pemegang. Kemudian penggabungan dari dua kata tersebut berarti stakeholder adalah siapa pun yang memiliki kepentingan dari sebuah usaha.

Menurut Hatry, stakeholder adalah salah satu kategori masyarakat sekolah, yang merupakan unsur-unsur sekolah yang jika salah satu unsur tersebut tidak ada, maka proses persekolahan tersebut menjadi terganggu.

Para stakeholder tersebut yakni:

Pertama, orang tua. Orang tua sangat memiliki peran dan tanggung jawab. Mereka lebih mengenal anak-anaknya. Mereka yang selalu bersama anak-anaknya. Lebih dari 12 jam adalah waktu anak-anak di rumah.

Kedua, guru, kepala sekolah, dan komite sekolah. Guru adalah orang tua kedua setelah ayah ibu mereka. Guru juga mempunyai peran penting dalam tumbuh kembang anak dari faktor keilmuan dan sikap. Contoh konkret dari implementasi pengajaran di sekolah, guru mengajar berbagai bidang ilmu pengetahuan dan sikap (ahlaq). Karena itu, guru tidak segan untuk memberikan hukuman sebagai pembelajaran agar tidak mengulang perbuatan yang dianggap keliru dengan pembuatan tata tertib. Kepala sekolah dan komite berperan dalam mendidik peserta didik.

Ketiga, pemerintah daerah ataupun pusat. Mereka memiliki andil dalam membawa masa depan peserta didik menjadi lebih baik. Misalnya, pemerintah membuat dan mengatur perundang-undangan.

Keempat, faktor lingkungan. Lingkungan berperan sebagai tempat anak-anak berinteraksi, lingkungan masyarakat atau pun lingkungan sekolah. Anak akan kelihatan baik jika berada di tempat yang baik dan sebaliknya kelihatan buruk bila berada di lingkungan tidak baik. Bukan karena berperilaku tidak baik, karena seperti kita mencoba mengasumsi barang di dalam tas setelah melihat merek atau tipe tas tersebut.

Secara bertahap pemangku kepentingan diharapkan dapat membangun karakter peserta didik sejak dini. Apa kira-kira yang menjadi prioritas untuk dapat ditanamkan?  Sebagaimana sila pertama pada Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Di sini kita memaknai, bahwa setiap orang harus mempercayai adanya Tuhan. Mengimani agama yang dipeluknya, taat terhadap perintah agamanya, dan mencintai semua pemeluk agama lain. Kemudian, dalam setiap tindakan orang harus dapat bertanggung jawab atas apa yang dilakukan ”berintegritas”.

Setiap perkataan, perbuatan, dan pekerjaan haruslah positif sehingga tidak ada lagi kasus-kasus perundungan (bullying) di sekolah-sekolah. Juga menjadi pribadi mandiri sangat penting diajarkan pada peserta didik. Mandiri dalam segala hal: percaya terhadap kemampuan dirinya dan tidak bergantung pada orang lain baik dari segi tenaga dan pikiran.

”Aku Indonesia Aku Pancasila” kata ini sering kita dengar dari siaran televisi atau pun secara langsung. Iya, berjiwa nasionalis itu menunjukkan bahwa kita punya rasa memiliki terhadap negara di mana kita tinggal. Membantu keluarga, saudara, atau teman itu adalah sifat terpuji. Setiap orang bisa bersikap seperti ini. Tidak membeda-bedakan siapa yang kita tolong karena kita hidup berdampingan dan harus ”bergotong royong”. 

Singkat cerita, angkutan umum kita ini tiba di Terminal Tawangalun, penumpang yang akan mengakhiri perjalanannya di terminal ini turun satu per satu termasuk saya dan bapak itu. Sebelum turun beliau berkata ”biarpun ilmu-mu setinggi langit, bila tidak mempunyai adab kau akan kurang berharga di mata orang lain”. Kata ini sering kita dengar, namun dalam penerapannya perlu kematangan dan kedewasaan dalam bertindak dan berpikir positif.(*)

*) Dosen FKIP Bahasa Inggris Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia