Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi
PPWK Roadshow Kebangsaaan di Kampus Untag

Ajak Mahasiswa Lawan Paham Radikal

21 November 2019, 21: 10: 23 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

LESEHAN: Ratusan mahasiswa Untag dari berbagai jurusan mengikuti diskusi kebangsaan yang berlangsung di ruang F4 kampus setempat, kemarin.

LESEHAN: Ratusan mahasiswa Untag dari berbagai jurusan mengikuti diskusi kebangsaan yang berlangsung di ruang F4 kampus setempat, kemarin. (DEDY JUMHARDIYANTO/JAWAPOS.COM)

Share this          

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Generasi muda perlu dibekali pentingnya pemahaman wawasan kebangsaan agar tidak tergerus oleh paham radikal. Yang lebih penting lagi adalah implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.  

Untuk membentengi mahasiswa dari gempuran paham radikal, kemarin tim Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) melakukan roadshow di kampus Untag 1945 Banyuwangi. Narasumber yang dihadirkan adalah Palaksa Lanal Banyuwangi Mayor Laut (P) Budi Sulistio dan dari DHC 45 Towil Firdaus.    

Roadshow yang mengusung tema ”Revitalisasi dan Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila” itu dibuka oleh Sekretaris Bakesbangpol Nyoman Widiratyasa. Peserta yang hadir ada 140 orang dari unsur BEM dan mahasiswa baru. Acara dimoderatori Julies Puji Setyo Rahayu (Partai Demokrat), pembawa acara Slamet Utomo dari PDIP, dan doa dibacakan Faisol Azis dari PKS.

Rektor Untag yang diwakili Sahru Romadhoni  diberi kesempatan pertama untuk memberikan sambutan. Dia menyampaikan bahwa wawasan kebangsaan (wasbang) di kampus Untag sudah terintegrasi dalam mata kuliah wasbang. ”Roadshow ini sebagai pengayaan sekaligus evaluasi bagi mahasiswa. Sejauh mana mereka bisa memahami wasbang seperti yang telah diajarkan. Wasbang adalah kristalisasi dari nasionalisme yang lahir dari pemikiran kalangan intelektual,” jelas pria yang akrab disapa Doni ini.

Sekretaris Bakesbangpol Nyoman Widiratyasa  menyoroti hubungan pemahaman wawasan kebangsaan dengan pesatnya perkembangan  teknologi informasi sekarang ini. Menurut Nyoman, generasi muda lebih senang dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain gadget untuk ”bermedsos ria”.

Mereka lupa bagaimana bersosialisasi dalam masyarakat. Mereka tak acuh dengan lingkungan sekitar, tidak respek, dan cenderung individualistis. Kesemuanya itu adalah perilaku yang berlawanan dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Banyak anak-anak muda yang tidak hafal lagi dengan sila-sila Pancasila.

Mereka tidak mengenal lagu kebangsaan.  Sebaliknya, mereka sangat hafal dengan nama-nama artis Korea dan lagu-lagu barat. ”Menurut hasil survei, 61 persen generasi muda sudah tak peduli dengan kondisi negaranya. Ini sangat memprihatinkan,” beber Nyoman.

Mayor Laut (P) Budi Sulistiyo lebih menekankan poin penting wawasan kebangsaan, yaitu cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, Pancasila, rela berkorban, dan memiliki kemampuan bela negara. ”Pemuda itu memiliki peran sebagai generasi penerus, pengganti, dan pembaharu. Dengan bekal wawasan kebangsaan, pemuda memiliki jati diri sebagai pribadi yang gaul, mencintai rasul, dan unggul di semua bidang,” kata Budi Sulistiyo.

Narasumber lain, Towil Firdaus, menekankan  pentingnya Pancasila tidak hanya menjadi moral individu, tetapi harus menjadi moral negara. Pancasila sebagai dasar negara benar-benar diimplentasikan dalam kehidupan sehari-hari. ”Sehingga tidak ada istilah menjadi budak di negara sendiri, tapi keadilan terwujud sebagai pengejawantahan dari Pancasila,” tegas Towil. (*)

(bw/ddy/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia