Minggu, 17 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom

Hari Santri; Pancasila Jaya, NKRI Harga Mati

Oleh: Nurtaufik

06 November 2019, 16: 57: 02 WIB | editor : Ali Sodiqin

Hari Santri; Pancasila Jaya, NKRI Harga Mati

Share this          

SEBAGAI bentuk merawat peninggalan bersejarah khususnya hubungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, atau Pesantren Sukorejo dengan Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara. Pengasuh pesantren yaitu K.H.R Ahmad Azaim Ibrahimy pernah menggagas dan menggerakkan para santri membuat lukisan kaligrafi Pancasila. Di samping kiri tertulis naskah Deklarasi Hubungan Pancasila dengan Islam. Sementara di samping kanan tertulis dalil Alquran sebagai penguat kelima sila tersebut.

Lukisan tersebut ditulis dengan menggunakan huruf Arab pegon khas pesantren dan  memiliki ukuran 27 meter dan tinggi 9 meter.  Angka itu memiliki filosofis yaitu angka 27 adalah bermakna Muktamar NU ke 27 yang pernah dilaksanakan di Pesantren Sukorejo pada masa Kiai As’ad. Sementara angka 9 adalah jumlah dari wali Songo sebagai penyebar Islam di Tanah Jawa.

Hingga kini, nama-nama Wali Songo digunakan sebagai nama asrama putra di Pesantren yang didirikan pada tahun 1914 itu.  Lukisan tersebut hingga kini masih dipasang ketika menyambut hari-hari besar atau momentum tertentu.

Apa yang diupayakan Kiai Azaim menulis kaligrafi Pancasila, akhirnya tercatat dalam Rekor Muri Dunia. Penghargaan itu diberikan langsung pihak Muri kepada Kiai Azaim bersamaan dengan peringatan Hari Santri Nasional tahun lalu. Kepada para santri maupun alumni yang tersebar di Indonesia, Kiai Azaim senantiasa mengingatkan bagaimana santri menjadi pemersatu umat bukan memecah belah sambil saling menghujat. Ini di antara poin penting dari Pancasila yang harus dipertahankan bagi siapa pun yang mengaku bangga sebagai santri

Ketika Pesantren Sukorejo di bawah kepengasuhan K.H.R As’ad pernah menjadi tuan rumah Munas Alim Ulama PBNU tahun 1983. Keputusan fenomenal kegiatan itu yaitu Deklarasi Hubungan Islam dan Pancasila. Kiai As’ad  begitu antusias memusyawahkan Pancasila sebagai satu-satunya asal tunggal dan menjadi ideologi final dalam berbangsa dan bernegara. Ia tidak mundur meski beberapa orang mengancamnya.

Kiai As’ad turun langsung mencari dana ke masyarakat seperti ke pasar-pasar untuk menyukseskan acara. Padahal seandainya mau, Kiai As’ad bisa mengajukan anggaran dengan menggunakan kas negara. Tapi hal itu tidak dilakukan olehnya. Kiai As’ad ingin mendidik kepedulian masyarakat terhadap eksistensi Pancasila.

Pembelaan Kiai As’ad terhadap ideologi Pancasila juga dilakukan sewaktu menghadapi pemberontakan yang mengancam keutuhan dan keselamatan bangsa seperti yang dilakukan PKI dalam gerakan 30 September atau dikenal dengan G30SPKI, Kiai As’ad langsung pasang badan dan menyerukan untuk memberantas sampai ke akar-akarnya.

Tulisan Deklarasi hubungan Islam dengan Pancasila tersebut masih terpampang di asrama-asrama santri yang berada di Pesantren Sukorejo. Diterimanya Pancasila sebagai asas tunggal dari hasil musyawarah saat itu adalah penegasan bahwa Indonesia adalah negara Pancasila bukan negara Islam walaupun mayoritas penduduknya beragama Islam.

Menurut saksi sejarah yaitu panitia lokal Munas, Habib Mahdi Hasan dari Banyuwangi dalam sebuah ceramahnya di Pesantren Sukorejo menyampaikan, bahwa pembahasan Pancasila tergolong alot sehingga para ulama harus berbahasa Arab agar tidak mudah dilacak wartawan. Dan peserta yang masuk ke ruangan diseleksi secara ketat.

Pada tahun 1984 satu tahun setelah Munas,  sejarah kembali terulang di Pesantren Sukorejo yaitu Muktamar NU ke 27. Muktamar itu  berhasil merumuskan Naskah Khittah yang terdiri dari 9 poin. Termasuk penguatan peran NU dalam menjaga dan merawat Pancasila. Berkaitan dengan Pancasila ditegaskan sebagai berikut:

“Keberadaan Nahdlatul Ulama yang senantiasa menyatukan diri dengan perjuangan bangsa, menempatkan Nahdlatul Ulama dan segenap warganya selalu aktif mengambil bagian dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat adil dan makmur yang diridlai Allah SWT. Oleh karenanya, setiap warga Nahdlatul Ulama harus menjadi warga Negara yang senantiasa menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945”.

Dari penegasan itu, sudah nyata bahwa NU secara kelembagaan merupakan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang eksis mengawal dan menjaga Pancasila. Implementasi dari semua itu, Diantaranya NU menolak segala bentuk radikalisme agama yang terus mengampanyekan khilafah dan ateisme yang memilih tidak memiliki Tuhan. Hal itu jelas bertentangan dengan Pancasila sebagai falsafah negara.

Dalam sebuah ungkapannya, Kiai As’ad menyampaikan bahwa Pancasila sebagai dan falsafah negara Indonesia harus ditaati, diamalkan, harus tetap dijaga kelestariannya.

Keberadaan Pancasila, adalah jembatan yang mempertemukan kemajemukan di Indonesia. Maka kalau warga Indonesia mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, Persatuan dan kesatuan yang menjadi kunci perdamaian akan terwujud nyata. Maka tidak heran kalau Pesantren Sukorejo siapa pun yang menjadi pengasuhnya maka membela Pancasila dan NKRI wajib hukumnya.

Selamat Hari Santri, Pancasila Jaya, NKRI Harga Mati. (*)

*) Penghidmat di Sanggar Seni Cermin PP Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia