Minggu, 17 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Info Rumah Sakit
RSUD Blambangan

Terapkan Metode EMPLOK untuk Bayi Berbobot Rendah

06 November 2019, 07: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

MENIRU KANGURU: Pasien didampingi perawat ruang saat melakukan metode EMPLOK di ruang Perinatologi RSUD Blambangan Banyuwangi.

MENIRU KANGURU: Pasien didampingi perawat ruang saat melakukan metode EMPLOK di ruang Perinatologi RSUD Blambangan Banyuwangi. (Foto: Novita For RaBa)

Share this          

JawaPos.com – Ruang Perinatologi atau yang lebih akrab disebut sebagai ruang bayi, merupakan salah satu ruang rawat inap yang dimiliki RSUD Blambangan. Ruangan ini merupakan ruang rawat inap bagi bayi yang membutuhkan perawatan khusus untuk usia 0–28 hari.

Ruangan Perinatologi memberikan berbagai macam pelayanan terhadap bayi dengan risiko tinggi. Misalnya seperti RDS (hyaline membrane disease), bayi premature, BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah), kelainan congenital, Asfiksia Neonatorum, Icterus Neonatorum, GE, Broncho Pneumonia, HDN (anemia), dan Sepsis.

Diawali dari lomba inovasi RSUD Blambangan pada Agustus 2019 lalu, seluruh ruangan dan instalasi mulai membuat inovasi. Mereka melakukan terobosan yang sekiranya dapat mengatasi permasalahan-permasalahan di ruangan masing-masing.

Tidak ketinggalan, Ruang Perawatan Bayi (Perinatologi) RSUD Blambangan. Seperti diketahui, bayi baru lahir sangat rentan mengalami masalah. Bayi membutuhkan perawatan yang khusus, terutama bagi bayi dengan berat lahir rendah. Hal ini jadi permasalahan yang memiliki risiko yang cukup besar.

Ruang Perinatologi membuat inovasi untuk mengantisipasi permasalahan berat bayi lahir rendah (BBLR). Inovasi itu diberi nama EMPLOK (Energi Manusia Positif meLalui metOde Kanguru). Inovasi ini didorong oleh permasalahan yang sering kali dialami bayi dengan BBLR. Seperti misalnya masalah pada sistem tubuh (kesulitan dalam bernapas, mengisap, rentan terhadap infeksi), hipotermia, dan bahkan kematian.

BBLR biasanya memerlukan jumlah hari rawat yang lama. Umumnya hal ini terjadi akibat ketidakdisiplinan keluarga pasien BBLR setelah pulang.

Inovasi EMPLOK terbentuk pada tanggal 23 Juli 2019, bersamaan dengan Hari Anak Nasional. Inovasi ini sengaja dibuat dengan harapan dapat memperpendek hari rawat inap dan menurunkan angka kematian bayi di Ruang Perinatologi.

Inovasi EMPLOK dilakukan dengan melakukan kontak langsung antara kulit ibu dan bayi, utamanya bagi BBLR. Metode yang digunakan diadaptasi dari perilaku kanguru yang menyimpan bayinya dalam kantong. Tujuannya untuk menjaga suhu tubuh anaknya.

Begitu pula metode yang digunakan untuk bayi prematur atau BBLR dalam inovasi ini. Ibu menggendong bayi dengan menggunakan kain yang menyerupai kantong dan diletakkan langsung berhubungan dengan kulit ibu. Setelah dilaksanakan dan disosialisasikan pada orang tua bayi, metode ini terbukti efektif untuk mengontrol suhu bayi, meningkatkan pemberian ASI, serta mengurangi terjadinya infeksi. Metode ini juga bisa membangun ikatan ibu dengan bayi.

Metode EMPLOK dinilai merupakan metode yang tepat guna dan cara yang tepat untuk memenuhi kebutuhan dasar BBLR yang murah dan aman. Selain itu, metode ini mudah dilakukan selama bayi masih dirawat di rumah sakit maupun di rumah.

(bw/rbs/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia