Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Man Nahnu

Prajurit Blambangan

Oleh: Samsudin Adlawi

02 November 2019, 17: 21: 17 WIB | editor : Ali Sodiqin

Prajurit Blambangan

Share this          

SAYA sempatkan mampir ke Borobudur. Akhir pekan kemarin (26/10). Mumpung di Jogjakarta. Toh, jaraknya tidak begitu jauh. Hanya butuh waktu 1,5 jam. Dari Jogja ke Borobudur di Magelang.

Kunjungan itu harus saya lakukan. Dengan dua tujuan sekaligus. Pertama, saya ingin melihat perkembangan candi warisan budaya dunia itu. Ternyata, Borobudur berkembang pesat. Dibanding puluhan tahun lalu. Saat saya berkunjung. Bersama teman-teman kuliah. Dalam acara rihlah saidah. Study tour. 

Borobudur kini lebih tertata. Akses jalan menuju candi. Penunjuk arah keluar dan masuk. Sentra kulinernya. Pusat oleh-olehnya. Keduanya diletakkan di mulut pintu keluar. Semua wisatawan yang akan keluar harus lewat situ. Untuk belanja. Suvenir dan semacamnya. Semua jualan ditata sangat bersahaja. Khas Jawa Tengahan. Jauh dari kesan modern. Justru itu yang menarik. Manajemen destinasi wisata Borobudur boleh canggih. Tapi, penampilan etnik Magelangan harus dirawat. Ternyata wisatawan asing malah menikmatinya.

Lumayan lama saya di Borobudur. Setiap sudut saya perhatikan. Lalu saya rekam dalam server tubuh saya: otak. Mulai akses jalan. Masuk dan keluar ke/dari Borobudur. Penataan area parkir. Penjual topi. Penjaja jasa sewa payung. Sewa kursi roda. Dll.

Mereka seperti tawon. Langsung menyerbu wisatawan. Begitu keluar dari kendaraan wisatawan langsung mereka serbu. Menawarkan semua yang dibawanya. Dengan bahasa rayuan. Dan, gombalan dikit. ‘’Biar tidak kepanasan,’’ Pak. ‘’Jalannya jauh,’’ Bu. Sepintas berondongan bahasa ‘’kecap’’ itu masuk akal. Sebab, saat berada di area parkir candinya memang tidak kelihatan. Tertutup pepohonan. Yang tinggi dan rindang.

Begitu berjalan selemparan tombak, tepatnya setelah melewati gerbang masuk, barulah kelihatan Borobudurnya. Dengan akses jalan yang sudah mulus. Sangat memanjakan bagi penyuka tracking. Apalagi di pinggir jalan banyak pohon besar. Bisa untuk berlindung dari panas. Dan menghirup oksigen sejenak. Sepanjang jalan itu sekaligus menjadi spot foto menawan. Dengan latar belakang candi Borobudur.

Pokoknya semua saya catat. Termasuk lingkungan di sekitar Borobudur. Untuk bekal. Sebagai pembanding. Saat saya ke Borobudur lagi. Kelak. Sekaligus menjadi jawaban. Tujuan kedua saya datang ke Borobudur kemarin.

Semua tahu. Borobudur masuk dalam lima destinasi super prioritas. Yang ditetapkan Presiden Jokowi. Empatnya lainnya Danau Toba, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang. Pemerintah siapkan dana Rp 6,5 triliun. Borobudur sendiri mendapat Rp 2,1 triliun! Untuk pembangunan infrastruktur dan lainnya. Harus selesai 2020. Lalu dipromosikan secara masif.

Ketika 2021 atau maksimal akhir 2020 saya ke Borobudur akan saya cek. Saya buka catatan di otak saya. Lalu saya bandingkan dengan kondisi terkininya. Seberapa besar perbedaannya. Khususnya, seberapa ramai wisatawannya. Setelah Borobudur digerojok Rp 2,1 triliun. Akankah sama saja dengan sekarang. Atau ada peningkatan signifikan.

Satu hal yang tetap ingin saya lihat –setelah Borobudur dibenahi kelak. Penampilannya yang sederhana. Salah satunya tradisi. Kebetulan saat berada di Borobudur kemarin ada ritual adat Saparan. Mulanya terdengar bunyi tetabuhan. Khas musik pengiring pasukan keraton. Benar. Dari salah satu sudut munculan rombongan besar. Di barisan depan sekitar seratus orang. Berpakain prajurit. Lengkap dengan tombak dan keris di pinggang. Pasukan wanitanya membawa panah.

Mereka berjalan beringingan. Dengan langkah teratur. Mengiringi ketukan perangkat musik yang dibunyikan pasukan paling belakang. Tidak tampak raja atau ratu dalam pasukan itu. Yang tampak adalah tokoh adat (berblangkon dan bersongkok) serta polisi berpangkat AKP. Di barisan depan.

Rupanya mereka sedang mengawal sesuguhan. Tumpeng nasi kuning dan ubo rampe-nya. Jumlah tumpengnya ada beberapa. Di letakkan di bawah pohon besar. Mereka berkeliling di sekitar kaki candi Borobudur.

Kontan aksi mereka diburu wisatawan. Domestik maupun mancanegara. Mereka langsung mengabadikan momen langka itu. menjepret maupun merekamnya. Dengan latar belakang candi Borobudur yang megah. Ada juga yang selfie dan wefie bersama prajurit. Yang diajak foto mau-mau saja. Menyilakan para tamu dengan ramah.

Atraksi itu menggoda inspirasi saya. Di Banyuwangi banyak sekali ritual adat. Juga event-event budaya. Andai setiap acara ritual dan event budaya di Kota Gandrung dilengkapi dengan pasukan prajurit Blambangan. Wow, pasti akan menambah daya pikat. Setidaknya menghilangkan monotisasi. Semua tahu, terutama yang sudah beberapa kali melihat, atraksi ritual dan event budaya kota The Sunrise of Java,  nyaris tidak menyuguhkan hal baru. Monoton.

Tentu saja, tidak semua bisa ditambah dengan atraksi prajurit Blambangan. Fokus ke yang bisa saja. Apa saja itu. Tugas dinas pariwisata dan budaya untuk mencarinya. Lakukan riset kecil-kecilan. Bersama DKB (Dewan Kesenian Blambangan) dan stake holder lainnya. Riset juga model pakaian prajurit Blambangan. Contohnya sudah ada. Tinggal masuk ke rumah Mbah Google. Ketik pakaian prajurit Blambangan. Ada satu foto yang sangat menarik: prajurit dengan bawahan jarit lembaran lurik dan baju dan topi khas prajurit. Dengan menyandang tombak di belakang.

Wa ba’du. Saya membayangkan pada Festival Kuwung nanti prajurit Blambangan berjalan di barisan paling depan. Jumlahnya jangan banyak-banyak. Cukup seratus. Wow, pasti keren. Akan memberi warna beda pada pergelaran Festival Kuwung tahun ini. Masih ada waktu untuk menyiapkannya. Tapi, siapa.... (Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia