Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi

Dosen Politeknik Negeri Banyuwangi Gelar PKM di Desa Lemahbangdewo

31 Oktober 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Warga meratakan tanah di halaman Musala Darussalam, Desa Lemahbangkulo, Rogojampi.

Warga meratakan tanah di halaman Musala Darussalam, Desa Lemahbangkulo, Rogojampi. (Poliwangi For RaBa)

Share this          

JawaPos.com - Kontur tanah yang tidak rata, munculnya genangan air setiap turun hujan, tumbuh suburnya tanaman liar, dan sulitnya tanaman peneduh tumbuh, menjadi sekelumit permasalahan yang sering muncul di halaman Musala Darussalam, Dusun Satriyan, Desa Lemahbangdewo, Kecamatan Rogojampi. Permasalahan itu terus muncul lantaran tidak diatasi secara maksimal. Faktornya yaitu keterbatasan pengetahuan, kurangnya komunikasi antarwarga, serta dana yang terbatas.

Secara konsisten, warga sekitar berencana untuk melaksanakan kerja bakti setiap bulan dan melaksanakan kegiatan keagamaan. Berdasar permasalahan tersebut, diperlukan upaya untuk mengoptimalisasi halaman Musala Darussalam.

 Optimalisasi dilakukan sejak tahap perencanaan (penyusunan master plan) hingga tahap pelaksanaan. Hal tersebut dilakukan dalam rangkaian kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dosen Politeknik Negeri Banyuwangi.

Kegiatan PKM dipimpin Mirza Ghulam Rifqi ST MST sebagai ketua tim, yang beranggotakan Herman Yuliandoko ST MT dan M. Shofi’ul Amin ST MT. Manfaat yang diperoleh dari kegiatan PKM adalah memberikan edukasi kepada Takmir Musala Darussalam dan warga Dusun Satriyan, Desa Lemahbangdewo dalam hal mengoptimalkan RTH (Ruang Terbuka Hijau) Musala Darussalam; terbentuknya RTNH (Ruang Terbuka Non-Hijau) namun memiliki fungsi sebagai RTH yang rapi, bersih, dan nyaman; serta meningkatkan kenyamanan warga dalam melaksanakan kegiatan keagamaan dan aktivitas lainnya di halaman Musala Darussalam.

Dalam desain RTNH, perkerasan yang akan diaplikasikan menggunakan material paving. Pada beberapa titik, terutama pada lokasi yang sering tergenang air hujan dan lokasi penanaman tanaman peneduh, akan dilengkapi dengan paving berpori yang dikombinasikan dengan biopori.

Inovasi dosen Poliwangi dalam hal memberikan kontribusi terhadap lingkungan. Aplikasi paving berpori dan biopori bertujuan untuk meningkatkan resapan air tanah dan mengurangi limpasan air hujan ke saluran eksisting. ”Air yang ada di permukaan paving akan diteruskan ke dalam tanah secara cepat. Penggunaan paving berpori dan biopori merupakan upaya untuk menanam air hujan ke dalam tanah,” kata Mirza Ghulam Rifqi ST MST.

Sebelum melaksanakan pemasangan paving dan area resapan, lokasi kegiatan dibersihkan dari tanaman-tanaman liar dan kontur tanah diratakan. Kegiatan pembersihan lokasi dilakukan bersama-sama dengan takmir musala dan warga.

Setelah persiapan lokasi sudah selesai, selanjutnya adalah melakukan pengadaan material perkerasan. Pengadaan tersebut meliputi pengadaan pasir uruk dan paving sebagai material perkerasan. Material yang sudah siap, selanjutnya diaplikasikan pada halaman musala. Proses pelaksanaan aplikasi paving diawasi dan dimonitor untuk memastikan kesesuaian pelaksanaan dengan gambar rencana.

Pelaksanaan pekerjaan taman sebagai area resapan dilaksanakan setelah pekerjaan paving dan persiapan media tanam telah selesai dilaksanakan. Komposisi tanaman yang ditanam sedikit mengalami perubahan dibandingkan dengan gambar rencana.

Perubahan tersebut tidak mengganggu fungsi dan konsep green area pada RTNH. Tanaman nolina yang awalnya akan ditanam sebagai tanaman vertikal dan pembatas, diganti dengan tanaman hias kana merah.

(bw/*/ics/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia