Selasa, 25 Feb 2020
radarbanyuwangi
icon featured
Events
Teens Choir Competition

Jurus Maut Tim Smanta Menjuarai Kompetisi Paduan Suara Piala Kapolres

31 Oktober 2019, 09: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

JUARA UMUM: Tim paduan suara SMAN 1 Banyuwangi tampil luar biasa dalam final TCC di Hotel Ketapang Indah, Senin malam kemarin (28/10).

JUARA UMUM: Tim paduan suara SMAN 1 Banyuwangi tampil luar biasa dalam final TCC di Hotel Ketapang Indah, Senin malam kemarin (28/10). (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Share this          

JawaPos.com - Tim Pramadhitaswara SMAN 1 Banyuwangi (Smanta) dinobatkan sebagai juara I Teens Choir Competition (TCC) Kapolres Cup. Selain menyabet juara umum, Smanta juga berhasil menggondol predikat dirigen terbaik dan koreografi terbaik.

FREDY RIZKI, Kalipuro

Pekik perempuan dari deretan belakang hall Hotel Ketapang Indah, seketika membuat hadirin menoleh ke arah datangnya suara. Tampak beberapa siswi berpelukan, masih sambil menjerit-jerit. Ada yang melonjak-lonjak. Bahkan ada yang sampai terperenyak ke lantai. Begitulah ekspresi personel choir Smanta setelah juri menyebut nomor mereka sebagai kampiun laga TCC, Senin malam kemarin (28/10).   

Tim asal Smanta berhasil mengumpulkan total nilai 1.487. Lebih unggul dibandingkan tim asal SMAN 1 Rogojampi di posisi kedua dengan raihan skor 1.466 dan tim SMAN 1 Genteng di urutan ketiga dengan skor 1.409.

Selain menyabet gelas juara I, pengaba tim Pramadhitaswara –nama grup paduan suara Smanta– Titan Leeavi juga meraih titel dirigen terbaik. Selain itu, tim ini juga didapuk sebagai pemilik kreasi koreografi terbaik. Berkat raihan itu, tim asal Smanta pun dinobatkan sebagai juara umum TCC 2019.

Tak pelak, tim choir Smanta girang bukan main setelah dinyatakan sebagai pemenang. Mereka berlarian mencari temannya yang ada di luar hall. Siswa-siswi yang mengenakan pakaian adat Papua itu terlihat sangat gembira ketika nama sekolahnya disebut sebagai juara.

Begitu dipanggil untuk masuk menerima penghargaan, mereka langsung masuk ke dalam ruangan hall. ”Senang sekali rasanya bisa menang, pejuangan keras teman-teman tidak sia-sia,” ujar Ayub Priyo Gumilang, salah seorang tim TCC Smanta.

Selama sebulan terakhir, timnya berjuang keras untuk berlatih. Apalagi untuk tim yang turun di kompetisi ini adalah kombinasi dari siswa kelas 10 hingga kelas 12. Semuanya harus benar-benar bekerja sama untuk bisa memadukan suara. Meski kerap diminta untuk mengisi kegiatan paduan suara, ketika sudah membicarakan kompetisi prosesnya tetap berbeda.

Ayub yang sudah tergolong senior di sekolahnya harus bisa mengajak adik-adik kelasnya agar tetap kompak. ”Teman-teman punya ego sendiri-sendiri. Ini yang kita atur agar bisa saling menahan untuk tetap kompak. Tapi tetap ketat supaya hasilnya maksimal,” ujar siswa kelas XII IPA 4 itu.

Berbeda dengan Ayub yang sudah dianggap senior, demam panggung sempat dirasakan Sofi Maria. Siswi kelas X IPS 3 itu sempat grogi ketika masuk tim dan harus turun dalam kompetisi.

Apalagi dirinya masih siswa baru yang belum begitu banyak jam terbangnya.

Selama latihan berlangsung, selain mengasah teknik dan koreografi, putri dari pasangan Arif Sanjaya dan Eka Setyaningrum itu mengaku terus berusaha membuang grogi. Beruntung selama latihan, para kakak kelas cukup aktif mengajari. Sofi yang awalnya grogi bisa semakin percaya diri. ”Kakak kelas aktif mengajari kita. Awalnya kita tidak percaya menang. Apalagi SMAN Rogojampi penampilannya bagus sekali,” imbuhnya.

Maldini Mulana Gunawan, siswa lainnya menuturkan, untuk bisa tampil dengan maksimal dia selalu menjaga diri agar tetap fit. Apalagi, latihan terus dilakukan selama sepekan kecuali hari libur. ”Latihannya selesai jam ketiga sampai pulang sekolah. Setelah itu kita pulang untuk istirahat,” ungkapnya.

Selama masa lomba, Maldini mengaku berusaha mempertahankan staminanya agar tetap prima. Meski tidak menghindari makanan atau minuman tertentu, setidaknya dia mengupayakan tetap istirahat dengan benar. ”Kemarin sempat sedikit drop, kemudian dikasih madu sama guru, sama rempah-rempah resep rahasia,” kata Maldini sambil tertawa.

Levia Anglyque Noveria, dirigen choir menambahkan, meski banyak waktu yang dihabiskan untuk berlatih, 30 anggotanya tetap bisa belajar. Pihak sekolah memberi kemudahan untuk bisa mengejar tugas-tugas yang mereka tinggal selama latihan. ”Kita tetap bisa semangat, tidak usah khawatir ketinggalan pelajaran,” ujarnya.

Selama fase penyisihan hingga final, pembina Choir SMAN 1 Banyuwangi Gede Budi Harta tak sekalipun tampak mendampingi para siswanya. Pria yang kerap kali menjadi MC di acara-acara seremonial itu mengaku selalu gemetar ketika melihat anak asuhnya berkompetisi. Karena itulah, selama proses kompetisi, dia memilih untuk tidak hadir. ”Saya tunggu saja hasil di koran. Tak tega kalau melihat langsung. Iya kalau menang, kalau kalah siapa tega,” ujarnya sambil terkekeh.

Meski demikian, Gede mengaku sangat senang. Apalagi selama ini proses latihan hingga teknis penampilan semuanya dikerjakan sendiri oleh para siswa. ”Semuanya digarap anak-anak. Yang senior mengajari adik-adiknya. Karena saling membimbing, Alhamdulillah lancar,” pungkasnya.

(bw/fre/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia