Rabu, 22 Jan 2020
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom

Nadiem, Sabarlah…

29 Oktober 2019, 17: 08: 27 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Nadiem, Sabarlah…

Share this          

Pikiran dan hati saya wurung ambyar. Probowangi Sabtu sore kemarin mempertemukan saya dengan Pak Tua. Dia bijak. Juga bernas. Punya cara mengusir kegalauan saya.

Rabu lalu anak muda brilian nan kaya, Nadiem Makarim, diamanahi Presiden Joko Widodo. Memangku jabatan menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud). Pendidikan tinggi, yang menjadi dunia saya sehari-hari, dikembalikan lagi ke pangkuan Kemendikbud. Maka bos GoJek itu akan menjadi bos saya juga. Baik sebagai pengajar perguruan tinggi maupun rektor kampus “merah-putih” Banyuwangi. 

Sesaat Nadiem disebut presiden, komentar nyinyir bertebaran di medsos. Meski banyak pula yang optimis. Saya termasuk yang semula galau. Tapi Pak Tua menyingkirkannya. “Nadiem itu usianya kan sudah 35 tahun. Sudah cukup siap untuk mengurus pendidikan,” kata Pak Tua, membuat saya mengerutkan dahi. Padahal menteri lain usianya rata-rata 50 tahun ke atas. Apalagi Nadiem akan mengurus soal pendidikan. Yang bukan hanya mencetak orang pintar dan trampil. Tapi juga berkarakter.

“Bayangkan, Mas,” lanjut Pak Tua, seperti membaca kegalauan saya. “Dibanding anak-anak muda yang merumuskan Sumpah Pemuda, yang amat sangat hebat itu, mereka rata-rata baru belasan dan dua puluhan tahun,” tegasnya dengan raut muka meyakinkan.

Agak aneh komparasi Pak Tua. Tapi menarik. Dan benar. Sumpah Pemuda adalah imajinasi masa depan nan hebat. Gagasan super visioner. Bukan pikiran ngawur. Kaya perpektif. Penuh ketajaman analisis terhadap dinamika masyarakat. Bukan hanya lokal. Tapi global. Berisi kekuatan prediksi masa depan. Sekaligus peneguhan tekat dan jatidiri. Bagi rakyat jajahan yang lokal, kedaerahan dan terpecah-pecah. Untuk menjadi  satu “bangsa”. Yang merdeka.

Sumpah Pemuda adalah ide, jiwa, tekat, dan tindakan untuk masa depan. Karya anak-anak muda. Maka anak-anak muda lah yang paling punya hak bicara. Mereka lah pemilik masa depan.

Maka apa hak saya meragukan Nadiem? Karena usia? Karena Nadiem bukan guru, dosen, atau orang yang sehari-hari menggeluti pendidikan? Bukankah kemendikbud selama ini dinahkodai orang-orang yang (dari segi usia) boleh dibilang tua? Bukankah bos kemendikbud selama ini selalu orang-orang perguruan tinggi?

Salahkah bila presiden menginginkan krida lain? Misal, agar antisipasi dunia pendidikan lebih cepat lagi terhadap dunia baru. Yang konon penuh disrupsi. Yang, sejauh saya ikuti, juga mulai jadi topik diskusi, ceramah, seminar, di kampus-kampus. Kata “revolusi industri 4.0” menghiasi acara di kampus-kampus Indonesia akhir-akhir ini.

Tapi orang-orang pendidikan, termasuk saya, baru tahap bingung. Baru belajar mengenali dunia yang konon penuh disrupsi. Baru ber-gesah. Itu pun baru sebagian kecil. Selebihnya tenang-tenang saja. Belum menyadarinya. Meski sehari-hari ke kampus naik GoJek. Meski suka belanja di Tokopedia. Meski putra-putrinya pelanggan Ruangguru.  Dan percepatan antisipasi itu pada tataran aksi ada pada Nadiem. Sang eksekutor muda, terpelajar, brilian, kaya. Lihai menerawang masa depan.

Saya kira, presiden sedang bertaruh. Tapi bukankah sejarah politik pada hakekatnya berisi sejarah pertaruhan? Besar ataupun kecil. Dan Nadiem dipertaruhkan. Kemampuan penerawangannya diuji. Kecepatan dan keberanian eksekusinya ditantang. Seperti halnya Soenario, J. Leimena, Soegondo Djojopoespito, M. Yamin, Amir Syarifuddin, W.R. Soepratman, dan tokoh lain. Saat berteriak “satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia”. Indonesia saat itu baru mimpi masa depan. Baru pernyataan. Belum kenyataan.

Nadiem sedang melangkah. Saya tak meragukannya. Melalui GoJek, Nadiem berhasil menyulap sumber daya pasif menjadi sumber daya aktif. Nadiem mempertontonkan kedahsyatan kata “kolaborasi” berbasis teknologi digital. Dan hasilnya spektakuler. Pak Presiden pun terkesima.

Nadiem tahu hati dan pikiran generasi yang kini ada di bangku sekolah/kampus. Generasi ber-DNA digital. Yang denyut nadinya menyatu dengan gawai. Yang mulai meninggalkan tradisi keberaksaraan produk mesin cetak. Yang telah memindahkan sebagian memorinya dari otak ke chip. Tentu dengan segenap karakter dan gaya hidup bentukannya.

Saya yakin Nadiem punya cara menggerakkan sumber daya. Terutama mengaktifkan sumber daya pasif di kemdikbud. Sebuah cara dengan kata kunci “kolaborasi”. Berbasis teknologi digital. Berkaca dari GoJek, saya tak meragukan. Kecepatan, kemampuan, dan keberaniaan eksekusi Nadiem pastilah top.

Tapi saya juga membaca sisi lain. Yang tak mudah buat Nadiem. Yakni, menaklukkan “sosok” lembaga pendidikan kita. Sosok itu, di mata saya, sudah bagaikan zombie. Serba menakutkan. Bukan menumbuhkan kreasi, tapi mematikan. Sosok itu terbentuk melalui proses panjang pascakolonial. Saling bercumbu antara politik birokrasi, pasar, dan feodalisme.

Simaklah anak-anak kita. Dari pagi hingga sore belajar di sekolah. Pulang sekolah harus les pelajaran ini-itu. Malam hari mengerjakan PR sekolah. Ketiduran, karena kelelahan. Lalu, tak jarang orang tua yang merampungkan. Agar sang anak tak kena hukuman.

Berangkat sekolah sering murung. Di sekolah pun kerap murung. Pulang sekolah masih murung. Banyak hal menakutkan. Materi ajar dan bebannya. Orang-orang dengan jiwa feodalnya. Sikap dan cara melayani anak. Bahkan sekolah/kampus belum juga bebas dari “ketakutan intelektual” warisan Orde Baru. Yakni larangan bacaan berbau “kiri”. Akibatnya sekolah/kampus juga menyingkirkan karya-karya para pendiri bangsa. Maka sekolah/kampus belum menjadi ruang kreatif. Buat melahirkan sintesis-sintesis. Sekolah/kampus baru menjalankan ritus-ritus akademik.

Di rumah pun ketakutan. Orang tua ikut-ikutan menjadi zombie. Anak dipaksa belajar mengikuti kehendak orang tua. Dipaksa ikut bimbel. Agar angka rapornya tinggi.

Saya berharap Pak Menteri Nadiem tak menjadi korban zombie. Sebaliknya kridanya bisa menghancurkan sosok zombie itu. Paling tidak meretakkan kepalanya. Gagasan dan daya eksekutor Pak Menteri tak akan mengubah apa-apa bila sosok zombie itu masih perkasa.

Saya catat petuah Pak Tua. Menjelang Probowangi berhenti di Stasiun Jember. “Melangkah lah anak muda dengan kedirianmu. Sabarlah… Sumpah Pemuda berujung kemerdekaan, karena kesabaran tokoh-tokohnya,” demikan Pak Tua. Saya pun mengamininya. *

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia