Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Festival Udang di Atas Batu Jadi Destinasi Wisata Baru di Banyuwangi

26 Oktober 2019, 08: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

JALA UDANG: Wabup Banyuwangi, Yusuf Widiyatmoko bersama jajaran Forpimda menangkap udang dengan jala di tambak udang Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari, kemarin (24/10).

JALA UDANG: Wabup Banyuwangi, Yusuf Widiyatmoko bersama jajaran Forpimda menangkap udang dengan jala di tambak udang Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari, kemarin (24/10). (Bagus Rio/RaBa)

Share this          

JawaPos.com - Festival Udang di Atas Batu yang digelar Dinas Perikanan dan Pangan (Disperipangan) Kabupaten Banyuwangi di tambak udang Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari berlangsung meriah, kemarin (24/10).

Dalam festival yang baru kali pertama digelar ini, para ibu nelayan dan PKK Kecamatan Blimbingsari menyuguhkan berbagai kuliner dengan bahan dari udang, seperti sate udang, pepes udang, oseng udang, udang bakar, udang geprek, dan lainnya.  “Ini sangat bagus untuk mengangkat potensi wisata di Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari,” ujar Wabup Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko.

Pembukaan Festival Udang di Atas Batu itu ditandai dengan menangkap ikan menggunakan jala oleh Wabup Yusuf Widyatmoko didampingi kepala Disperipangan Hery Cahyo Purnomo dan sejumlah kepala SKPD. Setelah itu, mereka ramai-ramai memanen udang di tambak sekitar Pantai Ria Bomo bersama pemilik cold storage, kelompok pembudaya ikan (popdakan), kelompok pengolah dan pemasar ikan (poplaksar), dan kelompok Shrimp Club Indonesia (SCI) Kabupaten Banyuwangi.

Usai memanen dan membersihkan udang, dilanjutkan demo memasak udang di atas batu cobek. Sedikitnya ada 30 peserta yang ikut dalam demo ini. Mereka memasak berbagai menu dengan bahan dari udang. “Festival ini untuk mengenalkan destinasi bahari di pesisir Pantai Blimbingsari yang dilengkapi dengan kuliner udang,” katanya.

Selama ini, terang dia, banyak orang yang tidak tahu kalau di Banyuwangi itu termasuk daerah produksi udang yang cukup tinggi. “Dengan dibukanya festival ini, secara otomatis menjadi identitas baru. Banyuwangi memiliki destinasi wisata yang menyuguhkan kuliner khas udang,” ujarnya.

Produksi udang di Banyuwangi ini, masih kata dia, sudah ada sejak tahun 1980. Produksi udangnya luar biasa dan telah ekspor ke Jepang dan Taiwan. “Produksi udang di Banyuwangi cukup tinggi, tahun 2018 mencapai 19.500 ton dengan luas tambak 1.300 hektare,” ungkapnya.

Kepala Disperipangan Banyuwangi Hary Cahyo Purnomo menambahkan, Festival Udang di Atas Batu ini digelar untuk mengenalkan masyarakat tentang wisata Pantai Ria Bomo. Di tempat ini, menyuguhkan kuliner udang dengan beragam olahan yang disajikan di atas batu cobek. “Dengan dibukanya festival ini, masyarakat di pantai ini bisa menyajikan menu udang olahan hasil tangkapan sendiri,” katanya.

Sebelum dilaksanakan festival ini, jelas dia, Disperingan Banyuwangi bekerja sama dengan Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) Bangsring, telah melatih masyarakat cara mengolah ikan dan udang dengan higienis. “Pesertanya rata-rata istri nelayan, kader PKK desa dan kelompok pemilik tambak,” terangnya.

Dalam pelatihan itu, jelas dia, para peserta diajarkan cara membuat diversifikasi usaha. Tak hanya menjual ikan dan udang dalam bentuk mentah, tapi mereka diedukasi cara membranding udang secara higienis. “Juga diajari masakan udangnya berkualitas, mulai dari membersihkan, membumbui hingga menyajikan makanan ala restoran,” ungkapnya.

Sebelum festival ini digelar, selama tiga hari masyarakat diajak mengadakan berbagai kegiatan. Selasa (22/10) kerja bakti, Rabu (23/10) pelepasan tukik, penanaman pohon Cemara di pantai, dan juga penebaran bibit ikan nila di kolam pembesaran taman wisata Pantai Bomo. “Ini edukasi untuk semua masyarakat, termasuk para nelayan, agar mereka bisa menjaga ekosistem yang ada,” jelasnya. (abi)

(bw/rio/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia